Senin, 01 Februari 2016

Rini Akui Indonesia Punya Pengalaman Buruk dengan China


 
ESTU SURYOWATI/Kompas.com Menteri BUMN Rini M Soemarno menembak di lapangan tembak PT Pindad (Persero), Bandung, Sabtu (27/6/2015). Saat ini produksi peluru Pindad mencapai 200 juta butir. Sedangkan, kebutuhan yang harus dipenuhi mencapai 700 juta butir.

JAKARTA, CB - Menteri BUMN, Rini Soemarno mengakui bahwa Indonesia punya banyak pengalaman buruk dengan perusahaan China dalam pembangunan infrastruktur. Tetapi ia yakin pengalaman tersebut tidak akan terulang dalam pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung.

Rini mengatakan, keyakinan ini didasarkan pada beberapa faktor. Pertama, proses pendahuluan sebelum pemerintah memutuskan untuk memberikan proyek kereta cepat ke China Railway Corporation.

"Itu ada tim yang melihat dan tim sudah memberikan laporan kepada saya, dan saya lihat semua secara hati- hati, maka diambil keputusan," katanya di Jakarta akhir pekan ini.

Selain itu, keyakinan juga didasarkan pada kemampuan China dalam membangun jalur kereta cepat. "China sudah bangun 18 ribu kilometer kereta cepat dan itu tidak ada negara di dunia yang sudah bangun begitu cepat," katanya.

Meskipun diklaim akan baik,  sejumlah anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) meminta pemerintah untuk mengkaji kembali rencana pembangunan Proyek kereta cepat Jakarta- Bandung. Mereka bahkan meminta kepada pemerintah untuk membatalkan proyek tersebut.

Dalam Rapat Paripurna Luar Biasa DPD yang khusus digelar untuk mempertanyakan pembangunan proyek tersebut, M. Syukur, anggota DPD dari Jambi misalnya mengatakan, ada permasalahan yang harus dijelaskan sampai tuntas oleh pemerintah sebelum melanjutkan proyek tersebut.

Salah satunya, mengenai biaya investasi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang mencapai 5,5 miliar dollar AS atau jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan proyek kereta cepat Teheran-Isfahan hanya mencapai 2,7 miliar dollar AS.

"Padahal kontraktor sama, panjangnya kabarnya lebih panjang di Iran," katanya.



Credit  KOMPAS.com