Jumat, 28 Agustus 2015

Mengintip Kecanggihan LAPAN A2, Satelit Buatan RI


Satelit dilengkapi sistem komunikasi mitigasi bencana dan maritim.


Mengintip Kecanggihan LAPAN A2, Satelit Buatan RI
Gambar satelit LAPAN A2 (www.pusteksat.lapan.go.id)
CB- Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin mengaku bangga karena Indonesia mampu merancang dan membuat satelit secara mandiri. Satelit yang dimaksud ialah LAPAN-A2 yang rencananya akan dikirim ke Chennai, India pada 3 September 2015. Berbeda dengan generasi sebelumnya, LAPAN-A2 ini murni buatan Indonesia yang dilakukan oleh para engineer Lapan. Mereka membuat satelit tersebut selama kurang lebih lima tahun.
"LAPAN-A2 ini murni dilakukan engineer Lapan dari pembuatan, penelitian dan perekayasanya sepenuhnya menggunakan fasilitas Lapan. Sebelumnya, LAPAN-A1 dibuat di Jerman dan di bawah bimbingan profesor Jerman juga," ujar Thomas kepada VIVA.co.id, Kamis, 27 Agustus 2015.
Selama pembuatan satelit tersebut, Lapan mengalokasikan anggaran sekitar Rp60 miliar. Dana itu digunakan untuk pembuatan hingga peluncurannya nanti di India.
Thomas menjelaskan, satelit lokal ini dilengkapi sejumlah teknologi mutakhir, di antaranya mampu mengobservasi permukaan bumi menggunakan kamera video, kamera digital, serta peralatan sistem identifikasi otomatis (AIS) untuk pemantauan kemaritiman.
Satelit generasi kedua ada sejumlah penambahan komponen mengena radio amatir. Hal ini menjadi yang pertama dilakukan dengan bekerjasama antara Lapan dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari).
LAPAN-A2 ditanamkan sistem komunikasi untuk keperluan mitigasi bencana dengan menggunakan radio amatir melalui voice repeater dan automatic packet reporting system (APRS).
"LAPAN-A2 misi utamanya yang menentukan sepenuhnya dilakukan oleh Lapan. Kerja sama dengan Orari itu penambahan muatannya saja," ujarnya menambahkan.
Bobot satelit ini mencapai 78 kilogram dengan kemampuan mengorbit di atas 650 kilometer dari permukaan bumi. Nantinya, LAPAN-A2 akan beroperasi orbit near equatorial dan mampu melintasi wilayah Indonesia sebanyak 14 kali setiap harinya.