Rabu, 02 Desember 2015

BI: Yuan Berlaku Global, Indonesia Diuntungkan

Seorang staf bank menghitung uang kertas pecahan 100 yuan di sebuah bank di kota Hangzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok, Selasa (1/12). IMF pada Senin (30/11) di Washington mengumumkan masuknya yuan ke dalam keranjang mata uang cadangan global atau SDR.
Seorang staf bank menghitung uang kertas pecahan 100 yuan di sebuah bank di kota Hangzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok, Selasa (1/12). IMF pada Senin (30/11) di Washington mengumumkan masuknya yuan ke dalam keranjang mata uang cadangan global atau SDR. (AFP PHOTO) 


Jakarta - Bank Indonesia menilai Indonesia diuntungkan dengan keputusan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) yang menjadikan mata uang Tiongkok Yuan sebagai alat transaksi internasional yang berlaku secara global.
"Keputusan IMF untuk memasukkan Yuan ke special drawing right (SDR) kita sambut baik, karena keputusan ini berdampak positif bagi kinerja perdagangan Indonesia, khususnya dengan Tiongkok," kata Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo di Jakarta, Selasa (1/12).
Menurutnya, hal itu dikarenakan Indonesia memiliki volume perdagangan yang besar dengan Tiongkok dengan nilai impor Indonesia ke Tiongkok bisa mencapai US$ 30 miliar, sedangkan ekspor ke Tiongkok sekitar US$ 14-15 miliar.
"Nantinya ekspor dan impor juga bisa menggunakan mata uang yuan dan rupiah semakin dapat diwujudkan. Untuk Indonesia tentu lebih baik," ujarnya.
Untuk mewujudkan perdagangan dengan menggunakan yuan, tambah dia, itu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat karena perlu sosialisasi yang baik oleh otoritas di Tiongkok yang bertanggung jawab terhadap yuan.
Keputusan Dewan Eksekutif IMF sebelumnya dengan menambahkan yuan atau dikenal sebagai renminbi di SDR bersama dolar Amerika Serikat (AS), euro, foundsterling dan yen menjadi tonggak penting integrasi Tiongkok dalam sistem keuangan global dan komitmen melakukan reformasi.
Pemerintahan Tiongkok telah melakukan sejumlah reformasi untuk memenuhi kriteria IMF. Tiongkok memberikan akses lebih baik bagi orang asing ke pasar mata uangnya, penerbitan utang lebih sering dan jam perdagangan yuan ditingkatkan.
Akan tetapi, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengharapkan Tiongkok tidak hanya berhenti di situ.
"Upaya kelanjutan dan pendalaman ini akan membawa sistem moneter dan keuangan internasional lebih kuat sehingga pada gilirannya akan mendukung pertumbuhan dan stabilitas Tiongkok dan ekonomi global," ujar Lagarde.

Credit beritasatu.com


Yuan Resmi Jadi Mata Uang Dunia, Perdagangan Indonesia-Tiongkok Berpotensi Meningkat

Karyawati menunjukkan mata uang Yuan di salah satu tempat penukaran valuta asing di Jakarta, 30 November 2015.
Karyawati menunjukkan mata uang Yuan di salah satu tempat penukaran valuta asing di Jakarta, 30 November 2015. (Antara/M Agung Rajasa)
Jakarta – Mulai 1 Oktober 2016 nanti, Dana Moneter Internasional (IMF) akan secara resmi memasukan yuan Tiongkok ke dalam keranjang mata uang yang bebas digunakan atau Special Drawing Right (SDR). IMF mengapresiasi reformasi yang dilakukan pemerintah Tiongkok dalam membuat perekonomiannya lebih terbuka.
Keputusan ini diambil pascarapat dewan petinggi IMF yang beranggotakan 188 negara pada 30 November lalu. Yuan dianggap telah memenuhi semua persyaratan sebagai mata uang bebas digunakan. Dengan demikian, yuan bergabung bersama dolar AS, euro, poundsterling, dan yen dalam keranjang Special Drawing Rights (SDR) IMF. Komposisi baru dalam keranjang SDR, yuan memiliki bobot 10,92 persen, di atas yen (8,33 persen), dan poundsterling (8,09 persen). Namun, di bawah euro (30,93 persen), dan dolar AS (41,73 persen).
“Keputusan Dewan Eksekutif memasukan yuan (RMB) ke dalam basket SDR merupakan sebuah pencapaian. Keputusan ini adalah pengakuan terhadap reformasi sistem keuangan dan moneter Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan, dan langkah pendalaman ini akan memperkaya sistem keuangan dan moneter, yang pada akhirnya akan mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan global,” kata Direktur Pelaksana IMF Christine Legarde seperti dikutip laman resmi IMF.
Ekonom Bank Permata Joshua Pardede melihat langkah ini diharapkan akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam jangka menengah hingga panjang dalam pasar global. Namun dalam jangka pendek, Yuan masih berpotensi melemah terhadap dollar AS mengingat ekonomi Tiongkok dalam proses rebalancing struktur ekonomi.
“Selanjutnya, dampaknya ke indonesia, cukup baik, pertama, transaksi dagang dengan Tiongkok dapat langsung ditransaksikan via yuan/idr sehingga cost untuk mengkonversi dalam dolar akan berkurang, sehingga dapat meningkatkan lagi hubungan dagang Indonesia dengan motor penggerak ekonomi terbesar kedua dunia tersebut,” kata Joshua.
Namun pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap USD menurutnya akan efektif dan signifikan jika penggunaan yuan sudah mengglobal yang juga diindikasikan oleh fundamental ekonomi Tiongkok yang baik serta capital control yang tidak akan menjadi kendala lagi bagi investor asing untuk berinvestasi di yuan.
Menurut data Bloomberg, nilai tukar yuan pada hari ini stagnan di posisi 6,3986 per dolar.


Credit  beritasatu.com