Kamis, 28 Januari 2016

Mengapa Thailand Perlu Membeli Tank T-90?


Indian Army T-90 Tank
India mempersenjatai 21 batalion tank (resimen di India) dengan T-90. Sumber: AP

Tank Terbang T-90 Rusia cocok menjadi senjata pasukan Thailand yang beroperasi di iklim tropis. T-90 juga akan meningkatkan kemampuan tempur Tentara Kerajaan Thai secara drastis, khususnya batalion kavaleri lapis baja.
Tank yang melihat musuh lebih dulu hampir selalu memenangkan pertempuran. Hal ini benar adanya, khususnya di hutan dan persawahan Asia Tenggara yang sangat dibutuhkan kemampuan kamuflase yang baik. Thailand — yang hendak mengantikan tank tempur mereka dengan T-90 Rusia — sepertinya paham prinsip dasar senjata tempur ini.
Pada December 2015, sebuah delegasi militer Thailand mengunjungi kantor pusat Uralvagonzavod di Moskow untuk meninjau langsung tank generasi ketiga T-90MS (kode “M” berarti tank tersebut sudah dimodernisasi).
Perwakilan Thailand mengungkapkan ketertarikan mereka terhadap T-90 dan T-14 Armata untuk menggantikan tank inventaris tentara Thailand yang sudah ketinggalan zaman, tank Amerika M48A5 Patton. Namun, versi ekspor Armata masih dikembangkan dan perlu waktu beberapa tahun sebelum tank baru bisa diperoleh oleh pembeli asing.
Sementara, kebutuhan Bangkok terbilang mendesak karena Kamboja mengirim tank buatan Tiongkok ke perbatasan wilayahnya yang disengketakan dengan Thailand.
T-90 juga akan meningkatkan kemampuan tempur Tentara Kerajaan Thai secara drastis, khususnya batalion kavaleri lapis baja. Saat tank buatan Barat didesain untuk bertempur di Eropa, dan tank Tiongkok adalah tiruan impor Rusia yang berkualitas rendah, T-90 merupakan predator unggul yang dipersenjatai dengan baik dan mampu menaklukkan musuhnya di banyak segi. Tank ini didesain untuk bertahan di segala jenis iklim dan cuaca, dari stepa berselimut salju hingga hutan tropis yang lembab, dari pegunungan Himalaya hingga gurun berpasir.
Militer Thailand hanya perlu melihat Perang Vietnam untuk membayangkan seberapa efektif tank Rusia di dunia persenjataan tempur. Steven K. Zaloga menuliskan dalam T-54 and T-55 Main Battle Tanks yang dipublikasikan oleh Osprey Publishing, “Ketika Perang Vietnam kerap dibayangkan sebagai konflik gerilya, pertempuran tersebut dilakukan dengan metode konvensional, brigade tank Vietnam Utara membentuk ujung tombak yang membuat Vietnam Selatan kewalahan.”
Tenaga Kuda Lebih Kuat, Perlindungan Lebih Baik
Saat pengembangan tank Barat mengalami pasang-surut, riset dan pengembangan Rusia di bidang ini terbilang stabil, mencerminkan fokus Moskow di kekuatan darat. T-90 merupakan pengembangan terbaru dari tank Rusia seri-T dan merepresentasikan peningkatan tenaga kuda, mobilitas dan perlindungan, demikian ditulis Army Technology.
Ini merupakan perpaduan tekonogi modern dan reliabilitas Rusia. Menurut Foxtrot Alpha, “T-90 lebih ringan dan gesit dibanding pesaingnya dari Amerika, A1 Abrams berbobot 68 ton, sementara T-90 hanya berbobot 48 ton. Ya, benar. T-90 berbobot 20 ton lebih ringan dari M1A1 Abrams! Bobot T-90 yang ringan membuatnya berukuran lebih kecil, lebih murah, dan dapat melakukan manuver spektakuler, baik di ruang terbuka maupun lingkungan perkotaan yang padat.”
Karena lebih ringan dan lebih gesit, tank ini mampu melompati rintangan dengan mudah. Oleh karena itu, tank ini kerap dijuluki “Tank Terbang”. Namun, tak ada kompromi pada perlindungan lapis baja dengan sejumlah lapisan lapis baja reaktif yang bersifat eksplosif.
Hal yang secara khusus menarik minat militer Thailand adalah kemampuan T-90 untuk meletuskan tembakan antitank dari senapan utamanya yang berkaliber 125 mm. Tembakan yang dipandu laser ini dapat menghantam target berbasis darat dan target udara yang terbang rendah di jarak dekat, untuk meningkatkan jangkauan senapan utama T-90 dua kali lipat. Artinya, kru tank tak akan kehilangan detik-detik yang beharga untuk mengganti amunisi di antara peluncur yang berbeda. Dalam perang, meski kualitas perangkat penting, kemenangan kerap bermuara pada sisi yang melakukan tembakan krusial pertama.
Visibilitas adalah masalah lain di area seperti Asia Tenggara. T-90 menyelesaikan masalah tersebut dengan sistem penglihatan kelas dunia yang membuat mereka mampu meningkatkan kepekaan situasional dan mampu meningkatkan kapabilitas tembak-kabur yang sangat krusial untuk memenangkan pertempuran modern.
T-90 tak sekadar platform yang fleksibel, tapi juga menawarkan keseimbangan kapabilitas dan harga yang luar biasa.
Penjualan Asing
Uji coba kunci semua senjata terletak pada efektivitas dan popularitasnya di pasar asing. T-90 kerap dicari setelah tank ini mulai merangkul pasar luar negeri. Pembeli asing terbesar adalah tentara India, negara terbesar ketiga yang mengoperasikan tank — yang berencana untuk membeli lebih dari 1.600 tank. India mempersenjatai 21 batalion tank (resimen di India) dengan T-90, yang akan beroperasi di gurun Rajasthan yang panas dan berdebu, serta di ketinggian Himalaya yang beku.
Pembeli lain di antaranya adalah Aljazair (yang memiliki 305 tank dan hendak membeli tambahan 200 tank), Uganda, Suriah, Azerbaijan, dan Turkmenistan. Pembeli potensial di antaranya Siprus, Peru, Venezuela, dan Vietnam.
Belajar dari Kesalahan
Pada 2011, Thailand menganggarkan 240 miliar dolar AS untuk membeli 49 tank buatan Ukraina, T-84 ‘Oplot-M’. Namun, hal itu berubah menjadi bencana, karena Tentara Kerajaan Thai hanya menerima sepuluh tank hingga 2015. Ya, sepuluh tank dalam waktu empat tahun.
Namun itu bukan kejutan. Pada 2015, Ukraina 'kehilangan' lima pesawat kargo An-32 yang seharusnya diserahkan kembali pada AU India. Pesawat tersebut merupakan bagian dari 40 pesawat yang hendak dimodernisasi dan dipoles ulang.
Pejabat Thailand telah belajar dari kesalahannya dan memutuskan untuk bekerja sama langsung dengan Moskow.
Sementara, M-1 Abrams, tank utama Amerika, yang memiliki mesin turbin gas, terbukti menjadi mimpi buruk bagi kru tank tentara AS pada Perang Irak. Pasir terbukti menjadi kelemahan tank ini dan lebih dari seribu mesin harus dilepas dan dikirim kembali ke markas di AS, menciptakan kemacetan perawatan masif.
Mengingat berbagai masalah yang menjengkelkan di dunia perancang tank utama, Thailand melangkah perlahan menuju kerja sama militer dengan Rusia.





Credit  RBTH Indonesia