Rabu, 25 Mei 2016

Menguak Emas Terpendam di Taman Lorentz Papua


Menguak Emas Terpendam di Taman Lorentz Papua  
Taman Lorentz, Papua. (Ebbie Vebri Adrian)
 
Jakarta, CB -- "Ya benar, kami punya datanya. Besarnya kemungkinan sampai 900 ton cadangan emas di sana. Itu artinya lebih besar dari cadangan emas yang kini dimiliki Indonesia."

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan akhir tahun lalu menjawab pertanyaan CNNIndonesia.com soal kabar adanya cadangan emas yang belum tersentuh di Bumi Cenderawasih Papua.

Sesekali Luhut melirik stafnya seperti meyakinkan diri sendiri atas informasi yang didedahkan dalam kesempatan wawancara khusus itu. Pada pembahasan eksklusif itu, Luhut sumringah. Ia optimistis Indonesia bisa mengelola cadangan-cadangan emas yang dimiliki.

“Selama ini memang Indonesia belum jadi bosnya,” kata Luhut sembari tersenyum.

Papua diprediksi memiliki kekayaan bahan galian berharga, namun belum tereksplorasi dan tereksploitasi dengan baik.

Hingga kini, hanya PT Freeport Indonesia satu-satunya perusahaan yang menambang emas dan tembaga di pulau yang bagian utaranya mirip kepala burung. Grasberg yang dikelola Freeport merupakan tambang emang terbesar di dunia.

Keingintahuan membuat kami menelusuri lebih lanjut mengenai potensi mineralisasi di Papua itu. Informasi awal kami peroleh dari seorang ahli pertambangan. Dia sudah lama mengamati adanya tiga titik intrusi atau batuan beku sebagai petunjuk adanya potensi mineralisasi emas yang lokasinya tak jauh dari tambang Freeport.

Kami pun menindaklanjuti dengan mempelajari peta geologi lembar Timika yang dikeluarkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi tahun 1995. Dari peta berskala 1:250.000 memang jelas terlihat ada tiga titik intrusi yang berjarak antara 16 hingga 60 kilometer dari tambang emas Grasberg.

Tiga titik ini masuk kedalam kawasan Taman Nasional Lorentz, yang telah dijadikan United Nations Educational, Scientific dan Cultural Organizations (UNESCO) sebagai Situs Warisan Dunia.

 
Taman Lorentz, Papua. (Ebbie Vebri Adrian)
Menindaklanjuti peta geologi tersebut, kami mewawancarai salah satu praktisi geologi yang terlibat dalam pembuatan peta. Selain itu, kami mewawancara beberapa pihak seperti ahli geologi, pertambangan, dan mantan pejabat untuk menggali informasi lebih lanjut.

Mantan Dirjen Geologi dan Sumberdaya Mineral Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Simon Sembiring, yang pernah berkunjung ke kawasan Taman Lorentz menyatakan adanya kemiripan Grasberg dengan wilayah konservasi itu. Taman Lorentz merupakan wilayah tundra atau pegunungan tanpa pepohonan.

Simon menyatakan, dari kemiripan wilayah, kemungkinan tersimpan potensi mineralisasi termasuk emas dan tembaga.

“Apalagi pulau Papua secara keseluruhan memang terbukti memiliki kekayaan mineral,” kata Simon kepada CNNINdonesia.com, akhir April lalu.

Dari buku Grasberg karya George A Mealey, salah satu komisaris PT Freeport Indonesia, menjelaskan Grasberg merupakan wilayah tundra. Pertumbuhan pohon dan semak di Grasberg terhalang oleh tanah yang bersifat asam, tetapi tidak menjadi masalah bagi jenis rumput kasar untuk tumbuh.

Anomali vegetasi ini yang menjadi salah satu petunjuk adanya kandungan emas. “Keasaman tanah adalah hasil proses pelindian alam terhadap mineral-mineral sulfida yang mengandung tembaga dan emas,” tulis Mealey.

Untuk menggambarkan proses penambangan, kami juga mengulas mengenai sejarah panjang PT Freeport menambang emas dan tembaga di Papua.
Dari beberapa ahli yang kami temui, untuk memastikan cadangan emas di sebuah wilayah memerlukan penelitian lebih lanjut lewat pemeriksaan bebatuan di laboratorium. Wilayah Taman Lorentz yang tak terjamah dan perlunya izin khusus memasuki wilayah itu, membuat kami tak melakukan investigasi sejauh itu.

Foto-foto Taman Lorentz yang kami tampilkan diperoleh melalui izin khusus dari Ebbie Vebri Adrian, fotografer yang menjepret Taman Lorentz dari atas ketinggian 5 ribu meter di atas permukaan laut.


Credit  CNN Indonesia