Selasa, 25 Oktober 2016

ISIS Miliki Jaringan Terowongan Seperti Perang Vietnam

 Gerakan ISIS
Gerakan ISIS
 
CB, MOSUL -- Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dialporkan memiliki terowongan bawah tanah dengan struktur yang rumit di Mosul, Irak. Diduga, terowongan tersebut digunakan sebagai jebakan para musuh yang mencoba memasuki pusat salah satu kota terbesar di negara itu.

Kelompok militan tersebut juga diyakini menggunakan jalur terowongan yang luas sebagai jalan untuk melarikan diri. Dengan demikian, terlihat ISIS menggunakan strategi perang yang sama seperti pasukan Vietnam dalam perang melawan Amerika Serikat (AS) di masa lalu.

Dalam satu pekan terakhir, pasukan Pemerintah Irak, didukung oleh Peshmerga Kurdi, dan koalisi pimpinan AS meluncurkan serangan ofensif merebut kembali Mosul. Sejak 2014 lalu, kota itu telah menjadi salah satu basis utama ISIS.

Taktik menggunakan terowongan bawah tanah ini diketahui setelah beberapa desa di sekitar Mosul berhasil dibersihkan dari kelompok teroris itu. Di terowongan bawah tanah itu juga diduga menjadi tempat persembunyian para anggota ISIS yang sakit, serta mereka melemparkan serangan granat dan menembak dengan senapan mesin.

Rumah-rumah juga dibuat di bawah tanah dengan jalur yang sangat rumit. Sepanjang jalan di dalam tanah, perangkap-perangkap yang tak diduga dibuat. Terowongan juga dibuat dengan ukuran yang memungkinkan kendaraan melintas.

Seperti diketahui, ISIS telah meminta para warga di desa-desa sekitar Mosul untuk membuat terowongan. Beberapa di antaranya diperkuat dengan logam. Hampir seluruhnya memakai penerangan bertenaga baterai, lengkap dengan kasur, dan lemari es seperti tempat penampungan pasukan dari serangan udara.

Dikhawatirkan, jaringan terowongan yang dibangun ISIS sudah mencapai seluruh wilayah Mosul. Dengan demikian, mereka telah mempersiapkan jalur melarikan diri yang aman saat pasukan Pemerintah Irak berhasil mencapai pusat kota.




Credit  REPUBLIKA.CO.ID


ISIS Perluas Serangan di Mosul

Pasukan kontraterorisme elite Irak berkumpul menjelang operasi merebut kembali Mosul dari tangan ISIS.
Pasukan kontraterorisme elite Irak berkumpul menjelang operasi merebut kembali Mosul dari tangan ISIS.
 
CB, BAGHDAD -- ISIS telah memperluas serangannya melawan pasukan Irak dan Kurdi, Senin (24/10). Mereka hendak mengurangi tekanan yang diterima kelompoknya di Mosul.
Dalam perkembangan terbaru, pasukan koalisi Irak mengumumkan sekitar 80 desa yang sebelumnya dikendalikan ISIS telah direbut kembali. Sehingga mereka semakin dekat dengan pusat kota di mana pertempuran terberat akan berlangsung.
Kampanye merebut Mosul mungkin akan menjadi pertempuran terbesar dalam 13 tahun sejarah invasi AS di Irak. Misi ini pun membutuhkan operasi kemanusiaan masif yang harus dilakukan bersamaan.
Sekitar 1,5 juta orang masih tinggal di sana. Menurut lembaga bantuan PBB, pertempuran Mosul sejauh ini telah membuat 6.000 orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Dalam serangkaian serangan sejak Jumat, ISIS mengamankan Kirkuk, Rutba dan Sinjar. Kepala provinsi Yazidi yang tinggal di Sinjar, Mahma Xelil mengatakan serangan Sinjar adalah yang paling keras dalam setahun terakhir.
ISIS melakukan aksi biadab di sana termasuk membunuh warga, menculik anak-anak dan memperbudak perempuan. Kurdi mengambil alih kota tersebut setahun lalu.
Kantor berita militer melaporkan sejauh ini koalisi telah merebut 78 desa dan kota sejak operasi dimulai pada 17 Oktober. Lebih dari 770 militan ISIS telah tewas dan 23 orang ditahan.
Sekitar 127 mobil berpeledak yang akan digunakan untuk serangan bunuh diri telah dihancurkan. Sementara ISIS mengklaim telah menewaskan ratusan pasukan koalisi.






Credit  REPUBLIKA.CO.ID