Senin, 31 Oktober 2016

1,5 Miliar Muslim Tersinggung karena Makkah Jadi Target Rudal

 Rudal Balistik Islam 5
Rudal Balistik Islam 5
CB, MAKKAH -- Sebanyak 1,5 miliar umat Islam di seluruh dunia akan tersinggung karena Makkah menjadi target rudal balistik. Pihak yang menargetkan Makkah pun mendapat kecaman dari banyak pimpinan umat Muslim di berbagai daerah di penjuru dunia.

Presiden dari Kepresidenan Urusan Dua Masjid Suci, Syeikh Abdurrahman Al Sudais mengatakan wilayah Makkah menjadi target rudal balistik militansi Houthi. Hal tersebut merupakan provokasi dan pelanggaran. Menurutnya, tindakan tersebut juga dinilai telah menyinggung perasaan 1,5 miliar umat Islam di seluruh dunia.

Dalam pernyataan pers yang dikeluarkan pada Sabtu (29/10), Syeikh Sudais menegaskan pihak mana pun yang melakukan agresi terhadap Masjidil Haram akan menghadapi kehancuran. Selain itu, mereka juga akan mendapat hukuman dari Allah.

"Tindakan keji ini akan memperkuat keberanian prajurit kami yang akan melindungi agama dan bangsa," kata Syeikh Sudais, dilansir dari Saudi Gazette, Ahad (30/10).

Ia berdoa kepada Allah untuk menjaga keamanan dan kedamaian di Makkah. Sebagai salah satu pimpinan Muslim, menurut dia, kata-katanya akan didengar ke seluruh penjuru dunia.


Credit  REPUBLIKA.CO.ID


Iran Diduga Bantu Houthi Tembakan Rudal Balistik ke Makkah

Rudal balistik (ilustrasi)
Rudal balistik (ilustrasi)
CB, MAKKAH -- Ahli Militer Mesir, Hisham al-Halabi, mengungkapkan, jenis rudal yang dipakai Houthi untuk menyerang Makkah adalah rudal balistik Scud surface-to-surface. Rudal jenis ini banyak digunakan milter Rusia sebelum disita oleh Houthi.

Menurut Halabi, kendaraan yang digunakan untuk meluncurkan rudal itu memerlukan teknologi khusus yang tidak mungkin dimiliki oleh milisi Houthi. Penjelasan itu seolah menegaskan bahwa rudal benar diluncurkan oleh Militer Iran.

Rudal ini, tambah dia, memiliki jangkauan lebih dari 300 km. Namun, Arab Saudi memiliki sistem pertahanan antirudal yang tak kalah canggih sehingga rudal dapat dihancurkan sebelum mencapai target. "Presiden Irak Saddam Hussein juga menggunakan jenis rudal ini dalam perang melawan Iran di perang Teluk pertama," jelasnya.

Negara-negara yang bergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC) menyatakan kecaman atas serangan Houthi ke Makkah yang dianggap didukung oleh Iran. Serangan itu dianggap sebagai bukti penolakan Iran untuk mematuhi keputusan internasional.

"Rezim Iran mendukung kelompok teroris yang menembakkan rudal ke Makkah. Apakah mereka mengklaim sebagai rezim Islam?" ujar Sekretaris Jenderal GCC dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Sheikh Abdullah Bin Zayed, dikutip dari Saudi Gazette, Sabtu (29/10).

Menurutnya, serangan tersebut telah melanggar kesucian dan melampaui batas. Serangan bisa memprovokasi 1,5 miliar umat Islam di dunia yang selama ini berkiblat ke Makkah. Sheik Abdullah juga menyerukan kepada negara-negara GCC untuk bersatu memerangi musuh yang mencoba menjadikan kota suci Islam sebagai target penghancuran rudal.

Pencarian "Al-Houthi menargetkan Ka'bah umat Muslim" masih menjadi tren di negara-negara mayoritas Muslim, seperti Pakistan, Malaysia, dan Albania. Pengamat politik asal Bahrain, Sawsan al-Shaer mengatakan, hal itu karena serangan tidak hanya mengancam Arab Saudi, tetapi juga mengancam seluruh umat Muslim.

"Arab Saudi pasti memperkirakan akan ada banyak serangan dari Houthi yang didukung Iran. Tapi menyerang kota suci milik umat Islam adalah hal baru yang mengejutkan, bahkan bagi penganut agama lain," kata dia.



Credit  REPUBLIKA.CO.ID

Ada Misil Menuju Makkah Sebelum Digagalkan

 
Salah satu pesawat tempur angkatan udara Arab Saudi.
Salah satu pesawat tempur angkatan udara Arab Saudi.
CB, SANAA -- Koalisi Arab di Yaman mengaku telah mencegat misil balistik yang jatuh 65 kilometer dari Kota Suci Makkah, Kamis (27/10). Misil tersebut ditembakan oleh milisi di Yaman.

Misil itu, kata koalisi, ditembakkan dari Provinsi Saada menyasar Kota Makkah. Belum ada laporan kerusakan akibat misil itu.

Yamah telan dilanda konflik sejak 2014 lalu. Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi yang digulingkan Houthi mendapat bantuan dari Saudi dan koalisi Arab. Sementara Houthi mendapat dukungan dari Iran.

Pada Kamis, Laksamana AS mengatakan, kapal Angkatan Laut AS dan aliansi berhasil menegah empat pengiriman senjata dari Iran sejak April 2015.

"Baik kapal AS atau koalisi berhasil mencegah empat pengiriman senjata dari Iran ke Yaman," ujar Wakil Laksamana Kevin  Donegan seperti dilansir Al-Arabiya.   "Kami tahu barang ini dari Iran dan kami tahu tujuannya."

Donegan mengungkapkan, paket senjata itu antara lain berisi senapan serbu AK-47 dan misil antitank. Iran membantah memasok senjata ke milis Houthi.




Credit  REPUBLIKA.CO.ID


Koalisi Saudi Hancurkan Rudal yang Mengarah ke Mekkah


Koalisi Saudi Hancurkan Rudal yang Mengarah ke Mekkah Ilustrasi rudal (Reuters/Mahmood Hosseini)
 
Jakarta, CB -- Koalisi Arab Saudi mengumumkan pasukannya berhasil mengintersepsi rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Yaman dan menargetkan kota suci Mekkah pada pekan ini. Serangan ini merupakan salah satu yang berhasil digagalkan Saudi di tengah konflik di Yaman yang berkepanjangan.

Kantor berita Arab Saudi, SPA, melaporkan bahwa rudal itu berhasil dihancurkan pada Kamis (27/10) sekitar 65 kilometer menuju kota tersuci bagi umat Muslim. Aksi ini tidak menimbulkan kerusakan atau korban jiwa.

Menurut laporan SPA, rudal itu diluncurkan dari Saada, wilayah yang dikuasai pemberontak Houthi di Yaman.

Kelompok Houthi mengonfirmasi peluncuran rudal balistik Burkan-1 ke Saudi melalui pernyataan resmi yang dirilis kantor berita mereka pada Jumat (28/10). Meski demikian, menurut laporan Reuters, Houthi mengklaim bahwa serangan itu menargetkan Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, salah satu bandara tersibuk di Saudi.

Kelompok Houthi, yang dibekingi Iran dan pendukung mantan presiden Ali Abdullah Saleh, memang menargetkan sejumlah kota perbatasan Saudi, sejak negara kerajaan itu memimpin koalisi serangan udara di Yaman pada Maret 2015 untuk mendukung Presiden Rabbu Mansour Hadi menghadapi pemberontakan.

Kelompok bersenjata Syiah ini masih menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk ibu kota Sanaa.

PBB memperkirakan konflik berkepanjangan di Yaman telah menewaskan 10 ribu orang, terdiri dari warga sipil dan kelompok bersenjata.

Krisis pangan turut membayangi konflik di salah satu negara Arab termiskin itu. Sekitar 14 juta dari 26 juta warga Yaman yang terjebak dalam pertempuran butuh bantuan makanan, dan 7 juta di antaranya terancam krisis pangan.


Credit  CNN Indonesia




Al Azhar Kutuk Serangan Rudal Houthi ke Makkah

Imam Besar Universitas Al Azhar di Kairo Muhammad Ahmad Al Thayyib.
Imam Besar Universitas Al Azhar di Kairo Muhammad Ahmad Al Thayyib.
CB, KAIRO -- Institut Al-Azhar, lembaga tinggi dunia bagi pendidikan Islam di Mesir pada Sabtu (29/10) mengutuk dugaan serangan rudal gerilyawan Al Houthi yang ditujukan ke Kota Suci Makkah di Arab Saudi.
"Ini adalah tindakan keji, pelanggaran serius yang tak pernah terjadi sebelumnya dan tantangan yang membuat geram oleh mereka yang memiliki agenda sektarian dan berusaha menguasai Dunia Arab," kata Imam Besar Al-Azhar Ahmed At-Tayyib di dalam satu pernyataan.
Ia menggambarkan penembakan rudal balistik ke arah Makkah, kota paling suci buat umat Muslim, sebagai agresi terhadap semua prinsip agama, moral dan kemanusiaan. Koalisi pimpinan Arab Saudi pada Kamis (27/10) menyatakan pasukannya mencegat satu rudal balistik yang terbang ke arah Makkah dari Yaman, dan menuduh petempur Houthi menembakkan rudal itu.

Namun juru bicara militer Al-Houthi membantah tuduhan tersebut pada Jumat, dan mengatakan rudal itu ditujukan ke satu pelabuhan Arab Saudi di Kota Laut Tengah, Jeddah. Situasi di Yaman telah memburuk sejak Maret 2015, ketika perang meletus antara anggota kelompok Syiah Al Houthi yang didukung mantan presiden Ali Abdullah Saleh dan pemerintah, yang didukung oleh koalisi militer Arab pimpinan Arab Saudi.
Pasukan Saleh dan Al-Houthi menguasai sebagian besar wilayah Yaman Utara, sedangkan pasukan pemerintah menguasai sisa wilayah negeri tersebut, termasuk tujuh provinsi di Yaman Selatan. Berbagai lembaga kemanusiaan menyatakan perang saudara itu sejauh ini telah menewaskan lebih dari 10 ribu orang, melukai 35 ribu orang lagi dan membuat dua juta orang kehilangan tempat tinggal.
Gencatan senjata 72 jam yang diperantarai PBB antara Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi diberlakukan dua pekan lalu, tapi koalisi tersebut menuduh anggota Houthi melanggarnya tak lama setelah gencatan senjata itu diberlakukan.




Credit  REPUBLIKA.CO.ID