Selasa, 09 Februari 2016

Petral Dibubarkan, Pertamina Klaim Hemat Rp 2,87 Triliun di 2015



CB, Jakarta - PT Pertamina (Persero) mencatat terjadi penghematan hingga US$ 208,1 juta atau setara Rp 2,87 triliun  sepanjang 2015, usai melakukan transparansi serta memangkas mata rantai dalam proses pengadaan minyak mentah serta produk Bahan Bakar Minyak (BBM).

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero)  Wianda Pusponegoro mengatakan, transparansi dan pemutusan mata rantai tersebut berupa penggantian peran lembaga pengadaan minyak mentah dan BBM yang sebelumnya dijalankan PT Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) ke Integrated Supply Chain (ISC).

"Pertamina berhasil mencatatkan efisiensi bagi perusahaan. Capaian efisiensi tersebut diperoleh melalui lima program terobosan ISC yang disebut dengan fase ISC 1.0," kata Wianda di Jakarta, Selasa (9/2/2016).

Menurut Wianda, lima program fase ISC 1.0 itu adalah memotong perantara dari rantai suplai, peningkatan pemanfaatan dan fleksibilitas dari armada laut Pertamina. Terobosan lainnya adalah dengan pemberian kesempatan yang sama dan adil untuk semua peserta pengadaan.

“ISC 1.0 juga menerapkan terobosan lain berupa penerapan proses evaluasi penawaran yang transparan dan mengurangi biaya dengan menerapkan pembayaran telegraphic transfer (TT),” dia melanjutkan.

Wianda menjelaskan keberadaan ISC sangat penting untuk membuka transparansi seluas-luasnya supaya banyak mitra terpilih yang ikut serta. Dengan demikian, ada perubahan yang signifikan  berupa penghematan.

“Kami bisa memangkas rantai suplai pengadaan impor, di mana untuk minyak maupun produk, Indonesia masih. Ini yang kami kejar terus,” kata dia.

Transformasi ISC adalah bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan memperkuat transparansi pengadaan minyak mentah dan produk minyak yang selalu menjadi perhatian publik. Perkuatan ISC dengan mengembalikan fungsi ISC dan sekaligus meningkatkan kewenangannya.
Efisiensi dari sisi pengadaan minyak mentah dan BBM yang dilakukan ISC salah satunya dilakukan dengan mengevaluasi ulang kontrak-kontrak pembelian sebelumnya.

“ISC akan melakukan upaya terbaik untuk mendapatkan harga yang paling optimal bagi Pertamina,” ujarnya.

Dalam pengadaan minyak mentah dan BBM Pertamina, mengundang daftar mitra usaha terseleksi (DMUT) untuk terlibat dalam pengadaan minyak mentah dan produk BBM secara terbuka dan transparan.
Penetapan DMUT juga cukup ketat karena harus memenuhi sejumlah kualifikasi tertentu seperti detail bisnis perusahaan, detail laporan keuangan, detail bank, dan lain-lain.

“Melalui ISC, peserta tender lebih variatif, harga lebih kompetitif, dan posisi tawar semakin tinggi. Informasi tender kami buka melalui website Pertamina yang semua orang dapat mengaksesnya,” terang Wianda.

Efisiensi dalam pengadaan juga dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan kapal-kapal yang dikelola oleh Pertamina, baik  untuk mengangkut BBM, minyak mentah, dan elpiji impor dari titik penjualan ke dalam negeri.

Keberhasilan Pertamina lain dalam pengadaan adalah adanya renegosiasi kontrak dengan Saudi Aramco, yang memiliki kontrak evergreen dengan Pertamina sekitar 120.000 barel per hari. Sejak Juni 2015, Saudi Aramco bersedia untuk tidak lagi mewajibkan Pertamina menerbitkan letter of credit (L/C).

“Ini adalah bentuk kepercayaan dari pemasok minyak mentah kepada Pertamina dalam kaitannya dengan jaminan pembayaran. Berapa sen pun yang dapat kami hemat, Pertamina akan lakukan upaya terbaik untuk meraihnya, tentu saja sesuai dengan kaidah-kaidah dan best practices yang ada,” dia memungkasi.



Credit  Liputan6.com