Jumat, 06 Juli 2018

Amerika Serikat Bersumpah Jaga Perairan Teluk, Iran Mengancam



Dua helikopter Angkatan Laut Amerika terbang di atas kapal cepat Garda Revolusi Iran yang mendekati kapal induk USS George H. W. Bush di Selat Hormuz, 21 Maret 2017.  REUTERS/Hamad I Mohammed
Dua helikopter Angkatan Laut Amerika terbang di atas kapal cepat Garda Revolusi Iran yang mendekati kapal induk USS George H. W. Bush di Selat Hormuz, 21 Maret 2017. REUTERS/Hamad I Mohammed

CB, Jakarta - Amerika Serikat bersumpah akan tetap menjaga keamanan perairan Teluk untuk keselamatan pengiriman minyak meskipun mendapatkan ancaman Iran yang akan menutup wilayah tersebut.
Kapten Bill Urban, juru bicara Komando Sentral Militer AS, mengatakan kepada kantor berita Associated Press, Rabu, 5 Juli 2018, Angkatan Laut AS dan sekutunya siap membebaskan pelayaran dan perdagangan di Teluk sebagaimana diizinkan hukum internasional.

Kapal cepat Penjaga Revolusi Iran mendekati tiruan kapal induk Amerika Serikat, dalam latihan di Selat Hormuz, Teluk Persia, 25 Februari 2015. AP/Fars News Agency, Hamed Jafarnejad
Sikap AS tersebut terkait dengan pernyataan Presiden Iran Hassan Rouhani, Selasa, 3 Juli 2018, yang mengindikasikan negaranya dapat menghentikan ekspor minyak negara-negara regional Timur Tengah jika Iran dilarang ekspor minyak setelah AS membatalkan kesepakatan nuklir yang diteken enam negara superkuat pada 2015.
Laporan Al Jazeera, mengatakan, beberapa pejabat Iran, sebelumnya, menyampaikan ancamannya memblokir Selat Hormuz, salah satu rute pelayaran minyak terbesar, sebagai balasan atas aksi AS terhadap Iran.

Seorang Tentara Penjaga Revolusi Iran berteriak sambil mengepalkan tangannya, setelah tiruan kapal induk Amerika Serikat hancur dihantam rudal dalam latihan di Selat Hormuz, Teluk Persia, 25 Februari 2015. dailymail.co.uk
"Kami siap mencegah pengiriman minyak oleh negara-negara regional jika penjualan minyak Iran dilarang AS," kata Mayor Jenderal Qaseem Soleimani, Komandan Pengawal Revolusioner Iran, Rabu.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Nader Hashimi, Direktur Studi Timur Tengah di Universitas Denver, mengatakan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan dengan cara pendekatan keras. Hal itu membuat Iran bersikap melawan dengan mengeluarkan ancaman.




Credit  tempo.co