Tampilkan postingan dengan label INTERPOL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INTERPOL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2019

Interpol dan FBI Bantu Investigasi Serangan Bom Sri Lanka


Interpol dan FBI Bantu Investigasi Serangan Bom Sri Lanka
Ilustrasi serangan bom di Sri Lanka. (REUTERS/Dinuka Liyanawatte)




Jakarta, CB -- Organisasi Polisi Kriminalitas Internasional (Interpol) dan Biro Investigasi Federal (FBI) membantu pemerintah Sri Lanka dalam melakukan investigasi terkait kasus serangkaian serangan bom yang terjadi pada Minggu (21/4).

Interpol akan mengirimkan tim yang memiliki spesialisasi pada pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP) dan bahan peledak, upaya melawan terorisme, serta identifikasi dan analisis korban. Keterlibatan Interpol dalam investigasi tersebut dilakukan atas permintaan pemerintah Sri Lanka.

"Ketika pihak berwenang Sri Lanka menyelidiki serang mengerikan ini, Interpol akan terus memberikan dukungan apa pun yang diperlukan," ujar Sekretaris Jenderal Interpol Jurgen Stock dalam pernyataan seperti dikutip dari CNN, Senin (23/4). 

Ia menegaskan keluarga para korban serangan bom, seperti halnya serangan teroris lainnya pantas mendapatkan dukungan penuh dari komunitas penegak hukum internasional.

Juru Bicara FBI juga menyebut pihaknya akan membantu Sri Lanka dalam melakukan investigasi atas serangkaian serangan bom tersebut. Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyebut sedikitnya empat warga AS tewas dalam serangan itu.

Rangkaian serangan yang terdiri dari delapan bom terjadi pada Hari Paskah (21/4) menewaskan 290 orang dan melukai ratusan orang lainnya. Ledakan terjadi di Kolombo, Negombo, dan Batticoloa. Sebagian besar korban jiwa adalah warga Sri Lanka. Namun, sedikitnya terdapat 39 turis yang tewas dalam serangan itu.

Pemerintah Sri Lanka telah mengeluarkan status tanggap darurat dan mengerahkan pasukan untuk melakukan operasi penyelamatan. Akses media sosial juga diblokir oleh pemerintah.

Hingga kini belum ada pihak yang mengklaim rangkaian serangan tersebut. Namun, polisi telah mengamankan 24 orang yang diduga terlibat.

Pemerintah Sri Lanka juga meyakini dalang di balik rangkaian serangan tersebut militan Islam lokal yang dikenal sebagai Jemaah Tauhid Nasional (NTJ). Sementara ejabat AS menyebut ada indikasi rangkaian serangan di Sri Lanka itu terinspirasi dari ISIS.


Credit  cnnindonesia.com



Jumat, 15 Maret 2019

Interpol Keluarkan Red Notice untuk Tersangka Pembunuh Khashoggi



Interpol Keluarkan Red Notice untuk Tersangka Pembunuh Khashoggi
Interpol mengeluarkan red notice untuk para tersangka pembunuh Jamal Khashoggi. Foto/Istimewa

ANKARA - Organisasi kepolisian kriminal internasional, Interpol, telah mengeluarkan red notice untuk mencari dan menahan sementara 20 tersangka pembunuh jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi. Demikian laporan televisi Turki, NTV.

"Red Notice dikeluarkan pada 1 Maret atas permintaan Kantor Kejaksaan Istanbul," kutip Sputnik dari media Turki, Jumat (15/3/2019).

Jamal Khashoggi bekerja sebagai kolumnis untuk surat kabar The Washington Post. Ia adalah kritikus vokal terhadap kebijakan Arab Saudi. Khashoggi dilaporkan hilang pada 2 Oktober setelah ia masuk Konsulat Arab Saudi di Istanbul.

Riyadh pada awalnya menyangkal mengetahui keberadaan wartawan itu, tetapi kemudian mengakui bahwa Khashoggi telah dibunuh dengan suntikan narkoba dan tubuhnya telah dipotong-potong serta dibawa keluar dari konsulat. Pada akhirnya, otoritas Saudi telah mendakwa 11 orang dengan pembunuhan Khashoggi.

Menurut Kantor Kejaksaan Istanbul, pembunuhan Khashoggi telah direncanakan sebelumnya. Turki mendesak Arab Saudi untuk mengekstradisi para pelaku kejahatan, serta memberikan informasi tentang lokasi jasad Khashoggi.





Credit  sindonews.com



Kamis, 22 November 2018

Kim Jong-yang Presiden Interpol yang Baru



Badan Kepolisian Internasional atau Interpol memilih Kim Jong-yang sebagai Presiden Interpol yang baru dengan masa jabatan dua tahun. Kim berasal dari Korea Selatan. Dia mengalahkan kandidat dari Rusia, Alexander Prokopchuk. Sumber: AP/usatoday.com
Badan Kepolisian Internasional atau Interpol memilih Kim Jong-yang sebagai Presiden Interpol yang baru dengan masa jabatan dua tahun. Kim berasal dari Korea Selatan. Dia mengalahkan kandidat dari Rusia, Alexander Prokopchuk. Sumber: AP/usatoday.com

CB, Jakarta - Badan Kepolisian Internasional atau Interpol memilih Kim Jong-yang sebagai Presiden Interpol yang baru dengan masa jabatan dua tahun. Kim berasal dari Korea Selatan. Dia mengalahkan kandidat dari Rusia, Alexander Prokopchuk.
Eropa dan Amerika Serikat sempat waswas jika Prokopchuk, unggul. Kedua kubu itu takut Moskow akan melakukan interfensi.
Interpol beranggotakan 194 negara. Pemilihan Presiden Interpol dilakukan dalam pertemuan tahunan di Dubai. Kim terpilih menggantikan Meng Hongwei dari Cina, yang menghilang pada September lalu dan mengundurkan diri setelah otoritas Beijing mengatakan dia dalam investigasi atas dugaan suap.


Terpilihnya Kim diumumkan Interpol melalui Twitter. Sebelumnya, Kim menjabat sebagai presiden sementara Interpol.
"Dunia sedang menghadapi perubahan yang tak diduga-duga, dimana ini merupakan tantangan besar bagi keamanan publik dan keselamatan. Untuk mengatasi itu semua, kita membutuhkan sebuah pandangan yang jelas, kita harus membangun sebuah jembatan bagi masa depan," kata Kim.

Kim, 57 tahun, tercatat pernah bekerja di Kepolisian Korea Selatan lebih dari 20 tahun. Dia pensiun pada 2015. Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, memberikan ucapan selamat kepada Kim karena berhasil mencatatkan diri sebagai orang Korea Selatan pertama yang menjadi orang nomor satu di Interpol.
Sedangkan kandidat lawan Kim, Prokopchuk, adalah seorang polisi berpangkat mayor jenderal dan satu dari empat Wakil Presiden Interpol. Prokopchuk ditakuti oleh Eropa dan Amerika Serikat terkait kemungkinan Rusia mengeksploitasi kekuatan interpol.





Credit  tempo.co




Korsel Jadi Presiden Interpol, Rusia Protes


Korsel Jadi Presiden Interpol, Rusia Protes
Ilustrasi )(REUTERS/Pawel Kopczynski


Jakarta, CB -- Interpol menunjuk kandidat dari Korea Selatan Kim Jong-yang sebagai presiden baru organisasi polisi internasional itu, Rabu (21/11). Rusia mengecam penunjukkan itu dan menyebut bahwa kandidat dari negaranya menerima "tekanan belum pernah terjadi sebelumnya" untuk memimpin Interpol. Kremlin menyatakan kecewa dan menyebut Prokopchuk diperlakukan tidak adil.

"Pemilihan itu terjadi di dalam tekanan dan campur tangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pemilihan ini," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan.

Semakin tinggginya seruan Barat Interpol untuk menolak kandidat asal Rusia Alexander Prokopchuk, menjadi pucuk pimpinan organisasi itu. Prokopchuk sendiri pernah menjabat di Kementerian Dalam Negeri Rusia dan menjadi wakil presiden Interpol saat ini. Namun,berkembang kekhawatiran kalau Moskow dapat menyalahgunakan kekuasaan mereka di Interpol untuk menargetkan lawan-lawan politik mereka.



Kim adalah presiden sementara Interpol, menggantikan presiden Interpol asal China Meng Hongwei yang menghilang saat dalam perjalanan kembali ke negara asalnya September lalu. Beijing kemudian mengatakan bahwa Meng mengundurkan diri akibat dituduh terlibat kasus suap di China.

Kim mendapat dukungan AS dan pemilihan dilakukan pada pertemuan delegasi dari negara-negara anggota di Dubai. Pertemuan itu merupakan pertemuan terbesar Interpol dengan 180 negara anggota, kata sekretaris jenderal Jurgen Stock.

Stock menyebut bahwa Interpol adalah badan yang "netral dan independen". Ia pun menyebut bahwa rincian dari pemungutan suara itu rahasia tidak akan dipublikasikan. Ia menyebut kalau pemilihan Kim adalah "demokratis, transparan, bebas dan jelas," kata Stock saat konferensi pers Dubai.

Dalam sebuah surat terbuka pekan ini, kelompok bipartisan senator AS memberikan tekanan atas pemilihan kepala Interpol. Menurut mereka jika Interpol Prokopchuk terpilih, hal itu akan seperti "menempatkan rubah yang bertanggung jawab atas kandang ayam".

"Rusia secara rutin menyalahgunakan Interpol untuk tujuan menyelesaikan skor dan melecehkan lawan politik, pembangkang dan jurnalis," tulis mereka.

Juru bicara Rusia Peskov menolak surat senator AS itu dan menyebutnya sebagai "contoh nyata" dari upaya untuk ikut campur dalam pemungutan suara.




Credit  cnnindonesia.com




Kandidat Unggulan AS Terpilih Menjadi Presiden Interpol


Kandidat Unggulan AS Terpilih Menjadi Presiden Interpol
Ilustrasi Interpol. (REUTERS/Edgar Su)



Jakarta, CB -- Setelah beberapa waktu tidak diisi, kini Interpol mempunyai presiden baru. Kim Jong Yang dari Korea Selatan yang diunggulkan Amerika Serikat terpilih menggantikan Meng Hongwei yang hilang di China pada September lalu.

Jong Yang mengalahkan kandidat dari Rusia, Alexander Prokopchuk pada pemilihan yang digelar Rabu (21/11).

Dilansir AFP, Jong Yang didukung oleh Amerika Serikat, terpilih dalam pertemuan delegasi dari seluruh negara anggota Interpol di Dubai. Dia menggantikan Meng yang sempat dikabarkan hilang, kemudian muncul dan mengundurkan diri setelah dituduh menerima suap.


Beberapa negara memberikan masukan kepada Interpol untuk menolak Prokopchuk, yang merupakan pejabat Kementerian Dalam Negeri Rusia dan wakil presiden Interpol saat ini. Penentangan paling keras datang dari Amerika Serikat.


Pemerintah AS beralasan jika Prokopchuk menyandang jabatan itu dikhawatirkan akan disalahgunakan oleh Rusia untuk menargetkan lawan-lawan politik pemerintah saat ini.

Pada Selasa (20/11) kemarin, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mendorong Jong Yang memimpin Interpol hingga 2020.

"Kami mendorong semua negara dan organisasi yang menjadi bagian dari Interpol serta yang meenghormati aturan hukum untuk memilih pemimpin dengan integritas. Kami percaya Kim akan seperti itu," kata dia kepada wartawan.

Berbagai kritik ditujukan kepada Rusia. Sebab, mereka melalui Interpol menargetkan lawan-lawan politik Presiden Rusia Vladimir Putin dengan menerbitkan surat perintah penangkapan internasional.


Setelah Meng mengundurkan diri, Interpol dipimpin oleh sekretaris Jenderal, Juergen Stock sementara waktu.




Credit  cnnindonesia.com




Rabu, 21 November 2018

Tolak Rusia, AS Dorong Korsel Jadi Kepala Interpol


Tolak Rusia, AS Dorong Korsel Jadi Kepala Interpol
Ilustrasi (REUTERS/Edgar Su)


Jakarta, CB -- Amerika Serikat mendorong calon dari Korea Selatan, Kim Jong Yang untuk memimpin badan polisi internasional Interpol. Hal ini diungkap oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Selasa (20/11). Hal ini disampaikan AS agar kandidat dari Kremlin tidak menjabat kedudukan itu untuk menggantikan posisi yang sebelumnya dipegang China itu.

"Kami sangat mendukung Kim Jong Yang untuk menggantikan Presiden (Interpol)," kata Pompeo kepada wartawan di Departemen Luar Negeri.

"Kami mendorong semua negara dan organisasi yang menjadi bagian dari Interpol dan yang menghormati aturan hukum untuk memilih pemimpin kredibilitas dan integritas yang mencerminkan salah satu badan penegak hukum paling kritis di dunia. Kami percaya Mr. Kim akan cocok," lanjut Pompeo.



Para anggota parlemen AS telah melobi pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menentang pencalonan Prokopchuk. Mereka menuduh bahwa Rusia telah menyalahgunakan Interpol.

Moskow disebut mencoba menggunakan badan kepolisian internasional itu untuk menyelesaikan persoalan interneal mereka untuk menangkap para pembangkang di negara itu dengan mengeluarkan surat perintah penangkapan.

Kim sempat ditunjuk sebagai pengganti Presiden Kepala Interpol pada bulan Oktober lalu setelah Presiden Interpol sebelumnya, Meng Hongwei menghilang. Ia dilaporkan menghilang ketika tengah dalam perjalanan ke negara asalnya di China dari Paris, lokasi markas Interpol. China menyatakan bahwa Hongwei sedang diselidiki terkait penyuapan dan pelanggaran lainnya.

Interpol yang bermarkas di Perancis belakangan mengatakan bahwa Meng mengundurkan diri sebagai presiden. dan Beijing mengatakan dia diusir dari sebuah badan penasehat yang penting tapi fungsinya sangat seremonial di parlemen.

Pertempuran untuk memajukan Meng sebagai presiden Interpol berubah menjadi politis setelah Prokopchuk, mantan jenderal besar di Kementerian Dalam Negeri Rusia, muncul sebagai salah satu kandidat favorit sebagai kepala. Sebuah prospek yang memicu kritik terhadap Presiden Vladimir Putin.

Pembangkang Rusia dan mantan taipan minyak Mikhail Khodorkovsky, bersama dengan kritikus Kremlin yang lahir di AS, Bill Browder membuat konferensi pers di London, Selasa (20/11). Dalam pertemuan tu keduanya memperingatkan bahwa terpilihnya Prokopchuk, akan mempermudah Kremlin untuk memanipulasi Interpol. Moskow telah menolak klaim tersebut.


Credit  cnnindonesia.com


Ukraina Tolak Pencalonan Perwira Rusia sebagai Bos Interpol


Ukraina Tolak Pencalonan Perwira Rusia sebagai Bos Interpol
Kementerian Dalam Negeri Ukraina menolak pencalonan perwira polisi senior Rusia, Mayor Jendral Alexander Prokopchuk untuk jabatan sebagai Presiden Interpol. Foto/Istimewa

KIEV - Kementerian Dalam Negeri Ukraina menolak pencalonan perwira polisi senior Rusia, Mayor Jendral Alexander Prokopchuk untuk jabatan kepala Organisasi Polisi Kriminal Internasional (Interpol).

Seperti diketahui, bulan lalu, Presiden Interpol, Meng Hongwei mengundurkan diri dari jabatannya karena pihak berwenang China mencurigainya melakukan sejumlah kejahatan, salah satunya adalah korupsi.

Dalam sebuah pernyataan, kementerian itu menuturkan jika Prokopchuk terpilih menjadi pemimpin Interpol, maka dia akan menggunakan posisinya untuk menghajar semua lawan politik Moskow, khususnya yang saat ini mencari perlindungan di luar negeri.

"Jika Alexander Prokopchuk menjadi Presiden Interpol, ini akan memungkinkan rezim Rusia untuk memperluas lebih lanjut praktik menggunakan 'pemberitahuan merah' untuk membatasi kebebasan bergerak dan untuk mengadili orang-orang yang dianggapnya tidak diinginkan," ucap kementerian itu,

"Dunia harus mengakui toksisitas rezim ini dan bekerja untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan, daripada melegalkannya, menunjuk perwakilan Rusia sebagai pemimpin Interpol," sambungnya, seperti dilansir Sputnik pada Senin (19/11).

Kementerian itu menambahkan, mereka bekerja secara intensif di Majelis Umum Interpol yang berlokasi di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) untuk mencegah Prokopchuk menjadi kepala organisasi itu.

Hubungan antara Moskow dan Kiev memburuk pada 2014 setelah referendum Krimea dan krisis di timur Ukraina. Pihak berwenang Ukraina menuduh Rusia mencampuri urusan internal Ukraina dan terlibat dalam konflik di Donbas.

Rusia telah berulang kali membantah tuduhan itu, menekankan bahwa mereka bukan pihak dalam konflik internal di Ukraina dan ingin negara itu untuk mengatasi krisis politik dan ekonomi. 



Credit  sindonews.com