Selasa, 02 Februari 2016

China Usir Kapal Perang AS dari Laut Sengketa


China Usir Kapal Perang AS dari Laut Sengketa 
Jakarta, CB -- Pasukan militer China mengusir kapal perang Amerika Serikat yang mendekati pulau sengketa di Laut China Selatan. Ini bukan kali pertama militer kedua negara terlibat ketegangan di perairan tersebut.

Diberitakan AsiaOne, Minggu (31/1), Kementerian Pertahanan Nasional China mengatakan peristiwa itu terjadi pada Sabtu pekan lalu. Dalam pernyataannya, China mengatakan kapal perusak AS USS Curtis Wilbur memasuki perairan dekat kepulauan Xisha atau yang dikenal sebagai Paracel.

"Tentara China yang bermarkas di kepulauan itu dan kapal perang serta pesawat melakukan respons secepatnya, mengambil langkah pencegahan, identifikasi dan verifikasi terhadap kapal perang AS," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional China, Yang Yujun.

Yang mengatakan bahwa tindakan AS ini adalah pelanggaran serius hukum internasional dan berdampak terhadap keamanan dan perdamaian kawasan tersebut.

Juru bicara Pentagon Jeff Davis mengaku tidak ada kapal militer China yang berada di dekat USS Curtis Wilbur saat kapal perang itu mendekat sekitar 12 mil laut ke Pulau Triton di Paracel.

Davis mengatakan bahwa operasi tersebut dilakukan untuk menantang China sebagai pengklaim pulau itu yang mengharuskan kapal yang melintas untuk minta izin atau pemberitahuan.

AS menganggap kawasan itu sebagai perairan internasional yang seharusnya bisa dilalui pelayaran dengan bebas. Paracel diklaim juga oleh Vietnam dan Taiwan.

"Tidak ada negara pengklaim yang kami beritahu sebelum operasi itu, sesuai dengan protes normal dan hukum internasional," tegas Davis, dikutip Reuters.

Ini bukan kali pertama armada laut AS terlibat ketegangan dengan China di laut yang diklaim juga oleh beberapa negara di Asia. Sebelumnya pada akhir tahun lalu, kapal perang AS mendekat ke kepulauan Spratly, memicu protes keras dari China.

Pejabat AS yang dikutip Reuters saat itu mengatakan negaranya tidak kapok dan akan melakukannya lagi atas nama kebebasan navigasi di wilayah yang diyakini kaya minyak dan gas itu.

AS sejak tahun 2013 tidak pernah melakukan patroli laut di kawasan 12 mil laut dari tujuh wilayah yang diklaim China.

Menurut Yang, tindakan AS tersebut tidak layak karena membahayakan tentara kedua negara.

"Tindakan itu secara teknis sangat tidak profesional, sangat tidak bertanggung jawab bagi keamanan para tentara kedua pihak, dan sangat berbahaya," kata Yang.

Yang menegaskan China akan melakukan semua tindakan yang diperlukan dalam "mengamankan kedaulatan dan keamanan nasional tidak peduli jika AS yang melakukan tindakan provokasi."

Credit  CNN Indonesia