Selasa, 23 Februari 2016

Inikah Kereta Cepat China yang Diinginkan Indonesia?


 
KOMPAS.com / Bambang PJ Kereta cepat China terparkir di stasiun Guangzhou, Rabu (17/2/2016)
 
CB - Musim semi yang masih menyisakan hawa dingin di Liuzhou Provinsi Guangxi, China tak menghentikan rencana Chen Mei Li bepergian ke Guangzhou.

Dia adalah mantan polisi. Perempuan muda itu memilih resign dari pekerjaannya karena tak memiliki harapan mendapatkan gaji yang lebih baik. Sementara, kebutuhan makin mencekik.

Uang pesangon yang dia terima dari Departemen Kepolisian China hanya cukup untuk hidup selama 2 tahun di kota tersebut. Untuk itu, dia memilih keluar dari China dan mencari peruntungan di negara lain.

Chen hijrah ke Australia dan mendaftar sebagai mahasiswa di sana. Uang pesangon yang diterima, dipakai untuk membiayai studinya.

Pagi itu, dia harus segera ke Konjen Australia di Guangzhou guna mengambil visanya yang telah keluar. Untuk menempuh jarak sekitar 500 kilometer, dia memilih kereta cepat.

Chen merasa beruntung negaranya punya kereta cepat. Bukan sebuah proyek mercusuar. Namun infrastruktur itu memang sangat dibutuhkan.

Urusan maha penting bisa segera diselesaikan. Demikian juga dengan urusan visa ke Australia. Dia bisa segera merampungkan proses administrasi tanpa mengalami hambatan jarak.

"Dengan kereta cepat, kami bisa bepergian dari satu daerah ke daerah lainnya dengan lebih cepat. Produktivitas kami, warga China, juga semakin meningkat," ujarnya pekan lalu.

Dalam waktu sekitar 4 jam, dia sudah sampai di Guangzhou. Ini jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan kereta biasa, yang membutuhkan waktu antara 10-12 jam.

Di akhir pembicaraan, dia menyatakan ikut senang bahwa Indonesia akan segera memiliki kereta cepat seperti di negaranya.

Disambut hangat

Berbeda dengan di Indonesia yang masih tarik ulur, kehadiran kereta cepat di China sungguh mendapatkan respon luar biasa.

KOMPAS.com / Bambang PJ Penumpang kereta cepat yang tak mendapatkan kursi harus berdesakan dalam gerbong. Saat itu kereta melaju dengan kecepatan 206 km per jam dari Liuzhou ke Guangzhou, Sabtu (20/2/2016).


Penumpang rela berjejal dan tak mendapatkan kursi agar bisa segera mencapai tujuan. Sebagian besar dari mereka berdiri di bordes (lorong pintu dekat sambungan gerbong).

Seperti yang terlihat pada pagi itu. Warga yang baru saja merayakan tahun baru China, mulai kembali ke kota. Kebanyakan dari mereka adalah para penduduk desa maupun sub-urban yang tinggal di sekitar pusat pertumbuhan ekonomi.

Pemandangan itu makin kentara saat memasuki akhir pekan. Tekanan kerja yang semakin berat membuat banyak pekerja di perkotaan sesegera mungkin pulang ke kampungnya ketika pekerjaan selesai.

Jumlah penumpang kereta cepat terus bertambah. Mengutip catatan Wikipedia.org, saat diinisiasi pada 2007, jumlah penumpang yang diangkut kereta cepat di China baru sebanyak 237.000 orang per hari.

Di akhir 2014, jumlah penumpang melonjak hingga 2,49 juta per hari. Sekaligus, membuat layanan kereta cepat China menjadi yang paling sibuk di dunia.

Pemerintah China memahami kondisi ini. Tak tanggung-tanggung, jaringan kereta cepat terus ditambah untuk membantu pergerakan masyarakat. Hingga Januari 2016, panjang jalur kereta cepat di negara ini telah melampaui 19.000 km .

Panjang jalur itu setara dengan jalur kereta cepat di seluruh dunia di luar China yang digabungkan menjadi satu.

Ke depan, panjang jalur kereta ini akan terus ditambah hingga 30.000 km pada 2020. Sekaligus, jaringan kereta cepat China menyalip Jepang yang lebih dulu mengembangkan moda transportasi ini pada 1960an.

 
KOMPAS.com / Bambang PJ Jalur kereta cepat yang tengah dibangun, Sabtu (20/2/2016)


Di Guangzhou misalnya. Beton-beton dan jalan layang untuk kereta cepat sudah mulai dibangun. Jaringan baru terus dikembangkan sehingga mobilitas warga China bisa lebih dimaksimalkan.

Tak hanya itu, wilayah yang dilintasi jalur kereta cepat ini terlihat bergeliat. Proyek-proyek properti mulai tumbuh di daerah yang dulunya perdesaan.

Memang tak dimungkiri, bahwa kereta cepat di China hadir karena didorong faktor demand. Kehadiran kereta cepat memang sangat dibutuhkan untuk menopang laju ekonomi yang digerakkan oleh industri, ekspor dan investasi langsung.

Kereta ini hadir ketika pertumbuhan ekonomi China sedang tinggi-tingginya, yakni di atas 10 persen.

Lantas untuk Indonesia, apakah kondisinya yang sama dengan China, sehingga kereta cepat perlu segera dibangun?




Credit  KOMPAS.com