Kamis, 28 Januari 2016

Bosnia Akan Mengajukan Diri Bergabung dengan Uni Eropa



Bosnia Akan Mengajukan Diri Bergabung dengan Uni Eropa  
Bosnia akan secara resmi mengajukan lamaran untuk bergabung dengan Uni Eropa pada 15 Februari mendatang. (Reuters/Yves Herman)
 
Jakarta, CB -- Bosnia akan secara resmi mengajukan lamaran untuk bergabung dengan Uni Eropa pada 15 Februari mendatang. Pengajuan ini merupakan langkah terbaru dari negara bekas republik Yugoslavia itu untuk mendekat ke Uni Eropa.

Dibanding negara-negara Balkan lainnya, Bosnia dinilai jauh tertinggal dalam upaya pengajuan keanggotaan Uni Eropa, utamanya setelah perpecahan etnis meletus pada 1992-1995, menewaskan sekitar 100 ribu orang.

Negosiasi alot dan reformasi diperkirakan akan terjadi di Bosnia, jika negara ini jadi bergabung dengan Uni Eropa.

Bosnia tengah menghadapi ancaman separatisme dari etnis Serbia, yang sedang mempertimbangkan mengadakan
referendum dalam otoritas pengadilan nasional Bosnia atas wilayah otonomi mereka.

Pengamat menilai peluang Bosnia untuk bergabung dengan Uni Eropa sebelum 2025 sangat kecil.

"Sekarang cukup jelas bahwa kita sudah mendapatkan tanggal dari negara ketua Uni Eropa, Belanda, untuk mengajukan permohonan pada 15 Februari," ketua kepresidenan Bosnia asal Kroasia, Dragan Covic.

"Sangat realistis bahwa kita mendapatkan status kandidat pada awal tahun depan. Saya sangat yakin ini adalah kesempatan besar untuk Bosnia-Herzegovina," ujarnya.

Keinginan Bosnia untuk bergabung dengan Uni Eropa didorong oleh inisiatif bersama Jerman dan Inggris yang diluncurkan tahun lalu untuk mendorong pembangunan ekonomi dan reformasi.

Inisiatif ini menyusul agenda reformasi yang tertunda selama bertahun-tahun dan kerusuhan sipil dramatis pada Februari 2014 yang terjadi akibat kemarahan rakyat terhadap inersia politik, tingkat pengangguran yang tinggi dan korupsi yang merajalela.

Komisi Eropa, badan eksekutif Uni Eropa, menyatakan akan mendukung reformasi di Bosnia dengan kucuran dana 1 miliar euro (Rp15 triliun) selama tiga tahun ke depan, dan lebih dari 500 juta (Rp7,5 triliun) euro untuk investasi di bidang infrastruktur.

Credit  CNN Indonesia