Selasa, 22 Desember 2015

Presiden Filipina Janji Perkuat Militer di Laut China Selatan


Presiden Filipina Janji Perkuat Militer di Laut China Selatan  
Presiden Filipina Benigno Aquino berjanji menghabiskan sekitar 83,90 miliar peso, atau sekitar Rp24,2 triliun dalam waktu lima tahun hingga 2017 untuk memperkuat militer, seiring dengan semakin masifnya kehadiran China di Laut China Selatan. (Reuters/Romeo Ranoco)
 
Jakarta, CB -- Presiden Filipina, Benigno Aquino berjanji akan memperkuat angkatan bersenjata untuk menghadapi tantangan maritim di Laut Cina Selatan sebelum dia meninggalkan kursi kepresidenan tahun depan.

Pada Senin (21/12) Aquino berjanji menghabiskan sekitar 83,90 miliar peso, atau sekitar Rp24,2 triliun dalam waktu lima tahun hingga 2017 untuk memperkuat militer, seiring dengan semakin masifnya kehadiran China di laut sengketa tersebut.


Anggaran belanja tersebut disetujui pada tahun ini, sehingga Filipina memiliki waktu dua tahun untuk menghabiskan anggaran militer yang cukup besar.

"Kami berencana untuk mengakuisisi kapal perang kecil baru, [kapal perang jenis] strategic sealift vessel [SSV], kendaraan patroli jarak jauh dan pesawat dukungan udara jarak dekat serta peralatan lainnya," ujar Aquino dalam peringatan 80 tahun angkatan bersenjata Filipina, dikutip dari Reuters.

Aquino tidak menyebutkan sengketa Laut Cina Selatan secara khusus, militer Filipina menyebut bahwa sejumlah peralatan yang disiapkan dapat digunakan untuk membela hak teritorial Filipina.

"Saya secara pribadi telah menyaksikan bagaimana militer tumbuh lebih kuat dan lebih efektif dalam melestarikan perdamaian dan stabilitas, kunci dalam membangun kepercayaan di Filipina," ujar Aquino.

Kapal perang jenis strategic sealift vessel (SSV) tengah dibangun di galangan kapal Indonesia. Kapal ini rencananya akan dikirim pada awal tahun depan, dilengkapi dengan radar buatan Israel yang akan selesai pada 2017. Pada tahun yang sama, Filipina juga akan menerima sejumlah jet tempur buatan Korea Selatan.

Aquino memaparkan bahwa Amerika Serikat dan Jepang tengah membantu mengembangkan kapasitas dan kapabilitas seiring dengan meningkatnya anggaran pertahan di sejumlah negara di Asia, menyusul dengan meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan.

China mengklaim sebagian besar wilayah di Laut China Selatan, tumpang tindih dengan klaim Filipina, Vietnam, Malaysia, Taiwan dan Brunai. Perairan sengketa itu merupakn salah satu jalur aktivitas ekspor-impor yang sibuk, dengan nilai perdagangan mencapai US$5 triliun per tahun.

Filipina sudah melayangkan tantangan kepada Beijing di pengadilan arbitrase di Den Haag, tetapi Beijing tak bergeming.

Pemerintah Aquino menghabiskan 56,79 juta peso sejak 2010 untuk membeli satu skuadron pesawat tempur ringan dari Korea Selatan dan helikopter tempur dari Italia.

Pada akhir Maret 2014, Departemen Pertahanan Nasional Filipina mengumumkan pembelian 12 jet serang ringan varian dari TA-50, yakni FA-50 senilai US$421 juta, atau sekitar Rp5,8 triliun.

Jet tempur T-50 merupakan tipe jet tempur yang sama dengan jet tempur milik TNI yang jatuh di sekitar landasan militer Bandara Adisucipto Yogyakarta pada Minggu (20/12).

Pengiriman jet tempur FA-50 ke Filipina dijadwalkan akan dilakukan pada Desember 2015 dan berakhir pada 2017. Filipina juga dikabarkan akan menambah sekitar 12 jet tempur tipe FA-50, namun belum ada rincian informasi soal hal ini.

Sementara, Washington memberikan dua kepal penjaga pantai dan sejumlah pesawat transportasi ke Filipina.

Militer Filipina memiliki rencana modernisasi dalam jangka waktu 15 tahun yang ambisius untuk menghabiskan sekitar 998 miliar peso, untuk mengakuisisi kapal perang ringan, kapal selam, sistem rudal yang canggih, dan radar untuk mengejar ketertinggalan militer Filipina di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya.
credit  CNN Indonesia