Rabu, 27 Januari 2016

Senjata Elektronik Terbaru Buatan Rusia Siap Diekspor




The Krasukha-4 Electronic Warfare System
Kompleks Krasukha-4. Sumber: Vitaly V. Kuzmin


Senjata elektronik (electronic warfare) Moskow-1, Krasukha-2, dan Krasukha-4 sudah siap diekspor ke luar negeri dan telah menerima surat spesifikasi teknis untuk keperluan ekspor. Seluruh kompleks senjata elektronik ini diramalkan akan menarik minat banyak negara yang memiliki angkatan bersenjata berteknologi tinggi.
Akibat meningkatnya jumlah konflik lokal di seluruh dunia, minat pembelian senjata elektronik buatan Rusia oleh calon pembeli asing pun turut meningkat secara signifikan. Demikian hal tersebut diutarakan perwakilan dari perusahaan Tekonologi Radio (KRET) yang merupakan produsen utama sistem senjata elektronik Rusia.
Menurut Wakil Pertama Direktur Umum KRET Igor Nasenkov, “Saat ini, KRET bersama dengan Rosoboronexport, sedang mengerjakan kontrak sistem senjata elektronik berbasis darat.” Menurut informasi yang ia sampaikan, sistem senjata elektronik yang dimaksud adalah kompleks Krasukha-2, Krasukha-4, dan Moskow-1.
Moskow-1 mulai masuk ke dalam jajaran pasukan Rusia pada Februari 2015. Total sistem elektronik yang diterima angkatan bersenjata Rusia adalah sebanyak sembilan kompleks. Saat ini, menurut pihak pengembang, belum ada analog sistem semacam itu di dunia.
Salah satu ciri khas senjata elektronik Moskow-1 adalah kemampuannya untuk melakukan pengintaian dalam mode lokasi pasif. Hal ini memungkinkan senjata elektronik tersebut untuk mendeteksi senjata elektronik musuh tanpa memberikan informasi mengenai keberadaannya sendiri. Selain itu, sistem ini secara bersamaan dapat mengatur sembilan kompleks pertahanan udara dan senjata elektronik. “Kompleks Moskow-1 akan menjadi semacam ‘otak’ dari seluruh sistem pertahanan elektronik di seluruh wilayah. Ia mampu mengetahui rencana musuh dan menghalangi efektifitas unit tempur musuh,” kata Igor Nasenkov kepada wartawan.
Sementara, Krasukha-2 dan Krasukha-4 dirancang untuk menekan radar pengawasan udara, seperti misalnya pesawat peringatan dini (Airbone Early Warning atau AEW) dan radar darat. Krashukha-2 dan Krasukha-4 juga mampu menutupi unit teknik lain (misalnya rudal), yang bermanfaat untuk memberikan cukup waktu dalam penyebaran tempur tanpa risiko diketahui oleh musuh. Fitur lain dari kompleks senjata elektronik ini adalah pengaturan umpan palsu untuk memancing rudal musuh. Sinyal kedua sistem Krasukha ini dapat mengubah misi penerbangan rudal yang menyebabkan ia mengetahui umpan palsu. Saat ini, kompleks Krasukha-4 ditugaskan di Suriah untuk melindungi pangkalan udara Rusia.
“Pembaruan angkatan bersenjata Rusia akan selesai pada tahun 2020, volume pesanan unit pertahanan negara akan menurun setelah itu, dan kami kami harus mencari kesempatan untuk ekspor,” kata Nasenkov kepada RBTH.
Seluruh kompleks senjata elektronik ini diramalkan akan menarik minat banyak negara yang memiliki angkatan bersenjata berteknologi tinggi. Namun, yang harus diingat adalah dengan segala efektivitasnya, kompleks senjata elektronik ini dibanderol dengan harga yang cukup tinggi. Namun, dengan adanya perbedaan nilai tukar rubel dan mata uang dunia saat ini, pihak produsen kompleks senjata elektronik tersebut percaya bahwa pembelian peralatan teknik buatan Rusia  justru dinilai akan sangat menguntungkan.
Berdasarkan data, pada 2015, pangsa ekspor KRET adalah sebesar 15–18 persen dari jumlah total produk. Pada 2017, KRET berharap dapat meningkatkan pangsa menjadi 25 persen.
Saat ini, Rusia sedang menjalani pemenuhan kontrak untuk penyediaan sistem pertahanan on-board pada pesawat terbang dan helikopter “Presiden-S” dengan Mesir. Sistem pertahanan on-board “Presiden-S” ini dimaksudkan untuk melindungi pesawat dari misil darat-ke-udara, berbagai sistem artileri, serta rudal jenis udara-ke-udara. “Presiden-S” tidak hanya dapat mendeteksi ancaman, tapi juga mampu memberikan intervensi kepada rudal elektronik sehingga rudal tersebut tidak dapat mencapai target.
Hingga kini, jumlah pasti kompleks yang akan dikirimkan untuk Mesir belum disebutkan. Menurut Nasenkov, “kami di sini berbicara tentang pasokan dalam jumlah besar.”



Credit  RBTH Indonesia