Selasa, 17 Juli 2018

Warga Net Serukan Prancis Akhiri Xenofobia dan Islamophobia



Selebrasi tim Prancis yang berhasil meraih Piala Dunia 2018 usai mengalahkan Krosia dengan skor 4-2.
Selebrasi tim Prancis yang berhasil meraih Piala Dunia 2018 usai mengalahkan Krosia dengan skor 4-2.
Foto: Reuters

Dua dari empat gol yang disarangkan Prancis berasal dari imigran Afrika




CB, PARIS — Warga net menyerukan untuk mengakhiri xenofobia dan Islamopobia di seluruh dunia, terutama Prancis. Seruan itu datang usai migran dan seorang Muslim yang tergabung dalam tim nasional Prancis, membawa negara itu menjadi juara dunia 2018.


Dilansir di Daily Sabah pada Senin (16/7), Prancis meraih kemenangan Piala Dunia 2018 kedua kalinya berkat gol dari para migran dan seorang Muslim. Saat itu, sejumlah penggemar dan penonton menyerukan perlunya negara tersebut merayakan kemenangan di dalam dan luar lapangan.

Seringkali dalam sorotan untuk kebijakan sosial menyoal xenophobia dan Islamofobinya, Prancis tampaknya tidak keberatan ketika berhubungan dengan pemain bola yang baik. Sebanyak 78,3 persen pemain yang tergabung dalam tim nasional merupakan imigran. Sementara sepertiganya adalah Muslim.


Jumlah Muslim itu adalah persentase tertinggi di antara setiap tim Piala Dunia tahun ini. Imigran memiliki prosentase sebanyak 6,8 persen dari total populasi Prancis.


Dari empat gol yang dicetak Perancis melawan Kroasia, dua gol dihasilkan putra-putra imigran Afrika, Paul Pogba yang orang tuanya berimigrasi dari Guinea, serta Kylian Mbappe yang ibunya adalah warga Aljazair dan ayah Kamerun. Pogba adalah satu dari tujuh Muslim yang membela Prancis.


Penggemar sepak bola dengan cepat membahas kemenangan itu di media sosial Twitter. Mereka meminta Prancis mengakhiri “kemunafikan” dan mengakui peran mendasar imigran dan Muslim.


"Dengan Prancis yang meloloskan semua undang-undang ini terhadap praktik-praktik Islam, jangan lupakan itu para pemain Muslim yang sama membantu memenangkan # WorldCup2018," tulis salah satu pengguna Twitter @atoma019.


Pengguna Twitter lain menyebut kebijakan Prancis yang munafik terhadap para migran dan Muslim, malah "memalukan" dengan adanya kemenangan itu. Beberapa warga net menyerukan Prancis mengakui kemenangan itu sebagai sinyal mengadopsi kebijakan yang menegakkan hak dan martabat migran dan Muslim.


"Orang Afrika dan Muslim mengirimi Anda Piala Dunia kedua, sekarang beri mereka keadilan," tulis beberapa pengguna Twitter.


Warga net berkicau dukungan terhadap imigran dan Muslim di negara tersebut, seperti, imigran membuat Prancis lebih kuat, imigran mendapatkan pekerjaan.


Kemenangan Prancis pada Ahad (15/7) adalah yang pertama dalam 20 tahun, setelah menang di kandang sendiri pada 1998. Itu adalah final dengan skor tertinggi sejak Inggris mengalahkan Jerman Barat 4-2 setelah perpanjangan waktu pada 1966. Serta, tertinggi dalam waktu normal sejak Brasil mengalahkan Swedia 5-2 pada 60 tahun lalu. 



Credit  republika.co.id