Senin, 31 Agustus 2015

Melongok Industri Kereta Api Cepat Tiongkok

Kereta Api Cepat EMU yang dikembangkan Tiongkok dengan laju kecepatan 250 km/jam.
Kereta Api Cepat EMU yang dikembangkan Tiongkok dengan laju kecepatan 250 km/jam. (Beritasatu.com/Marcha Nurliana) 


Beijing (CB) - Industri kereta api di Tiongkok telah berkembang pesat. Dalam 10 tahun terakhir ini, pembangunan kereta api berkecepatan tinggi atau high speed train (HST) di Tiongkok telah mencapai terobosan bersejarah. Taraf teknologi kereta cepat Negeri Tirai Bambu ini pun telah memasuki tahapan paling maju di dunia.
Perkembangan pesat industri kereta api Tiongkok dimulai pada 2004 ketika pemerintah meluncurkan Rencana Jaringan Jalan Kereta Api Dalam Jangka Menengah dan Panjang. Dalam cetak biru (blue print) itu digariskan tentang rencana besar pemerintah Tiongkok membangun jaringan jalan kereta api “Empat Garis Vertikal dan Empat Garis Horizontal”. Empat tahun kemudian, tepatnya pada Agustus 2008, Tiongkok berhasil mengoperasikan kereta cepat pertama untuk rute Beijing-Tianjin dengan laju 350 km per jam. Kini, jaringan kereta cepat di Tiongkok telah melayani 34 rute.
Hingga Juli 2015, jarak total jalan kereta api cepat yang beroperasi di Tiongkok telah melampaui 17.000 kilometer (km) dan sampai akhir 2015 diperkirakan mencapai 19.000 km. Angka itu merupakan 60% dari seluruh jaringan kereta cepat di dunia. Dari jumlah tersebut, sepanjang 9.600 km dilintasi kereta dengan kecepatan di atas 300 km per jam atau setara 66% dari kereta yang berkecepatan di atas 300 km per jam di seluruh dunia.
Teknologi kereta cepat Tiongkok juga sangat lengkap, yakni sudah berhasil membangun dan mengelola kereta cepat dalam berbagai macam kondisi geologis, baik iklim tropis maupun iklim dingin. Misalnya di Provinsi Hainan sudah dibangun jalur kereta cepat sapanjang 308 km dengan kecepatan 350 km per jam, dan sudah beroperasi secara aman selama 5 tahun. Iklim Provinsi Hainan yang termasuk tropis sangat mirip dengan iklim Indonesia.
“Kami memiliki manajemen perkeretaapian yang kompeten dan pengalaman dalam konstruksi kereta,” kata Chief Engineer China Railway Corporation (CRC) He Huawu saat menerima kunjungan sejumlah wartawan Indonesia di kantornya di Beijing, Tiongkok, 21 Agustus lalu.
Rombongan wartawan dari Indonesia pun mendapat kesempatan menikmati perjalanan dengan kereta cepat dari Beijing ke Shanghai dengan jarak 1.318 km dan kecepatan rata-rata 300 km per jam. Sesuai namanya, kereta api kecepatan tinggi memperpendek waktu perjalanan antarkota. Jarak sejauh itu ditempuh dalam waktu kurang dari 5 jam. Padahal, rute Beijing-Shanghai sebelumnya dicapai dalam waktu 11 jam 22 menit.
Saat ini, kereta api kecepatan tinggi yang beroperasi di Tiongkok memiliki dua tingkat laju, yaitu laju 200-250 km per jam dan laju 300-350 km per jam. Keistimewaan kereta api kecepatan tinggi tidak hanya cepat, tetapi juga tepat waktu. Tingkat ketepatan waktu kereta api kecepatan tinggi Tiongkok pada 2014 sekitar 99,6%.
Sedangkan dari sisi daya angkut, sejauh ini lebih dari 3.000 kereta api berkecepatan tinggi beroperasi setiap hari, dengan mengangkut penumpang sebanyak 3 juta orang. Data China Railway menyebutkan, pada periode 2007-2014 jumlah total penumpang yang diangkut kereta cepat telah mencapai 3,11 miliar orang, sedangkan persentase jumlah total penumpang telah naik menjadi 37,3% dari 4,3%. Sementara tahun lalu kereta cepat Tiongkok mampu mengangkut 915 juta penumpang dari total hampir 1,7 miliar penumpang di seluruh dunia.
Untuk meningkatkan kenyamanan dalam perjalanan, Tiongkok telah menciptakan banyak teknologi canggih, seperti rel baja presisi tinggi, rel kereta api mulus, jalan ballastless, dan persimpangan rel. Hal ini menjamin kereta dapat beroperasi lancar, sehingga penumpang merasa stabil dan nyaman. Kereta cepat juga dilengkapi dengan tempat duduk yang lembut, jendela besar, dan sistem AC otomatis. Di dalam kereta juga tersedia area penyimpanan kursi roda, meja bayi, toilet orang cacat, untuk memenuhi permintaan penumpang yang berbeda. Kereta cepat Tiongkok juga dapat sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan pengangkutan yang berbeda, misalnya suhu terendah -40 derajat Celcius dan tertinggi +40 derajat Celcius.
Perkembangan pesat kereta api berkecepatan tinggi Tiongkok juga telah mempercepat proses urbanisasi dan perkembangan koordinasi regional. Pembukaan jalur kereta cepat juga dapat mempercepat aliran orang dan logistik, sehingga biaya logistik menurun secara efektif. Dibandingkan tahun 2007, jumlah transportasi kargo kereta api di seantero Tiongkok meningkat sebesar 681,54 juta ton pada 2014 atau naik 21,8%.
Keselamatan Penumpang
Untuk menjamin keselamatan (safety) operasional kereta cepat, Chief Engineer China Railway High-speed (CRH) Du Jiang Bo mengatakan, pihaknya melakukan pemeriksaan setiap hari untuk melihat kondisi kereta setelah dioperasikan. “Maintenance dilakukan terhadap semua fasilitas kereta di Depo CRH yakni persinyalan, pintu, rem dan lainnya,” ujar Du Jiang.
Dia juga mengatakan, dengan dukungan total 2.200 pekerja di Depo CRH, semua perjalanan kereta cepat dapat dipantau dari pusat kendali di kantor CRH. “CRH melakukan inspeksi dengan tiga level. Level inspeksi tertinggi adalah level 3. Namun, inspeksi ini bukan karena ada masalah, melainkan sudah kegiatan rutin,” ujar dia.
Dia menambahkan, pemeriksaan dilakukan untuk mengecek kondisi kereta setelah melakukan perjalanan 48 jam, seperti fisilitas AC, toilet, kursi, dan lainnya. Inspeksi juga dilakukan terhadap komponen kunci (key part) kereta untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta.
Kereta cepat Tiongkok dilengkapi dengan sistem pengawasan dan sistem pemeliharaan termasuk sistem peramalan gempa bumi. Saat ini, di Tiongkok setiap hari terdapat 7.000 pasang kereta api dua jalur beroperasi, di antaranya 3.000 pasang termasuk kereta cepat. Menurut data International Union of Railways (IUC), selama 10 tahun terakhir operasi kereta api Tiongkok memelihara status aman dan stabil yang terbaik.
Siap Garap Jakarta-Bandung
Sebagai salah negara yang memiliki pengalaman dalam operasional kereta cepat, Tiongkok sangat serius ingin mengerjakan proyek kereta cepat rute Jakarta-Bandung. Proposal penawaran untuk mengerjakan jalur KA sepanjang 150 km bernilai sekitar Rp 60 triliun itu pun sudah diajukan. Bahkan, Presiden Tiongkok Xi Jinping telah mengutus Menteri Komisi Pembangunan dan Reformasi Republik Rakyat Tiongkok Xu Shaoshi untuk melobi pihak Indonesia. Xu diutus untuk menemui Presiden Joko Widodo dan sekaligus menyerahkan laporan studi kelayakan kereta cepat.
Ketika dikonfirmasi, Chief Engineer China Railway Corporation (CRC) He Huawu menegaskan, pihaknya siap menggarap proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. “Kami akan memberi transfer teknologi. Kami bisa bekerja sama dengan pihak Indonesia dalam hal konstruksi dan pengoperasian kereta cepat,” tambah dia.
He Huawu mengatakan, pihaknya akan membentuk perusahaan patungan dengan perusahaan Indonesia dengan porsi kepemilikan saham yakni 60% untuk Indonesia dan 40% untuk Tiongkok. Di samping itu, dia juga menjanjikan kandungan lokal (local content) sebesar 60% terutama untuk meterial dan permesinan kereta cepat. “Kami akan menjalin kerja sama dengan perusahaan PT Inka untuk pembuatan kereta cepat,” ujar dia.
Pendanaan untuk proyek patungan ini, lanjut He, akan bersumber dari institusi keuangan Tiongkok dengan porsi pendanaan dari pinjaman sebesar 70%.
Sedangkan untuk pengoperasian kereta cepat, lanjut He, pihak Tiongkok bersedia menjalin kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI). “Kami siap menerima staf dari Indonesia ke Tiongkok untuk belajar tentang manajemen kereta cepat. Kami juga akan merekrut orang Indonesia untuk mengoperasikan jalur kereta cepat Jakarta-Bandung sebagai proyek untuk memberi pengalaman kepada pihak Indonesia,” ucap dia.
Jika proyek kereta cepat Jakarta-Bandung senilai Rp 60 triliun tersebut diwujudkan, jarak kedua kota ini yang mencapai 150 km akan ditempuh dalam waktu sekitar 36 menit.
"Saya yakin kerja sama dengan perusahaan Indonesia akan sukses," tegas He Huawu.
Lalu, apakah Indonesia akan menerima teknologi kereta cepat dari Tiongkok atau dari Jepang? Jawabannya akan kita ketahui setelah Tim Penilai terhadap proposal proyek kereta cepat rute Jakarta-Bandung yang diajukan Jepang dan Tiongkok menuntaskan tugasnya, Senin (31/8).


Credit  beritasatu