Senin, 23 Juli 2018

Gerilyawan Suriah mundur dari perbatasan Golan


Gerilyawan Suriah mundur dari perbatasan Golan
Dokumen foto pos pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Dataran Tinggi Golan, perbatasan Israel dengan Suriah. (REUTERS/Baz Ratner )

"Kami menunggu operasi itu dimulai dan semoga saja bisa dimulai pada hari ini."



Beirut (CB) - Gerilyawan Suriah mulai meninggalkan kawasan Dataran Tinggi Golan, yang berbatasan langsung dengan Israel, Jumat (20/7).

Mereka akan meninggalkan daerah itu sesuai dengan kesepakatan penyerahan wilayah kepada Presiden Bashar al Assad.

"Kami menunggu operasi itu dimulai dan semoga saja bisa dimulai pada hari ini," kata Hammam Dbayat, Gubernur Provinsi Quneitra, kepada Reuters.

Sejumlah bus telah disiapkan untuk mengangkut para gerilyawan itu ke Provinsi Idlib di kawasan barat laut Suriah.

Rekaman video Reuters dari sisi perbatasan Israel menunjukkan sejumlah pria menaiki truk penuh barang, yang kemudian meninggalkan desa al Qahtaniya di perbatasan Golan. Tidak diketahui ke mana tujuan kendaraan itu.

Puluhan ribu orang melindungi diri di sejumlah tempat penampungan di daerah perbatasan yang sama sejak pihak pemerintah memulai operasi militer satu bulan lalu.

Gerilyawan di Quneitra sepakat pada Kamis untuk memilih antara menerima kekuasaan pemerintah, atau meninggalkan wilayah itu ke Idlib di utara. Populasi di Idlib semakin membengkak arus warga Suriah yang melarikan diri dari serangan Bashar di area lain.

Operasi militer pemerintah Suriah telah berhasil membebaskan sebagian besar wilayah di barat daya, yang sangat strategis karena berbatasan dengan Yordania dan Israel.

Kemenangan pemerintah di barat daya merupakan salah satu kemenangan yang paling signifikan selama tujuh tahun perang di negara itu. Amerika Serikat, yang dulu sempat memberi senjata pada gerilyawan di selatan, telah memperingatkan gerilyawan untuk tidak berharap intervensi dari Washington.

Meski banyak wilayah Suriah yang belum dikuasai pemerintah, operasi militer Bashar dalam dua tahun terakhir semakin membuat dia dekat dengan kemenangan.

Situasi ini membuat gerilyawan hanya punya satu wilayah besar tersisa, di wilayah barat laut yang berbatasan dengan Turki yang merentang dari Provinsi Idlib sampai dengan kota Jarablus di Aleppo.

Selain itu, sebagian wilayah timur laut dan timur juga masih di luar kontrol Bashar, karena masih dikuasai milisi Kurdi, dengan dukungan 2.000 tentara Amerika Serikat di darat.

Gubernur Dbayat masih belum mengetahui seberapa banyak gerilyawan yang akan meninggalkan Quneitra, dan pemerintah telah menyediakan 45 bus.

"Kami siap untuk memindahkan milisi keluar dari area ini. Dan setelah selesai, kami akan segera memulihkan layanan kepada para warga, termasuk listrik dan air," kata dia.

Serangan di Quneitra membuat lebih dari 320.000 orang mengungsi ke perbatasan selatan, dekat dengan Israel dan Yordania, yang sudah menegaskan tidak akan menerima pengungsi.



Credit  antaranews.com