Rabu, 26 Oktober 2016

Begini Tegangnya Saat Rombongan Kapal Induk Rusia Jajal Kesiagaan Angkatan Laut Inggris

 
Begini Tegangnya Saat Rombongan Kapal Induk Rusia Jajal Kesiagaan Angkatan Laut Inggris
net
Kapal Induk Rusia

CB - Britannia rules the waves, Inggris Raya sang penguasa Samudera, begitu kira-kira petikan lirik lagu Rule Britannia.
Inggris yang pada abad ke-18 dan 19 menguasai lautan, sekarang mengalami serangkaian pemotongan anggaran militer yang membatasi kesiapan armada Angkatan Lautnya.
Bagaimana kalau Inggris justru diuji coba di halamannya sendiri?
Pada awal September 2016 Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu menyatakan bahwa Rusia akan mengirimkan kapal induk Admiral Kusnetzov untuk memperkuat gugus tugasnya di Laut Merah dalam rangka memperkuat operasi militer yang dilancarkan terhadap kekuatan ISIS di Suriah.
Yang tidak disebutkan saat itu, bahwa rute yang akan digunakan oleh Admiral Kuznetsov ternyata melintasi selat Channel, alur laut sempit yang memisahkan Inggris dan Perancis.
Walaupun alasan Rusia adalah menggunakan rute terpendek, alasan ini tak bisa diterima mentah-mentah dan membuat Inggris naik darah.
Tensi antar kedua negara pun naik lagi, mengingatkan pada masa-masa Perang Dingin.
Apalagi kapal induk Admiral Kusnetzov merupakan kapal AL Rusia dengan tonase terbesar yang melintas sejak Perang Dingin, sehingga dapat diduga Rusia memang sedang uji kapabilitas Inggris.
Kapal induk tersebut berangkat dari pangkalannya di Severomosk dengan dikawal oleh kapal perang jenis Cruiser bertenaga nuklir kelas Kirov yaitu Pyotr Veliskiy (Peter Agung).
Bersamanya ada tiga kapal pendukung dan satu kapal selam.


Royal Navy (AL Inggris) pun menyiapkan kekuatan untuk menyambut gugus tempur kapal Rusia dengan mengerahkan destroyer Type 45 HMS Duncan dan dari pangkalannya di Portsmouth untuk mengawal Kusnetzov.
Perintahnya tegas dan jelas: Man Marking, atau berlayar hanya lima mil laut jauhnya dari kapal sasaran.
Belgia pun mengirimkan fregat Leopold I untuk mendukung HMS Duncan, bersama sejumlah kapal perang lain yang tergabung dalam NATO Maritime Group One.
Royal Air Force pun menyiagakan skadron Eurofighter Typhoon dari pangkalan RAF Lossiemouth dan RAF Coningsby untuk lepas landas segera apabila radar mendeteksi bahwa pesawat tempur yang dibawa Admiral Kusnetzov terbang dan melanggar wilayah udara Inggris.
Sepanjang perjalanannya melintasi Laut Utara, Admiral Kusnetzov sendiri sudah dibayangi ketat fregat HMS Richmond dan fregat AL Norwegia KNM Fridtjof Nansen yang berpangkalan di Shetland terus-menerus hingga mendekati Inggris.
Armada Rusia tersebut juga dibayangi dari udara oleh pesawat patroli maritim P-3 Orion yang mengambil sejumlah foto udara atas gugus tugas Rusia tersebut.
Pada 20 Oktober 2016, kapal induk Admiral Kuznetsov memasuki perairan Inggris dan melintas dekat Kent, walaupun mereka menjaga diri tetap dalam koridor dengan tidak menyimpang dari garis batas perairan internasional.
Rusia pun menaati protokol dengan melaporkan kehadiran mereka ke otoritas setempat yang dilewati, dan memberitahukan flight plan setiap kali pesawat-pesawat tempurnya melakukan lepas landas dan penerbangan untuk mengawal gugus tugas AL Rusia tersebut.
Di deknya disiagakan dua jet tempur Su-33 yang sudah dipasangi rudal dan siap lepas landas, seolah memberikan peringatan kepada Inggris dan NATO untuk tidak main-main dengan Kusnetzov.
Yang lebih seru lagi, Rusia ternyata juga memainkan manuver taktisnya: AL Rusia menggerakkan dua korvetnya dari kelas Buyan yang tadinya siaga di laut merah ke arah Utara dengan melintasi perairan di sekitar Portugal, mendekati Inggris untuk menyambut Admiral Kusnetzov yang merampungkan perlintasannya di Channel.

Permainan catur klasik ini dijawab Royal Navy dengan mengerahkan HMS Dragon ke Selatan untuk membayangi kedua korvet yang dipersenjatai dengan rudal jelajah Kalibr tersebut.
Amerika Serikat juga mengerahkan satu destroyernya USS Carney dari kelas Arleigh Burke untuk membayangi kedatangan Kusnetzov di Laut Merah.
Buat Rusia, kemampuan mereka untuk show of force dengan mengerahkan kapal induk Admiral Kusnetzov dianggap sebagai pembuktian bahwa Rusia punya kemampuan proyeksi kekuatannya kemanapun mereka mau, tanpa bisa didikte NATO.
Betapapun, reaksi cermat dan tak mempan provokasi yang ditunjukkan oleh Royal Navy memberikan jaminan pada Eropa bahwa NATO siap menangani aksi provokasi yang ditunjukkan oleh pihak manapun yang berseberangan dengan mereka.




Credit  TRIBUNNEWS.COM