Selasa, 25 Oktober 2016

Protes Penutupan Masjid, Umat Muslim Italia Salat di Koloseum

 
Protes Penutupan Masjid, Umat Muslim Italia Salat di Koloseum  
Aksi protes damai ini digelar pada Jumat (21/10) lalu dalam upaya menuntut pemerintah Italia membuka kembali lima masjid darurat yang ditutup karena alasan administrasi. (Reuters/Tony Gentile)
 
Jakarta, CB -- Ratusan warga Muslim menggelar salat Jumat di luar situs bersejarah Koloseum, Roma, pada akhir pekan lalu sebagai bagian dari aksi protes menentang penutupan sejumlah masjid di Italia.

Aksi protes damai ini digelar pada Jumat (21/10) lalu dalam upaya menuntut pemerintah Italia membuka kembali lima masjid darurat yang ditutup karena alasan administrasi. Terlihat sejumlah anak-anak menghadiri demo, dengan mengusung papan bertuliskan, "damai", "cinta", dan "bukalah masjid."

Dikutip dari media Inggris, The Independent, pada Senin (24/10), dalam aksi itu para demonstran mengemukakan bahwa beberapa alasan atas penutupan masjid dianggap tidak masuk akal, salah satunya karena "tidak memiliki jumlah toilet yang mencukupi."

"Kami merasa dikesampingkan. Tidak ada keinginan untuk menyadari bahwa kami hidup di sini dan bahwa kami adalah komunitas yang cinta damai," ujar Francesco Tieri, seorang warga Italia yang menjadi mualaf kepada AFP.

"Kami dipaksa menyewa tempat untuk beribadah, aktivitas yang menurut kami sama pentingnya seperti bernafas. Jika kami tak bisa melakukannya [beribadah], kami mati saja," katanya.

Terkait aksi protes, Barbara Saltamartini, salah satu pemimpin kelompok sayap kanan Northern League, menyatakan bahwa aksi itu merupakan "provokasi yang tak dapat diterima" dan seharusnya tidak boleh digelar.

Italia memiliki sekitar 1,6 juta warga Muslim, menjadikannya sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar keempat di Eropa. Meski demikian, hanya ada delapan masjid resmi di seluruh negara itu.

Muslim diperkirakan merupakan kelompok beragama terbesar kedua di negara mayoritas Katolik itu. Meski demikian, Islam tidak disebut sebagai salah satu agama resmi Italia, tidak seperti Yahudi maupun Mormon.

Padahal, dalam kebijakannya, pemerintah Italia harus memberi perlindungan ke semua tempat ibadah, pembukaan sekolah serta hari libur keagamaan.

Polisi setempat merilis pernyataan yang mengonfirmasi penutupan sejumlah masjid tersebut, dan menyatakan bahwa pemerintah berwenang hanya menjamin kebebasan berkeyakinan, namun hanya dalam kerangka hukum tertentu.

Di Italia, pemerintah setempat dapat menghentikan pembangunan gedung baru atas beberapa alasan, seperti tidak tersedianya fasilitas parkir, hingga sebab lain yang terdengar sepele, seperti kesesuaian arsitektur bangunan dengan lingkungan di sekitarnya. Dengan alasan ini, pemerintah setempat kerap kali menolak proposal pembangunan masjid.

Selain itu, penentangan pembangunan masjid juga datang dari berbagai kelompok sayap kanan Italia, terutama bagi pembangunan masjid yang menggunakan dana asing.

Sedikitnya tempat beribadah di Italia membuat banyak warga Muslim di negara ini terpaksa salat di rumah dan di ruang-ruang ibadah yang juga digunakan oleh para penganut berbagai keyakinan lain. Terdapat 800 ruang ibadah tersebar di penjuru Italia.

Para pemimpin sayap kanan juga menilai bahwa ruang ibadah itu sulit diawasi dan meningkatkan risiko "radikalisasi." Agustus lalu, Menteri Dalam Negeri Italia Angelino Alfano bahkan menyatakan "masjid di dalam garasi" seharusnya dilarang.



Credit  CNN Indonesia