Selasa, 22 Desember 2015

TNI AL Miris Melihat Sektor Maritim RI Kalah dari Singapura

Untuk menghidupkan aktivitas perairan perlu perbanyak armada kapal.

TNI AL Miris Melihat Sektor Maritim RI Kalah dari Singapura
Ilustrasi kapal perang TNI Al di perairan timur Pulau Bintan (Dokumentasi Lantamal IV Tanjungpinang)
 
  CB - Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KASAL), Ade Supandi, mengungkapkan, merasa miris jika melihat perairan Indonesia yang minim perkapalan. Sejak era penjajahan Belanda, naluri masyarakat Indonesia beralih dari sektor maritim ke sektor perkebunan.

Padahal, menurutnya, untuk meningkatkan kembali sekaligus perkuat sektor Kemaritiman Indonesia harus diperkuat dengan memiliki armada kapal yang banyak. Hal itu dapat dijadikan strategi guna menggapai mimpi Indonesia untuk dapat mengembangkan sektor kelautan yang merupakan 70 persen dari luas wilayah Ibu pertiwi.

"Untuk menghidupkan kembali aktivitas perairan, kita harus perbanyak kapal," ujarnya di Kantor Kamar Dagang Indonesia (Kadin), Jakarta, Selasa, 22 Desember 2015.

Lebih jauh, Ade menceritakan, ketika bertugas di Selat Malaka, dia hanya melihat kapal-kapal Singapura yang melintas, dan sepi sekali kapal Indonesia. Artinya,  aktivitas aktif malah ada di Singapura, sedangkan aktivitas aktif kapal Indonesia sangat jarang.

"Kita muter-muter jaga, tapi kan sepi. Kadang-kadang sedih juga, yang dilihat lagi-lagi kapal-kapal Singapura yang menyeberangi Selat Malaka," tuturnya.

Padahal, Ade memandang konsep tol laut yang sedang dikembangkan pemerintah sangat luar biasa. Konsep itu akan membawa banyak manfaat dan keuntungan, tentunya dengan ketersediaan kapal yang banyak.

Pihaknya berharap, potensi kekayaan laut negara bisa dimanfaatkan dengan dibangunkan banyak kapal di Indonesia. Sementara TNI AL siap menjaga seluruh aktivitas


Credit  VIVA.co.id


Kapal RI Kalah Aktif Dibanding Singapura Sejak Era Penjajahan

\Kapal RI Kalah Aktif Dibanding Singapura Sejak Era Penjajahan\
Ilustrasi (Foto : Okezone)
JAKARTA - Kepala Staf TNI AL (KASAL) Ade Supandi mengatakan, sejak era penjajahan Belanja naluri masyarakat Indonesia pada sektor maritim mulai beralih pada sektor perkebunan. Guna meningkatkan kembali sektor maritim Indonesia harus menjadi negara dengan kapal yang banyak.
Ade menjelaskan, apapun strategi maritim, instrumen yang dipakai tetap sama yaitu kapal. Dengan menjadi negara kapal, maka mimpi Indonesia mengembangkan 70 persen luas wilayah pada sektor laut bisa diwujudkan.
"Enggak ada kapal ya mimpi saja bisa kembangkan 70 persen luas wilayah kita di sektor laut kan. Untuk menghidupkan kembali aktivitas perairan, kita harus perbanyak kapal," ujarnya di Kantor Kamar Dagang Indonesia (Kadin), Jakarta, Selasa (22/12/2015).
Jika dilihat, konsep tol laut yang sedang dikembangkan pemerintah dinilai sangat luar biasa. Konsep itu akan membawa banyak manfaat dan keuntungan, tentunya dengan ketersedian kapal yang banyak.
"Laut merupakan area penyeberangan tanpa hambatan. Laut juga sebagai media di mana mereka bisa membawa bawang dengan jumlah yang besar. Untuk mendukung tol laut, pemerintah juga harus memastikan ketersediaan kapal," terangnya.
Dirinya menceritakan, ketika bertugas di Selat Malaka, dirinya hanya melihat kapal-kapal Singapura yang melintas, dan sepi sekali kapal Indonesia. Artinya apa, aktivitas aktif malah ada di Singapura, sedangkan aktivitas aktif kapal Indonesia sangat jarang.
"Kita muter-muter jaga, tapi kan sepi. Kadang-kadang sedih juga, yang dilihat lagi-lagi kapal-kapal Singapura yang menyeberangi Selat Malaka,"tuturnya.
Dirinya berharap, potensi laut Indonesia bisa dimanfaatkan dengan dibangunkan banyak kapal di Indonesia dan TNI AL siap menjaga seluruh aktivitas.

Credit  Okezone