Jumat, 13 Juli 2018

Trump:Tidak Ada Lagi Senjata Nuklir


Trump:Tidak Ada Lagi Senjata Nuklir
Trump:Tidak Ada Lagi Senjata Nuklir. (Koran SINDO. Reuters).

BRUSSELS - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kesepakatan terbaik yang pernah tercapai dengan Presiden Rusia Vladimir Putin akan menjadikan tidak ada satu pun senjata nuklir di dunia.

Putin dan Trump akan bertemu ada Senin (16/7) di Helsinki, Finlandia. Itu akan menjadi pertemuan bersejarah di mana kedua pemimpin dunia itu bertemu secara langsung dan tatap muka. Banyak pihak menyangkan pertemuan tersebut, terutama negara Eropa yang menganggap Rusia masih sebagai musuh yang berbahaya.

“Apa yang akan menjadi hal besar? Ayo lihatlah. Tidak ada lagi senjata nuklir di mana pun di dunia, tidak ada perang lagi, tidak ada masalah lagi, tidak ada konfli. Itulah yang akan menjadi prioritas saya,” jawab Trump ketika ditanya kemungkinan hasil pertemuan dengan Putin, dilansir Reuters, kemarin.

Trump juga menegaskan kalau pertemuan dengan Putin pekan menjadi hal paling mudah dalam kunjungannya ke Eropa. Dia mengungkapkan, Moskow adalah kompetitor, dan bukan sebuah musuh.

Ketika ditanya ketika Putin mengajukan sebuah ancaman, Trump mengatakan, “saya tidak ingin dia seperti itu dan itulah kenapa kita memiliki NATO.” “Dia (Putin) adalah competitor,” ujarnya. “Apakah dia adalah musuh saya? Dia bukan musuh saya. Harapannya suatu hari mungkin dia akan menjadi teman. Saya tidak mengetahui dia dengan baik,” tutur Trump.

Dalam pertemuan dengan Putin, Trump akan membawa isu kontrol persenjataan, memperpanjang pakta baru, dan pelanggaran traktat kekuatan nuklir jangka menengah. “Kita akan bertemu untuk mencari hal yang lebih banyak. Kita ingin menemukan solusi tentang Suriah. Kita juga berbicara tentang Ukraina,” katanya.

Sementara itu, Kremlin kemarin menolak deskripsi dari Trump tentang Jerman sebagai “tahanan” Rusia karena ketergantungan energi. Rusia menuding tudingan Trump sebagai sindiran bagi Eropa agar membeli pasokan energi dari AS saja.

Trump mengungkapkan pada Jerman pada konferensi NATO di Brussels bahwa sangat salah mendukung pipanisasi Laut Baltik untuk mengimpor gas Rusia sementara tidak mampu memenuhi target NATO untuk belanja pertahanan. Komentar pedas Trump justru diungkapkan menjelang pertemuan dengan Putin di Helsinki.

“Pernyataan Trump menunjukkan ekskalasi kampanye AS untuk mengabaikan suplai gas Rusia ke Eropa agar mendorong sektor energi AS bangkit,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov. Dia mengungkapkan Moskow tidak setuju dengan kritikan Trump tentang ketergantungan Jerman sebagai pembeli gas utama Rusia. “Pasokan gas tidak memicu ketergantungan satu negara terhadap negara lain. Itu merupakan jaminan stabilitas dan pembangunan masa depan,” katanya.

Peskov menganggap keberatan AS terhadap pipanisasi baru sebagai “kompetisi tidak adil” yang bertujuan untuk menekan negara Eropa membeli gas alam dari AS. “Kita menganggap itu adalah pertanyaan tentang kompetisi ekonomi. Pembeli harus memutuskan keputusannya sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Gregory Feifer, direktur eksekutif Institute of Current World Affairs, mengatakan perang kata antara Trump dan para pemimpin NATO lainnya menunjukkan kemunduran dalam hubungan AS dan Eropa. Apalagi, sebagian pemimpin Erop sangat khawatir dan marah dengan pertemuan Trump dan Putin.

“Putin bisa membujuk Trump untuk menghalangi latihan militer NATo di Polandia dan negara Baltik, dan memperlonggar sanksi AS terhadap Rusia,” kata Feifer.

Dalam pandangan Feifer, apapun yang terjadi, konferensi Trump-Putin akan memperdalam konflik antara AS dan aliansi Eropanya. Dilemanya adalah sikap antogonis Trump terhadap NATO akan merugikan AS sendiri. “Trump ingin memperkuat serangannya pada persatuan NATO,” ujarnya. 


Upaya mendekatkan Trump-Putin juga disindir Presiden Dewan Eropa Donald Tusk. Dia mengatakan Uni Eropa menghabiskan banyak pertahanan terhadap Rusia dibandingkan China. “Apreasi sekutumu,” demikian pesan Tusk kepada Trump.


Credit  sindonews.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar