Rabu, 16 Agustus 2017

Donald Trump dan Bangkitnya Supremasi Kulit Putih di AS


Donald Trump dan Bangkitnya Supremasi Kulit Putih di AS Bentrokan Charlottesville disebut pengamat sebagai bentuk persatuan kelompok sayap kanan. (REUTERS/Joshua Roberts)



Jakarta, CB -- Protes yang berujung kematian tiga orang di Charlottesville, Virginia mengejutkan Amerika Serikat. Elemen kejutan terutama terlihat dari tayangan televisi yang menampilkan setidaknya 1000 pendukung neo-Nazi dan supremasi kulit putih, dijaga pasukan ‘militan’ berseragam rompi anti peluru dan mengokang senjata semi otomatis.

Didukung retorika Presiden Donald Trump yang ingin “mengembalikan kejayaan Amerika Serikat” dan kemudahan ‘propaganda’ yang disediakan media sosial, generasi baru supremasi kulit putih mulai mengakar di Negeri Paman Sam.

Pandangan baru itu dipicu kaum muda kulit putih yang mengeksploitasi ketakutan masyarakat akan imigran dari Amerika Latin dan militan Islam radikal, juga bergesernya budaya masyarakat global.

Analis memperkirakan supremasi kulit putih generasi baru ini punya ribuan anggota dan pendukung yang jumlahnya mencapi ratusan ribu. Mereka menggantikan aktivis rasisme, anti-pemerintah dan fasis lama, termasuk Ku Klux Klan, yang kini anggotanya telah menyusut.



Di sisi lain, kemudahan penyebaran ideologi yang ditawarkan sosial media, membuat gerakan alternatif kanan atau yang lebih dikenal dengan nama ‘alt-right’, tumbuh semakin subur. Paham alternatif kanan merupakan kelompok dengan ideologi ekstrem kanan yang menolak konservatisme mainstream demi mendukung nasionalisme kulit putih, terutama di AS.

“Mereka [kelompok alternatif kanan] kini bergerak bersamaan,” kata Spencer Sunshine dari Political Research Associates, yang fokus meneliti kelompok sayap kanan.

“Kebangkitan gelombang rasisme ala Trump mendulang pertumbuhan kelompok-kelompok sayap kanan baru,” kata Sunshine, yang menyebut insiden Charlottesville sebagai “Protes Persatuan Sayap Kanan”.

Lunturnya Multikulturalisme

Sunshine juga mengungkapkan bahwa kebangkitan kelompok alternatif kanan ini menunjukkan hilangnya identitas Amerika yang multikultural dan mengembalikan pandangan ‘nasionalisme kulit putih’ juga budaya ‘tradisional’ Eropa-sentris sebagai fondasi budaya AS.

Bangkitnya kelompok supremasi kulit putih di AS dipicu retorika Presiden Donald Trump dan sosial media.Bangkitnya kelompok supremasi kulit putih di AS dipicu retorika Presiden Donald Trump dan sosial media. (REUTERS/Joshua Roberts)
Kembalinya cara pandang ini juga membuat Amerika semakin ‘alergi’ dengan komunitas yang dianggap berbeda, termasuk bagi minoritas Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).

Padahal, sebelumnya AS dianggap sebagai tanah kebebasan bagi kelompok minoritas.



Di sisi lain, kelompok alternatif kanan ini juga dikipasi struktur politis yang kini didominasi konservatif tradisional dan libertarian. Tumbuhnya media seperti Beibart News milik Steve Bannon, yang merupakan penasihat Trump, membuat suara kelompok sayap kanan itu semakin keras dan provokatif.

Tapi, komunitas periset anti-ekstrimis Southern Policy Law Center (SPLC) menyebut bahwa kaum alternatif kanan “masih jalan di tempat”.

“Mereka tidak berubah, hanya berganti jubah. Mereka merupakan keturunan dari kelompok yang supremasi kulit putih yang lama, dan masih berhubungan dengan Ku Klux Klan dan neo-Nazi,” sebut SPLC, dikutip AFP.

SPLC menyebut hal itu terlihat dari banyaknya anggota kelompok tersebut yang hadir di protes Charlottesville. Demo yang digelar pada Sabtu (12/8) itu dipimpin Richard Spencer, pemimpin kelompok Vanguard America yang berpandangan neo-Nazi dan supremasi kulit putih.

Spencer juga diketahui mengepalai sebuah firma think-tank bernama National Policy Institute di Washington yang “mendedikasikan diri pada warisan, identitas dan masa depan keturunan Eropa di Amerika Serikat”.

Dalam protes Charlottesville, pendukung Vanguard America terdengar meneriakkan slogan "blut und boden" atau “darah dan tanah” yang merupakan slogan pendukung Hitler di tahun 1930an.

Selain Vanguard America, kelompok alternatif kanan lainnya yang juga hadir di protes Charlottesville adalah Identity Evropa dan Traditionalist Workers Party, dua kelompok anti-Yahudi.

Kelompok Pembela Budaya Selatan

Protes Charlottesville berfokus pada rencana pemindahan patung Robert E. Lee, jenderal yang memimpin wilayah selatan dalam Perang Sipil 1860.

Pemindahan patung itu memicu munculnya tipe kelompok alternatif kanan lainnya, yakni para pembela budaya selatan yang berkomitmen melestarikan “tradisi kulit putih wilayah selatan”.

Bentrokan di Charlottesville pada Sabtu (12/8) menewaskan seorang wanita.Bentrokan di Charlottesville pada Sabtu (12/8) menewaskan tiga orang warga sipil. (REUTERS/Joshua Roberts)
Mereka juga menolak pandangan bahwa perang sipil tahun 1860 adalah tentang pembebasan perbudakan kulit hitam di AS dan mengidolakan Jenderal Lee sebagai “pahlawan kulit putih”.

Penyelenggara protes Charlottesville, Jason Kessler, menyebut pemindahan patung itu sama dengan “genosida kulit putih”.

Selain itu, kelompok pembela budaya selatan lainnya yang juga muncul adalah League of the South, yang mengimbau keluarga kulit putih untuk "memisahkan diri” dari budaya postchristianity di Amerika, serta Confederate Riders of America, kelompok biker yang mengatakan bahwa budaya selatan "diserang".

Kolaborasi Militan dan Alternatif Kanan

Protes kelompok alternatif kanan itu, menurut SPLC, menarik perhatian komunitas anti-pemerintah garis keras yang menyebut diri mereka sebagai ‘patriot nasionalis’.


Di protes Charlottesville, para patriot ini hadir sebagai militan bersenjata dan siap melakukan kekerasan.

SPLC memperkirakan terdapat 165 kelompok anti-pemerintah garis keras ini. Alih-alis isu ras, mereka lebih fokus menentang pemerintah soal regulasi dan pajak. Kebanyakan anggota kelompok ini punya ideologi neo-Nazi dan anti-Amerika.

“Kelompok yang paling berpengaruh adalah Oath Keepers, yang terbentuk dari kelompok militan pembela konstitusi yang punya ideologi libertarian,” papar SPLC.

Sunshine sepakat bahwa kemunculan kembali kaum militan ini mengkhawatirkan, terutama dengan adanya dukungan kelompok supremasi kulit putih.

Dia merujuk pada insiden pada 2014 dan 2015 dimana militan bersenjata mendadak hadir di demonstrasi anti-Polisi di Ferguson, Missouri. Mereka menunjuk diri sendiri sebagai “pasukan pelindung” yang bersiap menekan para demonstran Afrika Amerika.

Kejadian serupa terlihat di Charlottesville, dimana kelompok militan datang dengan senjata berjenis senapan AR-15. Mereka, sebut Sunshine, bertugas sebagai “pelindung” kendati tidak ikut ambil bagian dalam perkelahian.

“Mereka mundur dan menjauh saat bentrokan pecah,” sebut Sunshine.








Credit  CNN Indonesia