Selasa, 02 Februari 2016

Hasil Riset: Peradaban Cina Kuno Lenyap dalam Sekejap

Hasil Riset: Peradaban Cina Kuno Lenyap dalam Sekejap  

Patung perunggu peninggalan peradaban kuno Sanxingdui, Cina. (livescience)
 
CBSan Fransisco - Gempa dan bencana lainnya menjadi salah satu faktor runtuhnya peradaban. Hipotesis ini terbukti dari riset yang dilakukan ilmuwan Universitas Tsinghua di Chengdu, Cina. Mereka mengungkap bahwa sebuah gempa yang terjadi hampir 3.000 tahun silam menjadi penyebab hilangnya salah satu peradaban kuno Cina secara misterius.

Gempa besar itu diduga menyebabkan bencana tanah longsor yang membendung sumber air utama budaya Sanxingdui dan mengalihkannya ke lokasi baru. "Hal itu, pada gilirannya, telah memacu budaya Cina kuno tersebut untuk bergerak lebih dekat ke aliran sungai baru," ujar salah seorang penulis penelitian, Niannian Fan, dalam pertemuan tahunan ke-47 American Geophysical Union di San Francisco.

Pada 1929, seorang petani di Provinsi Sichuan menemukan batu giok dan batu artefak ketika memperbaiki selokan limbah yang berlokasi sekitar 24 mil (40 kilometer) dari Chengdu. Namun signifikansi temuan itu tidak dipahami sampai tahun 1986, ketika arkeolog menggali dua lubang harta Zaman Perunggu, seperti giok, sekitar 100 gading gajah, dan patung perunggu setinggi 8 kaki (2,4 meter).

"Temuan itu menunjukkan kemampuan teknis mengesankan yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia pada saat itu," kata Peter Keller, seorang ahli geologi dan Presiden Bowers Museum, di Santa Ana, California, Amerika Serikat, yang saat ini menggelar pameran beberapa harta karun tersebut.

Harta yang telah rusak dan terkubur, seolah-olah mereka korbankan, itu berasal dari peradaban yang hilang dan sekarang dikenal sebagai Sanxingdui, sebuah kota bertembok di tepi Sungai Minjiang. "Ini adalah misteri besar," kata Keller, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Arkeolog sekarang percaya bahwa budaya yang sengaja dibongkar sendiri itu berusia antara 3.000 dan 2.800 tahun. "Penjelasan mengapa ia menghilang adalah perang dan banjir, tapi kedua alasan itu tidak terlalu meyakinkan," kata Fan kepada Live Science.

Sekitar 14 tahun yang lalu, arkeolog menemukan sisa-sisa kota kuno lain yang disebut Jinsha di dekat Chengdu. Menurut Keller, situs Jinsha, meskipun tidak memiliki perunggu Sanxingdui, memiliki mahkota emas dengan motif ukiran berupa ikan, panah, dan burung yang serupa dengan temuan tongkat emas di Sanxingdui. Hal itu membuat beberapa ahli percaya bahwa orang-orang dari Sanxingdui mungkin telah berpindah ke Jinsha.

Namun, mengapa hal itu tetap menjadi misteri? Fan dan rekan-rekannya bertanya-tanya apakah gempa bumi mungkin telah menyebabkan tanah longsor yang membendung sungai di pegunungan dan mengalihkannya ke Jinsha. Bencana itu mungkin telah mengurangi pasokan air Sanxingdui sehingga memacu penduduknya untuk berpindah.

Fan mengatakan lembah tempat Sanxingdui berada memiliki dataran banjir luas, dengan 7 kilometer dinding bertingkat tinggi yang tidak mungkin dipotong oleh sungai kecil yang sekarang melaluinya.

Beberapa catatan sejarah mendukung hipotesis mereka. Pada 1099 SM, kata Fan, penulis kuno mencatat gempa di ibu kota Dinasti Zhou, di Provinsi Shaanxi. Meskipun tempat itu kira-kira 250 mil (400 kilometer) dari situs bersejarah Sanxingdui, kebudayaan terakhir tersebut tidak menuliskannya pada saat itu.

"Sehingga mungkin episentrum gempa benar-benar dekat dengan Sanxingdui--tapi tidak tercatat," kata Fan. “Bukti geologi juga menunjukkan bahwa sebuah gempa bumi terjadi di wilayah itu antara 3.330 dan 2.200 tahun silam,” tambahnya.

Pada sekitar waktu yang sama, kata Fan, sedimen geologi menunjukkan banjir besar terjadi, dan dokumen dinasti Han "The Chronicles of the Kings of Shu" mencatat banjir kuno mengalir dari gunung di tempat yang menunjukkan aliran yang dialihkan. Sekitar 800 tahun kemudian, warga Jinsha membangun dinding untuk mencegah banjir.


Credit  TEMPO.CO