Kamis, 31 Agustus 2017

Sekjen PBB Dukung Terbentuknya Negara Palestina


Sekjen PBB Dukung Terbentuknya Negara Palestina
Sekjen PBB Antonio Gutteres melakukan kunjungan ke Jalur Gaza untuk pertama kalinya. Foto/Istimewa


GAZA - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan bahwa ia bermimpi untuk melihat Jalur Gaza menjadi bagian dari satu negara Palestina yang berdaulat. Itu dikatakannya saat melakukan kunjungan ke Jalur Gaza untuk pertama kali.

"Saya bermimpi melihat sebuah negara Palestina hidup dalam situasi damai dan aman berdampingan dengan Israel, dan saya bermimpi melihat Gaza sebagai bagian dari satu negara Palestina yang berdaulat," kata Guterres dalam sebuah konferensi pers di salah satu sekolah PBB di Gaza utara.

Guterres dan konvoi kendaraan PBB memasuki Gaza melalui perbatasan Erez yang melintasi antara ujung utara daerah kantong pantai yang diblokade dan Israel.

"Kami meminta masyarakat internasional untuk memberikan bantuan kemanusiaan yang dibutuhkan ke Jalur Gaza. Perpecahan internal Palestina menghancurkan rakyat Palestina," ucapnya seperti dikutip dari Xinhua, Kamis (31/8/2017).

Guterres menyerukan untuk menghapus semua hambatan untuk mendirikan negara Palestina, dan menekankan pentingnya menyelesaikan krisis kemanusiaan di Gaza.

"Tapi masalah Gaza tidak hanya kemanusiaan, juga politis," dia mengingatkan.

Sebelumnya, puluhan warga Palestina, termasuk anggota keluarga dan kerabat tahanan yang ditahan di penjara Israel, mencegat konvoi Sekjen PBB di Gaza utara.

Ketika konvoi melewati sebuah pos pemeriksaan yang dikendalikan Hamas, kerabat tahanan Palestina mencegatnya dan berdemonstrasi sebelum konvoi tersebut melanjutkan perjalanan ke kota Gaza.


Sementara itu, Dewan Hubungan Luar Negeri Palestina menyatakan mengecam ketidakpedulian Sekjen PBB atas penderitaan lebih daru 2 juta warga Palestina yang tinggal di Gaza. Pernyataan dari dewan yang berbasis di Gaza itu dikirimkan melalui surat elektrokik atau email.

"Ketidakpedulian ini melanggar prinsip dan tujuan paling sederhana dari Perserikatan Bangsa-Bangsa," kata dewan tersebut. 


"Kami meminta Sekretaris Jenderal PBB untuk melakukan kunjungan dan melakukan tur nyata ke Gaza serta melihat penderitaan rakyat yang mendalam," sambung pernyataan itu.

Sekjen PBB asal Portugal itu tidak dijadwalkan untuk bertemu dengan pemimpin Hamas lainnya. Kelompok pembebasan Hamas telah memerintah Gaza sejak gerakan mereka dengan keras menguasai wilayah tersebut pada bulan Juni 2007.

Sehari sebelumnya wakil ketua Dewan Legislatif Palestina atau parlemen, Ahmed Bahar mengatakan, kunjungan Guterres ke Gaza tidak disukai. Pasalnya ia menyatakan solidaritas terhadap sandera Israel dan mengabaikan ribuan orang Palestina yang dipenjara di penjara-penjara Israel.

Namun kemudian juru bicara Hamas di Gaza mengatakan, Fawzi Barhoum mengatakan, kunjungan Guterres ke Gaza diterima, setelah kepala PBB melakukan kunjungan ke keluarga tahanan Palestina selama turnya di Tepi Barat.

Guterres juga bertemu dengan tiga keluarga pengungsi dari Jalur Gaza dan mendengarkan mereka mengenai situasi di daerah kantong pantai.

"Dia harus membantu mengakhiri blokade Israel dan menyelamatkan situasi kemanusiaan yang memburuk," kata Barhoum.

Pejabat lokal PBB mengatakan Guterres akan mengunjungi markas PBB di kota Gaza dan mendapat pengarahan dari pejabat PBB mengenai situasi di Gaza.

Dia akan berkeliling Gaza dan bertemu dengan tokoh-tokoh Palestina dan pemimpin klan di daerah kantong.

Guterres tiba di Israel pada hari Senin dan mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pada hari Selasa, dia mengunjungi kota Ramallah di Tepi Barat dan mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri pemerintah konsensus Palestina Rami Hamdallah.



Credit  sindonews.com


Aksi Protes Iringi Kunjungan Sekjen PBB ke Jalur Gaza


Aksi Protes Iringi Kunjungan Sekjen PBB ke Jalur Gaza
Sejumlah anggota keluarga tahanan Palestina menggelar aksi demonstrasi ditengah kunjungan Sekjen PBB Antonio Guterres ke Jalur Gaza. Foto/Istimewa


GAZA - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, tiba di Jalur Gaza dalam kunjungan pertama kalinya ke Israel Palestina. Kedatangannya ke Jalur Gaza dilakukan di tengah kemarahan keluarga tahanan Palestina terhadapnya karena menolak bertemu.

Keluarga tahanan Palestina menggelar aksi protes di persimpangan Beit Hanoun. Begitu Guterres tiba, konvoinya dihalangi massa demonstran dan mereka mengutuk penolakannya untuk bertemu mereka.

Orang-orang Palestina telah melakukan demonstrasi di persimpangan Beit Lahiya di bagian utara Jalur Gaza, dan juga di pintu masuk Sekolah Dasar Aleppo UNRWA, tempat Guterres menyelenggarakan konferensi persnya.

Mereka membawa sejumlah poster yang menyatakan tuntutan mereka, seperti hak mereka untuk mendirikan sebuah negara bagian, pendidikan, perawatan kesehatan. Mereka juga menuntut untuk mencegah pendudukan Israel melakukan tindakan eskalasi terhadap Gaza, dan menuntut untuk mengangkat pengepungan tersebut.

Sekjen PBB tersebut menekankan perlunya meluncurkan proses politik yang kredibel untuk menerapkan solusi dua negara tersebut, menghapus semua hambatan di lapangan, mematuhi resolusi PBB, dan tidak mengambil tindakan yang menghancurkan kepercayaan antara Palestina dan Israel.

Dalam konferensi persnya, Guterres mengatakan bahwa tindakan harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi kehidupan orang-orang Palestina. Ia memandang penting untuk mengakhiri blokade. Ia juga menganggap penting untuk menghindari penumpukan militan yang bisa melemahkan kepercayaan antara kedua belah pihak.

"Saya meminta persatuan, sejalan dengan prinsip-prinsip Organisasi Pembebasan Palestina. Perpecahan hanya merusak rakyat Palestina," katanya seperti dinukil dari Middle East Monitor, Rabu (30/8/2017).

"Saya mempunyai impian. Sebuah mimpi untuk suatu hari melihat tanah suci itu dengan dua negara - Israel dan Palestina - hidup dalam kedamaian dan keamanan bersama," tukasnya.





Credit  sindonews.com