Senin, 22 Juni 2015

Operasi Barbarossa yang Berakhir Kekalahan Jerman

PADA 22 Juni 1941, Jerman pimpinan Nazi Adolf Hitler mengumumkan Operasi Barbarossa yang mengawali invasi Jerman ke Uni Soviet. Invasi itu dilakukan dengan mengerahkan kurang lebih empat juta pasukan dengan 19 divisi panser, 3.000 unit tank, 2.500 pesawat udara, dan 7 senjata artileri.
Invasi itu dilakukan, meskipun pada 1939 Jerman dan Uni Soviet telah menandatangani perjanjian untuk tidak saling menyerang. Kedua belah pihak menyetujui untuk menjamin pengaruh masing-masing di wilayah yang telah ditentukan tanpa ada campur tangan dari pihak lainnya.
Meski begitu, kecurigaan tetap muncul sehingga saat Uni Soviet menginvasi Rumania pada 1941, Jerman melihatnya sebagai ancaman terhadap suplai minyaknya di daerah Balkan. Sebagai respon atas invasi tersebut, Hitler mengirimkan pasukan ke Polandia untuk menghadapi ancaman tersebut sekaligus mengancam balik Moskow. Situasi itu dengan cepat berubah menjadi sebuah invasi Jerman ke Uni Soviet.
Operasi Barbarossa dimulai pada 22 Juni 1941 pukul 3.15 pagi waktu setempat dengan pengeboman kota-kota besar di Polandia yang dikuasai Soviet. Serangan terhadap Soviet ini dilakukan melalui tiga kelompok pasukan yang menyerang secara paralel: Kelompok Pasukan Utara, Tengah, dan Selatan.
Pasukan Uni Soviet yang tidak waspada karena mempercayai perjanjian mereka dengan Hitler tidak dapat menghadapi serangan Jerman pada fase awal invasi. Sekira 3.000 pesawat Soviet berhasil dihancurkan oleh Angkatan Udara Jerman Luftwaffe dalam tiga hari pertama serangan dan menguasai wilayah udara Uni Soviet.
Tidak berbeda dengan di udara, pertempuran di darat memperlihatkan keunggulan bagi pasukan Jerman meskipun Pasukan Merah Soviet memiliki keunggulan dalam jumlah tank dan perlengkapan lainnya. Pada pekan pertama invasi berlangsung, pasukan Jerman berhasil menembus wilayah Rusia sejauh lebih dari 480 kilometer.
Pada akhirnya, Invasi tersebut berakhir dengan kegagalan pada Desember 1941 saat musim dingin melanda Rusia. Pada saat itu, pasukan Jerman yang selangkah lagi dapat menguasai Moskow terhalang oleh badai salju yang menyebabkan masalah bagi peralatan dan pasukan mereka yang tidak dilengkapi dengan baik untuk menghadapi musim dingin. Kendala ini menyebabkan kekalahan mereka pada Pertempuran Moskow. Sebanyak 4 juta pasukan Rusia dan 800 ribu pasukan Jerman tewas selama operasi yang berlangsung dari 22 Juni sampai i5 Desember 1941 itu.
Pada Juni 1942, Jerman kembali melakukan invasi ke Uni Soviet yang telah mengalami kerugian besar akibat pertempuran sebelumnya. Namun, langkah Jerman itu terhenti dengan kekalahannya di Pertempuran Stalingrad yang merupakan salah satu pertempuran paling berdarah dalam sejarah.
Operasi Barbarossa dapat dikatakan sebuah peristiwa penting dalam sejarah Perang Dunia II karena kegagalannya di Moskow mengawali kejatuhan Koalisi Axis di Eropa. Ironisnya, 129 tahun sebelumnya atau tepatnya pada 24 Juni 1812, Napoleon melakukan kesalahan yang sama dengan menyerang Rusia yang juga menjadi awal kejatuhannya.


Credit  Okezone