Kamis, 30 November 2017

Rudal Korut Semakin Mampu Hantam Sasaran di Seluruh Dunia


Korea Utara kembali meluncurkan rudal balistik setelah berhenti melakukannya sejak yang terakhir kali 15 September 2017.
Korea Utara kembali meluncurkan rudal balistik setelah berhenti melakukannya sejak yang terakhir kali 15 September 2017.


CB, MELBOURNE -- Jangkauan rudal balistik Korea Utara kali ini semakin meninggi, menurut pejabat AS, memperingatkan rezim ini semakin mendekati kemampuan mencapai sasaran "dimana pun di dunia" dengan serangan nuklir.
Rudal balistik antarbenua tersebut diluncurkan pada Rabu (29/11) dini hari, tampaknya dari dekat Pyongyang, pada tes pertama sejak Korut melepaskan rudal ke arah Jepang pada pertengahan September. Rudal kali ini mencapai ketinggian 4.000 kilometer, meluncur selama 50 menit sebelum turun sekitar 1.000 kilometer jauhnya di perairan barat Jepang.
"Jangkauannya menjadi lebih tinggi, terus terang, daripada tembakan mereka sebelumnya," kata Menteri Pertahanan AS James Mattis pagi ini.
"Ini upaya penelitian dan pengembangan mereka dalam membangun rudal balistik yang pada dasarnya dapat mengancam dimana pun di dunia," ujarnya.
"Intinya adalah upaya terus-menerus membangun ancaman rudal balistik yang membahayakan perdamaian dunia," tambah Mattis.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan mendapatkan pengarahan saat rudal masih berada di udara, dan kemudian mengatakan kepada wartawan AS akan menanganinya. "Ini adalah situasi yang akan kami tangani," katanya.
Pentagon mengatakan rudal tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi wilayah AS atau sekutunya. Militer Korea Selatan langsung melakukan latihan penembakan rudal sebagai respons terhadap provokasi tersebut, sementara Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe memanggil menteri kabinetnya untuk rapat pada sekitar Pukul 3.30 dinihari waktu setempat.
PM Abe langsung meminta digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB dan mengatakan Jepang akan "tidak mentolerir tindakan sembrono Korea Utara".
Menlu Australia Julie Bishop turut mengecam ujicoba Korut tersebut. "Pemerintah Australia mengecam sekeras-kerasnya tindakan Korut yang terus melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Kami meminta rezim Korea Utara untuk meninggalkan program ilegal mereka," katanya.

Blokade di Laut Jepang

Setelah menembakkan rudal dengan interval sekitar dua atau tiga bulan sejak April 2017, Korea Utara sempat menghentikan peluncuran misilnya pada akhir September, setelah tembakan rudal yang melewati Pulau Hokkaido pada 15 September.
Pekan lalu, Korut mengecam keputusan Presiden Trump untuk memasukkan kembali negara ini sebagai negara sponsor terorisme. Korut menyebut tindakan itu sebagai "provokasi serius dan pelanggaran kekerasan".
Tindakan AS itu memungkinkannya untuk menjatuhkan lebih banyak sanksi atas Korut, meskipun sejumlah pihak memperingatkan bahwa hal itu berisiko memicu ketegangan.
Setelah peluncuran hari ini, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mendesak masyarakat internasional mengambil langkah baru untuk menekan Pyongyang menghentikan pengembangan senjata nuklir.
"Selain menerapkan semua sanksi PBB yang ada, masyarakat internasional harus mengambil tindakan tambahan untuk meningkatkan keamanan maritim, termasuk hak untuk menunda lalu lintas maritim (ke Korea Utara)," katanya dalam sebuah pernyataan.
Presiden Trump saling melontarkan penghinaan dan ancaman dengan pemimpin Korut Kim Jong-un. Dalam pidato perdananya di PBB pada bulan September, Trump menyatakan bahwa AS tak memiliki pilihan selain "menghancurkan total" Korut jika dipaksa membela diri atau sekutunya.
Washington telah berulang kali mengatakan bahwa semua opsi masib terbuka dalam berurusan dengan Korut, termasuk opsi militer, namun lebih menyukai solusi damai jika Pyongyang setuju melepaskan program nuklir dan rudalnya.
Untuk tujuan ini, Trump telah menerapkan kebijakan untuk mendorong negara-negara di seluruh dunia, termasuk sekutu dan tetangga Korut, Cina, untuk meningkatkan sanksi terhadap Pyongyang guna meyakinkannya untuk menghentikan program persenjataan.


Credit  republika.co.id


Korut Klaim Rudalnya Bisa Hantam Seluruh Daratan Amerika


Korut Klaim Rudalnya Bisa Hantam Seluruh Daratan Amerika
Pemerintahan Kim Jong-un mengklaim berhasil menguji coba rudal yang bisa menghantam seluruh daratan Amerika. (KCNA via REUTERS)



Jakarta, CB -- Korea Utara menyatakan telah berhasil menguji coba peluru kendali balistik antarbenua (ICBM) yang bisa mencapai seluruh daratan utama Amerika Serikat. Rudal itu diluncurkan Rabu (29/11) ke arah lautan dekat Jepang.

Uji coba pertama sejak September ini dilakukan sepekan setelah Presiden AS Donald Trump kembali memasukkan Korut ke dalam daftar hitam pendukung terorisme sehingga bisa menjatuhkan sanksi lebih berat.

Korea Utara, yang melakukan uji coba nuklir terbesarnya pada September lalu, telah menembakan puluhan rudal uji coba di bawah kepemimpinan Kim Jong-un, menentang serangkaian sanksi internasional yang telah dijatuhkan. Rudal yang terakhir ini memecahkan rekor ketinggian dan jarak yang pernah diccapai sejauh ini.


Korut menyatakan rudal baru ini mencapai ketinggian sekitar 4.475 kilometer--10 kali lebih tinggi dari ketinggian Stasiun Luar Angkasa Internasional atau ISS--dan terbang sejauh 950 kilometer saat mengudara selama 53 menit.

"Setelah menyaksikan peluncuran sukses ICBM tipe baru Hwasong-15, Kim Jong-un mendeklarasikan dengan bangga bahwa sekarang kita sudah berhasil merealisasikan pangkal historis dari pewujudan negara kekuatan nuklir, pangkal pengembangan kekuatan roket," kata pernyataan di televisi.

Korea Utara mengklaim sebagai "kekuatan nuklir yang bertanggung jawab," menyatakan senjata strategisnya dikembangkan untuk mempertahankan diri dari "kebijakan pemerasan imperialis AS dan ancaman nuklir."

Banyak pakar nuklir mengatakan Korea Utara belum membuktikan kemampuannya mengatasi masalah-masalah teknis, termasuk kemampuan mengantarkan hulu ledak besar menggunakan ICBM. Namun, hal itu mungkin akan bisa dicapai dalam waktu dekat.

"Kita tidak mesti menyukainya, tapi kita mesti belajar menerima kemampuan Korea Utara untuk menyasar Amerika Serikat dengan senjata nuklir," kata Jeffrey Lewis, kepala Program Nonproliferasi Asia Timur di Middlebury Institute of Strategic Studies.

Pejabat pemerintah AS, Jepang dan Korea Selatan semuanya sepakat rudal yang jatuh di zona ekonomi eksklusif Jepang itu kemungkinan besar ICBM. Walau demikian, Pentagon menyatakan uji coba itu tidak jadi ancaman bagi Amerika Serikat.

"Rudal itu sungguh terbang lebih tinggi dari yang pernah dilakukan sebelumnya, mereka melakukan sebuah upaya penelitian dan pengembangan untuk melanjutkan pembuatan rudal balistik yang bisa mengancam semua tempat di dunia," kata Menteri Pertahanan James Mattis di Gedung Putih.

Sementara itu, Trump berbicara melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Ketiganya sepakat menegaskan komitmen memerangi ancaman Korea Utara.

"Ini adalah situasi yang akan kita tangani," kata Trump kepada wartawan, sebagaimana dikutip Reuters.



Credit  cnnindonesia.com