Selasa, 25 Agustus 2015

Turki dan AS Akan Luncurkan Serangan Udara Melawan ISIS


Turki dan AS Akan Luncurkan Serangan Udara Melawan ISIS 
 (Ilustrasi Serangan Udara/Thinkstock/Purestock)
 
 
Jakarta, CB -- Turki dan Amerika Serikat akan segera meluncurkan serangan udara "komprehensif" untuk menggempur markas kelompok militan ISIS dari wilayah Suriah utara yang berbatasan dengan Turki.

Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu menyatakan bahwa pembicaraan rinci antara Washington dan Ankara terkait rencana ini telah diselesaikan pada Minggu (23/8). Sejumlah negara sekutu regional, termasuk Arab Saudi, Qatar, Yordania, Inggris dan Perancis diperkirakan juga ikut ambil bagian dalam serangan udara ini.

"Kemarin kami sepakat agar segera memulai operasi yang komprehensif melawan Daesh (ISIS)," kata Cavusoglu, dikutip dari Reuters, Senin (24/8).

Amerika Serikat dan Turki berencana untuk memberikan perlindungan udara bagi kelompok pemberontak Suriah yang dinilai moderat oleh Washington dan telah ambil bagian dalam operasi militer melawan ISIS di empat wilayah perbatasan sepanjang 80 km.

Para diplomat menyatakan bahwa memotong akses ISIS ke perbatasan Turki, yang selama ini kerap dinilai menjadi jalur utama untuk memasok pejuang asing dan persediaan, akan memberikan perubahan besar dalam skema melawan ISIS. Jet tempur AS sudah memulai serangan udara dari pangkalan Turki sebelum rencana tersebut.

Cavusoglu mengatakan operasi ini juga akan mengirimkan pesan dan tekanan kepada Presiden Suriah, Bashar al-Assad, agar bersedia berunding untuk mencari solusi politik sehingga perang saudara di Suriah dapat berakhir.


Ankara telah lama berpendapat bahwa perdamaian abadi di Suriah hanya dapat dicapai jika Assad lengser. Meski demikian, para pejabat AS memfokuskan serangan untuk memukul mundur ISIS, dan bukan tentara Assad.

"Tujuan kami adalah memberantas Daesh dari Suriah dan Irak. Jika tidak, stabilitas dan keamanan tidak akan tercipta," kata Cavusoglu, yang menggunakan istilah Daesh sebagai pengganti ISIS.

"Tapi menghilangkan akar penyebab masalah (di Suriah) juga penting, yang tentu saja berawal dari rezim (Assad)," kata Cavusoglu melanjutkan.

Kapten Angkatan Laut AS, Jeff Davis di Washington menyatakan bahwa AS dan para pejabat militer Turki telah mengadakan pembicaraan pada Minggu (23/8) untuk merundingkan rincian dalam mengintegrasikan pesawat tempur Turki dalam serangan udara koalisi internasional pimpinan AS melawan ISIS.

"Kami melihat dalam waktu dekat akan menyambut Turki dalam operasi koalisi serangan udara kami," kata Davis.

Milisi Kurdi

Cavusoglu menyatakan bahwa pasukan milisi Kurdi Suriah, PYD, yang telah menjadi sekutu militer Washington dalam menggempur ISIS, tidak akan turut berpartisipasi dalam kerja sama militer antara AS dan Turki, kecuali mereka mengubah kebijakan.

Ankara khawatir PYD dan sekutunya bertujuan untuk menyatukan kaum Kurdi di Suriah utara, dan menilai hal tersebut akan memicu aksi separatisme di antara kelompok Kurdi.

"Ya, PYD memang telah berjuang melawan Daesh. Tapi PYD tidak berjuang untuk mendapatkan integritas wilayah ataupun mengupayakan terciptanya kesatuan politik dari Suriah. Ini tidak bisa diterima," kata Cavusoglu.

"Kami lebih suka bahwa pasukan oposisi moderat mengontrol zona yang aman, atau daerah yang bebas Daesh, di bagian utara Suriah, bukan PYD, kecuali jika mereka mengubah kebijakan mereka seluruhnya, " ujar Cavusoglu.

Cavusoglu menyatakan bahwa baik Ankara maupun Washington telah menyampaikan pesan ini kepada kelompok PYD.

Turki memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan PYD, yang mengendalikan wilayah di pinggiran timur di zona aman yang diusulkan. Hal ini karena sejumlah pejabat di Ankara meyakini PYD memiliki ikatan yang mendalam dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang meluncurkan pemberontakan di Turki selama tiga dekade.

Cavusoglu mengatakan serangan udara militer Turki terhadap markas PKK di Irak utara dan tenggara Turki yang dimulai sejak bulan lalu, dapat terus berlangsung jika PKK tak juga menurukan senjata.

Credit  CNN Indonesia