Kamis, 31 Agustus 2017

Rusia Gelar Latihan Militer, AS Kirim Pesawat Tempur



Rusia Gelar Latihan Militer, AS Kirim Pesawat Tempur
Jet fighter jenis F-15C Eagle milik AS dikerahkan untuk misi pengamanan udara NATO di Baltik diparkir di lapangan udara militer di Siauliai, Lithuania. Foto/Reuters/Ints Kalnins



VILNIUS - Amerika Serikat (AS) telah mengirim pesawat tempur tambahan untuk memperkuat pengawasan langit anggota NATO, Lithuania, Latvia dan Estonia. Hal ini dilakukan seiring latihan militer besar-besaran yang dilakukan Rusia di wilayah Baltik pada bulan depan.

Tujuh jet fighter jenis F-15C AS mendarat di lapangan terbang Siauliai, Lithuania, pada minggu ini. Mereka akan berpatroli di negara-negara Baltik. Jumlah ini tiga kali lebih banyak daripada yang biasa digunakan sejak misi pengawasan NATO ditingkatkan pasca krisis Crimea pada 2014 lalu.

Tiga negara Baltik tidak mengoperasikan pesawat tempur mereka sendiri dan bergantung pada sekutu NATO mereka untuk patroli.

"Kami memperkuat misi polisi udara selama periode Zapad. Dan kami juga senang memiliki tambahan pasukan darat di sini," kata Wakil Menteri Pertahanan Lithuania Vytautas Umbrasas, merujuk pada 600 tentara udara AS yang ditempatkan di negara-negara Baltik selama latihan militer Zapad.

"Ini sangat membantu dalam situasi seperti ini," katanya seperti dilansir dari Reuters, Rabu (30/8/2017).

Komandan tertinggi Angkatan Udara AS di Eropa, Tod Wolters mengatakan, jumlah pesawat tempur telah meningkat karena "kesempatan pelatihan" di Lithuania, tanpa menyebutkan Rusia selama konferensi pers di Siauliai.

"Misi polisi udara akan tetap seperti dulu. Dan tujuan misi polisi udara adalah melindungi langit berdaulat dari tiga negara Baltik," kata Wolters.

Rusia akan melakukan latihan Zapad 17 pada 14-20 September mendatang di Belarus, Rusia barat dan eksklusi Rusia di Kaliningrad.

Moskow mengatakan hampir 13.000 tentara Rusia dan Belarusia akan ambil bagian pada latihan perang Zapad 17. Selain itu sekitar 70 pesawat dan helikopter serta 700 buah perangkat keras militer termasuk tank, artileri dan sistem roket juga turut serta dalam latihan itu.


Sementara di waktu bersamaan, AS juga melakukan tiga latihan di Swedia, Polandia dan Ukraina, dan sebuah brigade lapis baja AS telah ditempatkan di Eropa. 



Credit  sindonews.com


Bersitegang dengan Barat, Rusia Gelar Latihan Militer Besar-besaran



Bersitegang dengan Barat, Rusia Gelar Latihan Militer Besar-besaran
Rusia gelar latihan militer terbesar di tengah ketegangan dengan Barat. Foto/Ilustrasi/Istimewa



MOSKOW - Rusia sedang mempersiapkan diri untuk menyusun salah satu latihan militer terbesarnya sejak perang dingin. Latihan yang menunjukkan kekuatan Moskow ini akan diawasi dengan hati-hati oleh NATO ditengah ketegangan Timur dan Barat.

Pejabat dan analis Barat memperkirakan hingga 100 ribu personil militer dan dukungan logistik dapat berpartisipasi dalam latihan Zapad 17. Latihan ini akan berlangsung bulan depan di Belarus, Kaliningrad dan Rusia sendiri. Moskow menempatkan angka tersebut secara signifikan lebih rendah seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (24/8/2017).

Latihan yang akan diselenggarakan dari 14-20 September ini, dilakukan ditegah ketegangan antara Rusia dengan AS. Kongres AS baru-baru ini memberlakukan babak baru sanksi atas Moskow dalam menanggapi tuduhan campur tangan dalam pemilihan 2016 AS.

Gelombang pertama dari pasukan Rusia dijadwalkan tiba di Belarus pada pertengahan Agustus. Zapad 17 adalah latihan rutin yang diadakan setiap empat. Latihan ini telah direncanakan sejak lama dan bukan reaksi terhadap sanksi terbaru.

Angkatan bersenjata Rusia telah mengalami modernisasi yang cepat selama dekade terakhir dan Zapad 17 memberi mereka kesempatan untuk berlatih secara massal.

Moskow menyalahkan ketegangan barat-Timur yang berkembang pada perluasan pasukan NATO ke timur. Dalam beberapa tahun terakhir, penyebaran lebih banyak pasukan NATO di negara-negara yang berbatasan dengan Rusia. NATO mengatakan bahwa peningkatan penerapan tersebut merupakan tanggapan terhadap aneksasi Rusia terhadap Krimea pada tahun 2013.

Rusia belum mengatakan berapa banyak tentara yang akan berpartisipasi dalam Zapad 17. Namun Duta Besar Rusia untuk NATO, Aleksander Grushko, mengatakan bahwa tidak ada manuver yang melibatkan lebih dari 13.000 tentara. Jumlah itu merupakan batas di mana Rusia - di bawah sebuah kesepakatan internasional - berkewajiban untuk mengizinkan militer dari negara lain melakukan pemantauan terhadap latihan tersebut.

Rusia dapat, secara teoritis, membagi latihan menjadi bagian-bagian yang terpisah agar tetap berada di bawah batas 13.000. Analis Barat mengatakan bahwa latihan terakhir Zapad pada tahun 2013 melibatkan sekitar 70.000 personil militer dan pendukung, walaupun Rusia menginformasikan kepada NATO bahwa latihannya tidak akan melebihi 13.000.

Igor Sutyagin, penulis Russia’s New Ground Forces, yang akan diumumkan secara resmi pada 20 September, mengatakan: "Sayangnya, Anda tidak dapat mempercayai apa yang dikatakan orang Rusia."

"Seratus ribu mungkin dibesar-besarkan tapi 18.000 benar-benar realistis," sambungnya.

Dia tidak membayangkan sebuah serangan terhadap negara-negara Baltik, mengingat mereka adalah anggota NATO. "Nah, ada cara mudah untuk bunuh diri," katanya. 


Tapi Putin adalah master yang melakukan hal yang tak terduga, katanya, dan Rusia dapat mengambil tindakan di tempat lain, seperti mengambil lebih banyak lahan di Georgia.

Menambah pasukan yang sudah ada di Belarus dan daerah kantong Rusia Kaliningrad serta tentara yang tiba di udara, ini mungkin merupakan latihan Rusia terbesar sejak 1991.






Credit  sindonews.com