Rabu, 24 Februari 2016

Rudal AS di Korsel Bisa Perburuk Hubungan Seoul-Beijing


Rudal AS di Korsel Bisa Perburuk Hubungan Seoul-Beijing  
Hubungan antara Korut dan Korsel memang kian panas setelah Pyongyang meluncurkan roket pada awal Februari lalu. (Reuters/Yonhap)
 
Jakarta, CB -- Duta Besar China untuk Korea Selatan, Qiu Guohong memperingatkan bahwa pengerahan sistem rudal pertahanan canggih buatan AS di Korea Selatan dapat merusak hubungan Beijing dan Seoul, yang mungkin tidak akan dapat diperbaiki lagi.

Menurut juru bicara kelompok oposisi utama Korsel, Partai Minju, Qiu memaparkan bahwa jika hubungan Seoul-Beijing rusak, akan sangat sulit untuk menormalkan hubungan kedua negara yang merupakan bekas musuh selama Perang Dingin. Pernyataan Qiu itu terlontar ketika dia bertemu kepala partai Minju, Kim Jong-In di parlemen pada Selasa (23/2).

"Telah banyak upaya untuk mengembangkan hubungan China-Korea Selatan hingga ke tahap ini. Tapi upaya ini bisa hancur dalam sekejap karena satu masalah," kata Qiu mengacu pada rencana pengerahan sistem pertahanan rudal AS di Korea Selatan.

China berulang kali mengajukan protes atas rencana Washington dan Seoul untuk menempatkan satu unit sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) di Korsel, untuk mengantisipasi ancaman rudal Korea Utara.

Namun, komentar Qiu itu menandai kali pertama diplomat China memperingatkan penempatan rudal itu akan berpengaruh kepada hubungan diplomatik Beijing dengan Seoul.

Qiu mengulangi argumen Beijing bahwa penyebaran THAAD akan "sangat merusak" kepentingan keamanan China, menyebabkan ketidakstabilan dan memicu perlombaan senjata regional.

"(Korea Selatan) harus mempertimbangkan apakah keamanannya sendiri, dalam situasi seperti ini, bisa terjamin," kata Qiu.

Dalam Perang Korea periode 1950-1953, China membantu Korea Utara untuk melawan Korea Selatan dan sekutunya.

China baru menjalin hubungan diplomatik dengan Seoul pada 1992, dan kini menjadi mitra dagang utama Korsel.

Kementerian Pertahanan Korea Selatan sebelumnya mengumumkan bahwa Washington dan Seoul menunda pembicaraan soal pengerahan sistem rudal pertahanan canggih yang ditentang oleh Beijing. Penundaan ini sehubungan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri China ke AS untuk berdiskusi soal sekutunya, Korea Utara.

Sistem THAAD mampu meluncurkan rudal anti-balistik ke langit untuk menghancurkan ke rudal musuh baik dari di dalam atau di luar atmosfer bumi di tingkat akhir penerbangan. Namun, rudal pencegat itu tidak membawa hulu ledak dan hanya mengandalkan energi kinetik untuk menghancurkan target mereka.

Lebih dari dua pekan lalu, Korsel dan AS mengumumkan niat mereka untuk memulai pembicaraan soal pengerahan sistem THAAD menyusul uji coba rudal balistik Pyongyang pada awal Februari lalu. Namun, negosiasi untuk meluncurkan kelompok kerja bersama tak juga mencapai kesepakatan.

Juru bicara kementerian luar negeri China, Hua Chunying peringatan pada Senin (22/2) bahwa sistem itu tidak boleh digunakan sebagai upaya untuk "melemahkan kepentingan (keamanan) China."

Kementerian Pertahanan Korea Selatan menegaskan pada Selasa bahwa sistem pertahanan rudal AS hanya menargetkan Korea Utara dan bahwa pengerahan sistem rudal itu merupakan urusan antar kedua sekutu.

Kemenhan Korsel berharap pembicaraan resmi soal sistem THAAD akan kembali untuk dimulai pekan depan setelah kedua belah pihak mendirikan kelompok kerja bersama akhir pekan ini.





Credit  CNN Indonesia