Senin, 21 Desember 2015

Alasan pengikut ISIS asal Indonesia paling sedikit


Alasan pengikut ISIS asal Indonesia paling sedikit
Nasaruddin Umar. (FOTO ANTARA/Zabur Karuru)
Ternyata Islam yang damai ya Islam yang diajarkan founding fathers kita, Soekarno dan Hatta
Jakarta (CB) - Mantan Wakil Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar mengatakan warga Indonesia yang menjadi ISIS tercatat paling sedikit dibanding negara lain, meski penduduk muslim Indonesia paling banyak di dunia.

"Itu tidak lepas dari keberadaan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) dan FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme ) yang tidak pernah lelah menjalankan program pencegahan terorisme," katanya dalam keterangan persnya, Sabtu.

Menurut Nasaruddin, fakta itu terungkap ketika ia diundang mengikuti World Summit di Gedung Putih dan mendapat kesempatan berbicara setelah Presiden Barack Obama.

"Karena fakta itu, banyak negara-negara Islam datang untuk belajar bagaimana hidup damai seperti di Indonesia," kata Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu.

Saat mengikuti acara di Liberia, Afrika, Nasaruddin mendengarkan khutbah berbahasa Inggris di mana khatib menyatakan bangga memiliki saudara seperti Indonesia yang bisa mengekspor pesawat dan bisa hidup berdampingan dengan berbagai suku bangsa serta agama.

"Fakta inilah yang seharusnya membuat bangsa Indonesia bangga. Saat orang-orang luar negeri melihat Indonesia, mereka pasti menjadi tahu apa sebenarnya Islam Indonesia itu," kata dia.

Intinya, lanjut Nasaruddin, Islam Indonesia tidak identik dengan terorisme karena Islam Indonesia adalah Islam rahmatan lil alamin, Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

"Tanpa embel-embel negara Islam, banyak yang kagum dengan Pancasila. Kita perlu belajar dari Piagam Hudaibiyah dan Piagam Jakarta. Ternyata Islam yang damai ya Islam yang diajarkan founding fathers kita, Soekarno dan Hatta," kata Nasaruddin.

Mengutip kitab suci Al Quran, Nasaruddin mengatakan bahwa pertumpahan darah tidak akan berakhir selama manusia itu ada. Yang bisa dilakukan adalah memperkecil kemungkinan terjadinya pertumpahan darah tersebut.

"Mustahil manusia bisa kompak bersatu seperti yang diimajinasikan. Kini tugas kita adalah melatih hidup di tengah perbedaan, bukan menyatukan perbedaan itu, demi untuk menciptakan perdamaian untuk meminimalisir aksi kekerasan ataupun terorisme," katanya.

Credit  ANTARA News