Selasa, 22 Agustus 2017

BPPT Kembangkan Drone untuk Pertahanan Negara



Logo BPPT. (Antara)
Logo BPPT. (Antara).


CB, Jakarta - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sedang mengembangkan program drone medium altitude long endurance (MALE) untuk membantu menjaga pertahanan negara. Seluruh proses produksi dari drone tersebut akan dilakukan oleh putra-putri Indonesia.

"Selama ini kita selalu ketergantungan dengan luar. Kemandirian kita masih kurang dalam hal surveillance dari udara. Nah BPPT berpikir SDM kita bagus-bagus rasanya sayang kalau tidak dimanfaatkan," kata Wahyu Widodo Pandoe selaku Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT saat ditemui di Gedung BPPT, Jakarta Pusat, Senin, 21 Agustus 2017.

Wahyu mengatakan bahwa drone atau pesawat tanpa awak ini akan berfungsi sebagai intelligent surveillance reconnaissance (ISR) udara, sehingga memudahkan kerja TNI Angkatan Udara untuk menjaga penyusup udara dari daerah perbatasan Indonesia. Program Drone MALE saat ini sedang digencarkan mengingat berbagai keuntungan yang bisa didapatkan Indonesia.

"Selama ini kalau pakai alat dari luar, suku cadang kita harus tunggu dari luar," ucap Wahyu.



Saat ini, menurut Wahyu, sumber daya manusia dalam negeri sudah sangat menguasai berbagai hal terkait drone ini, misalnya image processing dari pemotretan udara untuk hal surveillance. Saat ini yang sangat penting untuk dilakukan adalah mengintegrasikan keunggulan-keunggulan yang masih berpencar di universitas, kementerian dan lembaga.

Para ahli dari berbagai instansi tersebut menurutnya harus disinergikan untuk menghasilkan produk drone yang dapat bersaing dengan produk lain di luar negeri.  Oleh karena itu, program drone MALE ini menggandeng dilakukan BPPT dengan menggandeng Kementerian Pertahanan dan TNI AU sebagai pengguna, ITB sebagai mitra perguruan tinggi, PT Dirgantara Indonesia sebagai mitra industri pembuatan pesawat, serta PT LEN Persero yang akan mengembangkan sistem kendali dan muatan.

Wahyu optimistis drone buatan Indonesia ini dapat ditawarkan ke negara-negara lain, mengingat berbagai keunggulan teknologi yang akan dimiliki oleh drone MALE tersebut. Apalagi, pembuatan drone ini akan melibatkan konsorsium dari berbagai lembaga terkait.



Program pengembangan drone MALE saat ini dalam tahap proof of concept (PoC) tahap detail design. Tahun depan, drone MALE akan memasuki tahap manufacturing prototype termasuk pengadaan komponen flight control system, dan memasuki uji terbang pada 2019. Proses kegiatan pada tahun 2018-2019 tersebut rencananya akan dibiayai oleh BPPT dan Kementerian Pertahanan.

Program pengembangan Drone MALE sebenarnya sudah mulai dikembangkan sejak 2015 lalu. Saat itu drone MALE sudah sampai tahap DR&O dan Conceptual Design, kemudian di tahun 2016 memasuki tahap preliminary design.

BPPT berharap drone MALE ini akan segera memasuki tahapan sertifikasi pada 2020-2022. Sehingga, pada 2022 Indonesia akan memiliki drone MALE buatan sendiri yang siap digunakan dan diproduksi dalam jumlah banyak, sesuai dengan kebutuhan.






Credit  tempo.co