Rabu, 02 Desember 2015

Kemenkes Stop Izin Riset Teknologi ECVT Warsito

Kemenkes Stop Izin Riset Teknologi ECVT Warsito

TEMPO/Dwianto Wibowo
 
CB, Jakarta - Direktur Edward Technology Warsito Purwo Taruno menyayangkan surat yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan yang meminta untuk menghentikan riset ECVT (Electrical Capacitance Volume Tomography), sistem pemindai berbasis medan listrik statis yang diaplikasikan di bidang industri dan medis. "Kami seperti anak yang diusir oleh bapak," kata Warsito saat dihubungi Tempo, Jakarta, Selasa, 1 November 2015.

Warsito mengatakan penelitian ini sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 2003. Pada tahun 2012 Kementerian Kesehatan sepakat untuk memfaslitasi penelitian ini dengan mengeluarkan perjanjian kerja sama. Ini merupakan perjanian kerja sama yang mengatur lebih detail antara PT Edward Teknologi dan Pusat Penelitian di bawah koordinasi Baltibangkes.

Surat ini tak kunjung dikeluarkan. Dengan dana seadanya penelitian ini tetap berjalan. Pada tahun 2013 sebuah disertasi dikeluarkan oleh Universitas Airlangga yang membuktikan riset ini secara ilmiah.

Namun, surat yang dikeluarkan oleh kementerian kesehatan baru-baru ini justru menyatakan riset ini dianggap tidak dilakukan dengan prosedur yang ilmiah dan diminta untuk ditutup. "Kenapa nggak dilakukan sejak awal, sebelum penelitian ilmiah dilakukan," ujar Warsito.

Padahal penelitian ini telah memperoleh penghargaan B.J. Habibie Technology Award 2015 dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kamis 20 Agustus 2015. Doktor lulusan Teknik Elektro Shizouka University Jepang itu dinilai telah melahirkan inovasi ECVT, sehingga bisa dibuat dalam bentuk helm untuk kepala dan cup untuk payudara.

Hasil riset ini sudah dipesan oleh sekitar 10 ribu konsumen. Sebagian besar memang berasal dari Indonesia. Namun, sebanyak 2-3 persen pemesan berasal dari luar negeri.

Warsito mengatakan apa yang dilakukannya hanyalah sebuah riset untuk kepentingan masyarakat. Ia mengembalikan keputusan kepada pemerintah. Namun, ia menyayangkan apa yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan.

Menurut dia, secara tidak langsung menunjukkan pemerintah kurang mendukung teknik biomedik. Apalagi yang melakukan riset adalah generasi muda bangsa. "Mau disuruh kerja di mana? Itu kan anak-anak bangsa yang seharusnya diayomi pemerintah," kata dia.

Credit  TEMPO.CO