Selasa, 25 Agustus 2015

Demi Usir AS dari Wilayah Asia, Tiongkok Berusaha Tiru Strategi Militer Rusia


Langkah Rusia untuk mengatasi kehadiran Angkatan Laut AS di Pasifik pada masa Perang Dingin sangat sederhana—anti-access dan area denial (A2/AD). Rusia mencari tahu apakah AL Amerika bisa diserang secara masif dengan rudal jelajah supersonik dari beragam platform. Kuncinya ada pada Armada Pasifik Moskow yang memiliki 800 kapal, didukung sistem aviasi maritim jarak jauh, kapal selam penyerang, serta pesawat yang dilengkapi dengan senjata elektronik.
China-Russia military exercise
Kapal perang Tiongkok meluncurkan misil selama latihan militer gabungan antara Rusia-Tiongkok di dekat Semenanjung Shandong di Tiongkok. Sumber:Reuters
Namun, kemerosotan AL Rusia dan aviasi maritim Rusia setelah Perang Dingin berakhir pada 1991 menciptakan kekosongan besar di Pasifik. Sekali lagi, AS kembali meraih wilayah Pasifik. Namun, dalam dunia geopolitik, saat satu kekuatan memudar, selalu ada negara lain yang siap mengambil alih posisi tersebut. Tiongkok masuk menggantikan Rusia.

Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA)—anak didik militer Rusia—berupaya meniru strategi militer saudara tuanya yang sukses di Pasifik. Beijing menggunakan strategis asimetris untuk menangkis tantangan Amerika, menghadapi kehadiran pasukan militer AS di Pasifik.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh pakar hubungan angkatan laut Ronald O’Rourke bagi Kongres AS, “Pasukan maritim Tiongkok A2/AD dapat dilihat sebagai analog dari pasukan anti-laut yang dikembangkan Uni Soviet pada masa Perang Dingin, yang bertujuan menangkis pasukan AL Amerika.”

Penggunaan pesawat pembom jarak jauh dengan rudal jelajah supersonik untuk menyerang kapal induk AS merupakan taktik kuno Rusia yang kini ditiru Tiongkok. Strategi gabungan Rusia yang merupakan campuran pesawat pengebom strategis dan taktis adalah ancaman kritis bagi kapal induk AL Amerika, dan strategi tersebut cocok dengan sistem antiakses milik Tiongkok.

Laporan O’Rourke yang berjudul ‘China Naval Modernization: Implications for US Navy Capabilities’ (Modernisasi Angkatan Laut Tiongkok: Implikasi terhadap Kapabilitas Amerika Serikat) menyebutkan bahwa misil balistik antikapal, rudal jelajah, kapal selam penyerang, serta kapal tempur bersenjata dan pesawat merupakan elemen kunci pasukan maritim A2/AD Tiongkok.

Menyerang target bergerak tak pernah mudah, karena saat misil tiba, kapal mungkin sudah bergerak sejauh puluhan mil. Namun, Tiongkok mampu menutup celah tersebut. “Perbedaan antara pasukan Soviet dan pasukan maritim Tiongkok adalah pasukan Tiongkok memiliki misil balistik antikapal yang mampu menyerang kapal yang sedang bergerak di laut,” tutur laporan Kongres AS.

Jika ilmuwan di Beijing sudah mengembangkan misil semacam itu, AS akan menghadapi tantangan besar bagi proyeksi kekuatan maritim mereka, tak hanya di Pasifik namun di seluruh dunia.

Rancangan di Atas Kertas, Bisakah Terwujud di Laut Luas?

Namun seberapa efektif rencana tersebut? Kapal induk AS terdiri dari puluhan kapal modern yang masing-masing memiliki sistem antimisil dan juga dipersenjatai untuk melindungi seluruh armada. Setiap pengangkut memiliki 90 jet tempur yang dapat mencegah kedatangan pesawat musuh mendekati kelompok tersebut. Selain itu, pesawat tersebut mempunyai sistem peringatan awal dapat memindai wilayah dengan radius setidaknya 300 kilometer. Bukankah itu sulit untuk dikalahkan?

Ya, jika Anda membaca petunjuk kapal atau selebaran Pentagon. Faktanya, tak ada kapal perang Barat—baik yang sudah ada maupun yang masih berupa rencana—yang mampu menghentikan rudal jelajah supersonik Raduga Kh-22 (julukan NATO: AS-4 Kitchen) atau versi yang lebih kecil, KSR-5. Faktanya, pada 1980-an, aviasi maritim Rusia sudah sangat percaya diri terhadap akurasi misil tersebut, hingga pesawat Rusia seperti Backfire hanya mengangkut satu buah Kh-22 yang dipersenjatai dengan hulu ledak nuklir.

Menurut pakar senjata Bill Sweetman dan Bill Gunston, misil tersebut bisa diprogram untuk memasuki jendela Pentagon. Akurasi mereka terus berkembang selama tiga dekade.

Air Power Australia (APA) menyebutkan, “Sejak itu kami belajar bahwa pesawat pembom Soviet, sistem senjata elektronik pendukung, serta misil balistik anti-kapal, bekerja lebih baik dari yang kami kira, dan misil balistik tersebut memiliki hulu ledak yang lebih mematikan dibanding yang diperkirakan pada periode Perang Dingin.”

Rencana Permainan Tiongkok

Tiongkok akan mengembangkan pasukan pesawat pengebom strategis yang mampu mencapai Australia dan Guam, keduanya merupakan markas militer besar Amerika. Apakah Tiongkok akan menggunakan pesawat pembom H-6 mereka yang sudah tua (tiruan dari pesawat Rusia Tu-16 Badger) atau mampu mendapatkan Backfire? APA memprediksi pasukan Tiongkok dapat meniru kemampuan pengintaian, penargetan, dan taktik serangan aviasi marinir Rusia.

Studi mengenai strategi aviasi dan doktrin angkatan laut Soviet tetap relevan hingga kini, lanjut APA. “Dalam konteks strategis, hal tersebut karena Tiongkok dan India mengadopsi struktur pasukan dan model doktrin Soviet. Dalam konteks teknis, sebagian besar sistem yang tersedia di pasar saat ini merupakan evolusi atau penerus dari desain Soviet.”

Tiongkok tak hanya membeli misil Rusia namun juga merekayasa rudal jelajah Rusia yang didapatkan diam-diam dari Ukraina. Modifikasi Tiongkok tentu akan menjadi ancaman besar bagi AL Amerika.

APA menyebutkan, “Sistem pemandu digital modern dan radar atau pemantau anti-radiasi, serta bahan bakar yang sudah dimodifikasi akan menghasilkan senjata dengan jangkauan yang lebih besar dan lebih mematikan dari analog aslinya. Bahkan aplikasi radar sederhana dapat mengurangi jangkauan deteksinya secara signifikan dan memberi kesempatan bagi kapal tempur untuk berlindung dari senjata-senjata ini, yang dengan kecepatan tinggi mereka, akan menciptakan masalah utama.”

Seberapa Dermawan Rusia?

Dalam pertaruhannya yang dahsyat untuk menetralisir kekuatan militer AS, Beijing mengincar senjata strategis Rusia. Seberapa banyak dukungan yang dapat diberikan Moskow? Sebelumnya, senjata strategis Rusia tak ditawarkan pada Beijing. Namun kini, karena Barat terus mengirim sanksi bagi Rusia, Moskow dapat mengubah haluan dan memasok Tiongkok dengan mainan besar seperti pesawat pembom Backfire dan kapal selam Akula (yang sebelumnya hanya dipasok untuk India).

“Hubungan Rusia dan NATO makin memburuk mungkin belum mencapai level Perang Dingin baru, namun jelas menggugah Rusia untuk mencoba ‘menyakiti’ AS,” tulis Robert Farley dalam National Interest.

Rusia telah membuka peluang penjualan sistem pertahanan udara S-400 yang akan menjadi batu loncatan besar bagi sistem A2/AD Tiongkok. S-400 membuat Tiongkok mampu melacak target di ruang udara Taiwan.

Namun, Tiongkok tertinggal jauh dari Rusia dalam teknologi kapal selam penyerang. “Kapal selam pasukan Tiongkok harus menjalankan misi yang kurang lebih sama dengan misi yang diemban oleh kapal Soviet pada masa Perang Dingin, namun kapal selam Tiongkok sangat bising dibanding milik Rusia, dan Tiongkok masih harus menyempurnakan kapal selam pemburu-pembunuh mereka yang mungkin akan berhadapan langsung dengan kapal selam tercanggih Amerika,” tulis Farley.

“Tentu, Rusia melindungi teknologi kapal selamnya di masa lalu, dan teknik produksi kapal selam merupakan proses industri yang tersulit untuk dikuasai, atau ditransfer. Namun, peminjaman Akula untuk India beberapa tahun terakhir menunjukan Rusia terbuka untuk hal semacam itu.”

Akhir Permainan

Menangkis pengaruh Amerika di Pasifik dan menegaskan status baru Tiongkok sebagai negara adidaya dunia merupakan dua tujuan kunci strategi Angkatan Laut Tiongkok di abad XXI.

Strategi Militer Tiongkok 2015, yang diluncurkan pada Mei 2015, memberi penekanan pada operasi maritim. “Penting bagi Tiongkok untuk mengembangkan struktur angkatan militer maritim modern bagi pertahanan nasional dan kepentingan mereka, menjaga kedaulatan nasional serta hak dan kepentingan maritim, kerja sama maritim internasional, serta menyediakan dukungan strategis untuk membangun kekuatan militernya sendiri.”

Seperti Jepang sebelumnya, Tiongkok ingin agar kekuatan Barat tak menjamah Asia. Tak seperti serangan kilat Jepang yang gagal total, Tiongkok memiliki strategi ‘mengiris salami’ untuk mencapai tujuan mereka. Sementara, dengan kegigihan AS, bersiaplah situasi akan memanas sebelum berubah menjadi lebih baik.


Credit  RBTH Indonesia