Rabu, 29 November 2017

Sri Sultan Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana di DIY


Petugas BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) menunjuk area pergerakan badai Siklon Tropis Cempaka di Laboratorium BMKG Banten, di Serang, Selasa (28/11). Pihak BMKG merilis peringatan level Siaga cuaca ekstrem hingga tanggal 1 Desember akibat pergerakan Siklon Tropis Cempaka yang semakin besar di Selatan Pulau Jawa.
Petugas BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) menunjuk area pergerakan badai Siklon Tropis Cempaka di Laboratorium BMKG Banten, di Serang, Selasa (28/11). Pihak BMKG merilis peringatan level Siaga cuaca ekstrem hingga tanggal 1 Desember akibat pergerakan Siklon Tropis Cempaka yang semakin besar di Selatan Pulau Jawa.


CB, YOGYAKARTA -- Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X secara lisan sudah menetapkan siaga darurat bencana di DIY mulai hari ini (29/11) sampai akhir Januari 2018. Hal itu disampaikan Sekda DIY Gatot Saptadi didampingi Plt Kepala BPBD DIY Krido Suprayitno usai bertemu dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kepatihan Yogyakarta, Rabu (29/11).
Status siaga darurat bencana ini didasarkan atas peringatan dari BMKG. Artinya, penetapan status untuk mengoptimalkan potensi semua SKPD masyarakat untuk bisa satu dalam penanganan bencana. Akibat bencana, hingga hari ini, ada empat warga meninggal dunia.

Hingga Selasa (28/11) malam total bencana terpantau ada di 141 titik. Bencana didomnasi banjir. "Banjir belum pernah terjadi di Gunungkidul. Angin kencang dan longsor di Bantul," kata Krido menambahkan. Pada hari ini, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X akan meninjau lokasi bencana di Bantul, Gunungkidul, dan Sleman.



Credit  REPUBLIKA.CO.ID

BPBD DIY: 579 KK Terdampak Siklon Cempaka


Petugas BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) menunjuk area pergerakan badai Siklon Tropis Cempaka di Laboratorium BMKG Banten, di Serang, Selasa (28/11). Pihak BMKG merilis peringatan level Siaga cuaca ekstrem hingga tanggal 1 Desember akibat pergerakan Siklon Tropis Cempaka yang semakin besar di Selatan Pulau Jawa.
Petugas BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) menunjuk area pergerakan badai Siklon Tropis Cempaka di Laboratorium BMKG Banten, di Serang, Selasa (28/11). Pihak BMKG merilis peringatan level Siaga cuaca ekstrem hingga tanggal 1 Desember akibat pergerakan Siklon Tropis Cempaka yang semakin besar di Selatan Pulau Jawa.


CB, YOGYAKARTA -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat 579 kepala keluarga di daerah itu terdampak bencana tanah longsor, banjir, dan angin kencang akibat cuaca ekstrem yang dipicu fenomena siklon tropis cempaka. Pelaksana Tugas Kepala BPBD DIY Krido Suprayitno saat ditemui di Kantor Pusdalop BPBD DIY, Selasa (28/11) malam, mengatakan bahwa ratusan kepala kelurga (KK) terdampak bencana tersebut telah melakukan evakuasi secara mandiri di lokasi yang aman.

"Selain dibantu tim gabungan, mereka melakukan evakuasi secara mandiri di rumah-rumah tetangga yang lokasinya lebih aman," kata Krido.

Dari 579 KK terdampak bencana yang tercatat di Pusdalop BPBD DIY, menurut dia, sebagian besar ada di Kabupaten Gunung Kidul mencapai 513 KK akibat bencana banjir, disusul Kabupaten Bantul 34 KK, dan Kota Yogyakarta 32 KK. Di Kota Yogyakarta, menurut dia, sebagian besar warga terdampak tinggal di bantaran sungai.

Seperti diberitakan, di bantaran Sungai Winongo Yogyakarta, tepatnya di di Kampung Jlagran, Pringgokusuman, Gedongtengen, Kota Yogyakarta, Selasa (28/11) siang, telah terjadi bencana longsor yang menimpa rumah warga. Dalam peristiwa itu dua korban meninggal dunia dan satu korban belum ditemukan.

BPBD DIY, menurut dia, telah menyiapkan berbagai logistik yang diperlukan, di antaranya 144 paket buferstok, 120 paket makanan siap saji, 180 lauk pauk, dan 140 paket untuk pemenuhan gizi. "Sebanyak 70 paket makanan, 20 paket deklit, dan 20 paket seng sudah kami dorong sudah terdistribusi di kabupaten," katanya.

Berdasarkan data BPBD DIY, cuaca ekstrem yang dipicu siklon tropis cempaka selama 2 hari mengakibatkan 114 titik bencana di lima kabupaten/kota di DIY. Dari 114 titik bencana itu, yang paling mendominasi adalah bencana angin kencang sebanyak 68 titik yang tersebar di Kabupaten Bantul yang teridentifikasi di 32 titik, Kulon Progo 12 titik, Gunung Kidul 28 titik, dan Kabupaten Sleman 12 titik.

Bencana banjir terdapat di 29 titik dengan jumlah dominan di Kabupaten Gunung Kidul yang mencapai 20 titik dan 9 titik lainnya tersebar merata di kabupaten lainnya. Selanjutnya, untuk bencana tanah longsor, Krido menyebutkan berdasarkan data terakhir terdapat di 44 titik, yakni di Bantul 20 titik, Kulon Progo 10 titik, Gunung Kidul 6 titik, Sleman 3 titik, dan Kota Yogyakarta 4 titik.

Akibat luasnya cakupan lokasi bencana tersebut, untuk mekanisme penanganannya, menurut Krido, telah dinaikkan ke Level II yang berarti akan melibatkan SKPD di lima kabupaten/kota. "Mengapa dari Level I kami naikkan ke Level II? Karena ini tidak bisa ditangani BPBD DIY sendiri," katanya.






Credit  REPUBLIKA.CO.ID