Bashar al-Assad dinilai Perancis tidak bisa tetap berperan jika ada solusi politik konflik di Suriah.(Reuters/Fahad Shadeed)
Laurent Fabius, yang menjabarkan tujuan Paris di Majelis Umum PBB, mengatakan meski tuntutan dia mundur bukan prasyarat untuk berunding, jelas terlihat bahwa politisi yang bertanggung jawab atas 80 persen kematian di Suriah tidak bisa memiliki peran di masa depan.
“Dalam beberapa hari terakhir banyak pernyataan terkait peran Assad dan apakah dia bisa atau harus menjadi elemen yang bisa menstabilkan Suriah,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (26/9).
“Yang sebenarnya terjadi adalah dia merupakan orang yang paling bersalah dalam kekacauan saat ini”.
Fabius mengatakan mendukung usul utusan khusus PBB Staffan de Mistura untuk menciptakan satu transisi politik berdasarkan Komunike Jenewa 2012, dokumen yang menjadi panduan jalan menuju perdamaian dan transisi politik di Suriah.
“Kita harus menggandakan upaya kita,” katanya sambil menambahkan bahwa dia akan membicarakan masalah ini dengan pemangku kepentingan lain seperti Amerika Serikat, Turki, Iran, Rusia dan Arab Saudi dalam beberapa hari ini.
Para diplomat mengatakan, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mencoba mendorong satu usul bagi solusi politik di Suriah dalam pertemuan di New York minggu ini.
Fabius mengatakan, perundingan minggu ini juga akan mencari penjelasan terkait kehadiran militer Rusia di Suriah. Dia jug amenambahkan jika kehadiran militer itu melebihi kapasitas membela kepentingannya, transisi politik di Suriah akan lebih rumit.
Menlu Perancis ini mengatakan negaranya akan mendorong perundingan kembali proses perdamaian antara Israel dan Palestina, dengan memperingatkan bahwa status quo hanya akan menguntungkan ISIS.
Paris mencoba mendirikan satu “kelompok kontak” internasional di PBB yang akan terdiri dari anggota Dewan Keamanan, negara-negara Arab dan Uni Eropa dengan tujuan menghidupkan kembali proses perdamaian itu.
“Perancis tidak akan menyerah. Tidak benar bahwa status quo akan bertahan,” ujarnya.
“Jika kita menunggu tanpa berbuat apapun, kita mengambil risiko membiarkan ISIS mengklaim Palestina sebagai salah satu perjuangannya,” kata Fabius.
Credit CNN Indonesia