Kamis, 24 Agustus 2017

Maduro merespons sanksi ekonomi AS


Maduro merespons sanksi ekonomi AS
Presiden Venezuela Nicolas Maduro (REUTERS/Carlos Garcia Rawlins)


Karakas, Venezuela (CB) - Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Selasa (22/8) mengumumkan pemerintahnya siap melakukan tindakan untuk mempertahan negeri tersebut dari sanksi ekonomi AS.

Ketika berbicara dalam satu taklimat di Ibu Kota Venezuela, Karakas, Presiden itu mengatakan Washington "merencanakan blokade keuangan, minyak dan perdagangan", yang akan memperburuk kondisi ekonomi di Venezuela.

"Langkah ekonomi yang sedang disiapkan oleh pemerintah AS akan memperburuk situasi ekonomi di Venezuela," Maduro menjelaskan, sebagaimana dikutip Xinhua, Rabu siang. Ia menambahkan bahwa hubungan bilateral berada pada tahap paling buruk.

Maduro mengatakan ancaman campur-tangan militer oleh Presiden AS Donald Trump takkan menghentikan Venezuela menyelenggarakan pemilihan presiden pada 2018.

"Jika Trump hadir di puncak campur-tangan militer, masih akan ada pemilihan presiden di Venezuela," kata Maduro, sebelum menyeru Paus Fransiskus agar membantu menurunkan "ancaman militer tersebut".

Maduro mengatakan kepada rakyat Venezuela bahwa negara mereka berada di "pusat operasi global" yang berusia menyelaraskan sumber daya nasional.

Namun, ia tetap mengatakan masih ada pilihan untuk memulai dialog dengan AS dan ia akan mengirim surat kepada timpalannya dari AS.

"Saya tak ingin berbicara dengan Trump, mengapa saya tak mau berbicara dengan dia? Saya beritahu kalian lagi, Presiden Trump, apa pun masa depan hubungan kita, mungkin anda dan saya mesti berbicara," kata Maduro.

"Saya yakin bahwa jika ia membaca (surat) itu, banyak yang bisa berubah menjadi lebih baik ... Saya harap setidaknya ia menjawab surat yang akan saya kirim," katanya.

Akhirnya, ia menyerukan dikeluarkannya surat penangkapan internasional dan pemberitahuan merah Interpol terhadap mantan jaksa agung Venezuela Luisa Ortega Diaz, dan suaminya, German Ferrer --yang telah melarikan diri ke Kolombia, lalu Brazil.

Maduro menyebut mereka "buron kehakiman" dan menuduh mereka terlibat dalam kasus pungli serta menjadi agen asing.




Credit  antaranews.com