Kamis, 30 November 2017

Baku Tembak, 6 Pemberontak Komunis Perempuan Filipina Tewas


Baku Tembak, 6 Pemberontak Komunis Perempuan Filipina Tewas
Setidaknya enam perempuan masuk dalam daftar 15 pemberontak komunis yang tewas pada baku tembak dengan militer Filipina di Kota Nasugbu pada Rabu (29/11). (AFP Photo/Noel Celis



Jakarta, CB -- Setidaknya enam perempuan masuk dalam daftar 15 pemberontak komunis yang tewas pada baku tembak dengan militer Filipina di Kota Nasugbu pada Rabu (29/11).

Juru bicara militer Nasugbu, Teody Toribio, mengatakan bahwa baku tembak itu bermula ketika tentara mencoba menghentikan satu mobil dan truk yang berisi sejumlah orang bersenjata di satu jalan raya.

Baku tembak pecah hingga menewaskan 15 orang, termasuk seorang mahasiswa perempuan. Toribio mengatakan, militer yakin semua orang yang berada dalam truk tersebut adalah anggota Tentara Rakyat Baru (NPA), sayap militer kelompok pemberontak Partai Komunis Filipina (CPP).


"Apa yang dia lakukan di dalam kendaraan yang penuh senjata? Kami yakin seratus persen mengenai mereka," ucap Toribio kepada AFP.


Namun, sejumlah tokoh CPP meragukan orang-orang dalam truk tersebut adalah anggota NPA. Menurut mereka, militer Filipina kerap menuding sekelompok orang sebagai anggota NPA untuk melegalkan pembunuhan.

Sementara itu, kepala militer regional setempat, Ernesto Ravina, mengatakan bahwa bentrokan ini pecah karena Presiden Rodrigo Duterte memutuskan untuk menghentikan perundingan damai dengan pemberontak komunis.

Perundingan damai untuk mengakhiri konflik yang sudah merenggut 30 ribu nyawa ini sudah berulang kali dilakukan, tapi tak pernah membuahkan hasil.


Duterte sendiri berjanji membuka kembali perundingan damai ini tak lama setelah ia dilantik menjadi presiden pada tahun lalu.

Perundingan itu pertama kali digelar pada Mei lalu, kemudian dilanjutkan dua bulan kemudian, setelah gerilyawan NPA menyerang sejumlah pasukan keamanan.

Namun, Duterte geram setelah para sekelompok pemberontak komunis melakukan serangan di selatan Filipina pada bulan ini hingga menewaskan satu personel kepolisian dan bayi berusia empat bulan.

"Jika kalian terus bersikap seperti itu, kita akan berperang karena bahkan warga sipil menjadi korban. Kita harus menghentikan perundingan ini," katanya.



Credit  cnnindonesia.com