Selasa, 28 April 2015

Kekuatan Gempa Nepal Setara dengan Bom Atom


Kekuatan Gempa Nepal Setara dengan Bom Atom  
Sebanyak lebih dari 4.000 orang tewas akibat gempa yang berpusat di sekitar 64 kilometer arah barat laut dari ibu kota Kathmandu yang padat penduduk. (Dok. Istimewa/Nirajan Bom Malla)
 
Jakarta, CB -- Gempa berkekuatan 7,9 SR yang menerjang Nepal pada Sabtu (25/4) disebut-sebut setara dengan kekuatan 20 bom atom.

Diberitakan The Independent, kekuatan gempa Nepal disebut berkali-kali lipat dari kekuatan bom atom yang menghancurkan Kota Hiroshima, Jepang pada Perang Dunia Kedua silam. Hal ini dilihat dari dampak kerusakan yang tidak hanya memorak-porandakan Kathamandu, namun juga wilayah lain di Nepal. Gempa juga memicu longsoran salju di Gunung Everest dan bahkan terasa ke negara-negara tetangga, seperti India, Pakistan, dan Bangladesh.

Gempa kali ini disinyalir merupakan yang terburuk dengan korban jiwa terbanyak di Nepal sejak 80 tahun terakhir.

Setidaknya 4.000 orang tewas sudah dilaporkan akibat gempa yang berpusat di sekitar 64 kilometer arah barat laut dari ibu kota Kathmandu yang padat penduduk.

Situasi dilaporkan lebih buruk di wilayah terpencil di luar Kathmandu. Jalan utama tertutup longsor, akses lain terbatas dan warga hanya bertahan dengan makanan yang bisa mereka temukan tanpa bantuan dari luar.

Pusat gempa terbilang dangkal, hanya dengan 10 km hingga 15 km, yang berarti guncangan yang terasa sangat kuat di permukaan tanah.


Sejumlah gempa susulan juga melanda negara ini beberapa saat setelah gempa utama terjadi. Tercatat, hanya sekitar 30 menit setelah gempa, terjadi gempa susulan sebesar 6,6 SR, dan puluhan gempa lainnya menyusul.

Meskipun gempa susulan berkekuatan lebih kecil, namun kerusakan yang diakibatkan sangat signifikan, utamanya karena pondasi bangunan sudah goyah karena diguncang gempa kuat pertama.

Nepal merupakan negara Himalaya yang rentan terhadap gempa bumi. Hal ini dikarenakan posisinya yang berada di persimpangan dua lempeng tektonik raksasa yang membentuk gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest.

Di Gunung Everest sendiri, sedikitnya 17 orang, termasuk warga asing, tewas akibat longsoran salju yang dipicu gempa. 

Pendakian ke Gunung Everest sering kali disertai dengan berbagai guncangan akibat salah satu lempengan batu raksasa, atau lempeng tektonik India, bergerak ke arah utara dengan kecepatan dua inchi pertahun. Pergerakan ini berlawanan dengan pergerakan lempeng tektonik Eurasia

Tubrukan kedua lempeng raksasa ini menghasilkan gesekan dan energi yang tercipta hingga memecah kerak bumi. Pergerakan inilah yang memicu gempa.

Para pakar menilai gempa di Nepal berisiko lebih buruk. Untungnya, sebagaian besar area yang diguncang gempa berada di atas batuan dasar yang solid, yang dapat mengurangi guncangan.

Gempa menghancurkan banyak bangunan bersejarah, termasuk kuil warisan dunia versi UNESCO di alun-alun Basantapur Durbar dan menara Dharara, keduanya di pusat kota Kathmandu. Sebanyak 250 orang tewas saat Dharara runtuh.

Reuters melaporkan bahwa ribuan warga berusaha meninggalkan Kathmandu baik lewat darat maupun mengantri di bandara udara yang masih tutup, karena takut akan kekurangan makanan dan air bersih.

Banyak dari mereka bermalam di udara terbuka, entah karena trauma akan banyaknya gempa susulan atau karena rumah mereka rata dengan tanah. 


 Credit   CNN Indonesia



Korban Jiwa Nepal Diprediksi Capai 10 Ribu Jiwa


Korban Jiwa Nepal Diprediksi Capai 10 Ribu Jiwa  
Perdana Menteri Nepal Sushil Koirala mengkhawatirkan bahwa korban tewas akibat gempa dapat mencapai 10 ribu orang. (Palani Mohan/Handout via Reuters)
 
 
Jakarta, CB -- Tiga hari pasca gempa berkekuatan 7,9 SR mengguncang Nepal, Perdana Menteri Sushil Koirala mengungkapkan jumlah korban tewas dapat mencapai 10 ribu jiwa.

Dilaporkan Reuters, Koirala menginstruksikan langkah penyelamatan yang intensif, utamanya soal pasokan tenda dan obat-obatan.

"Pemerintah melakukan semua yang kami bisa dalam upaya penyelamatan dan bantuan pada keadaan genting," kata Koirala dikutip dari Reuters, Selasa (28/4).

"Ini adalah tantangan dan masa yang sangat sulit bagi Nepal," kata Koirala melanjutkan.

Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Nepal yang tak ingin disebutkan namanya mengungkapkan hingga saat ini korban tewas mencapai 4.349 jiwa.

Namun, jika korban tewas mencapai 10 ribu jiwa seperti yang diprediksi Koirala maka angka tersebut melebihi korban jiwa akibat gempa besar yang terjadi di Nepal pada 1934 silam, yang menewaskan 8.500 jiwa.


Koirala tengah berada di luar negeri ketika gempa mengguncang Nepal pada Sabtu (25/4). Koirala baru tiba di Nepal pada Minggu (26/4). Semenjak itu, Koirala telah menginstruksikan bantuan kepada para korban.

Namun, bantuan dari pemerintah dirasa lambat sementara korban jiwa terus berjatuhan. Korban luka bertambah menjadi lebih dari 6.500 orang. Sementara di Gunung Everest, sedikitnya 17 orang, termasuk warga asing, tewas akibat longsoran salju yang dipicu gempa.

Koirala mengungkapkan bahwa Nepal saat ini memerlukan bantuan dari luar negeri berupa tenda dan obat-obatan.

Memasuki malam ketiga pasca gempa, penduduk terlihat bermalam di udara terbuka, entah karena trauma akan banyaknya gempa susulan atau karena rumah mereka rata dengan tanah.

"Banyak orang yang tidur di luar rumah karena rumah mereka hancur lantaran tak sanggup bertahan dari puluhan gempa susulan yang melanda negeri," kata Koirala.

"Pemerintah perlu tenda dan banyak obat. Ada lebih dari 7.000 orang terluka. Pengobatan dan perawatan mereka akan menjadi tantangan besar," kata Koirala.

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa ribuan warga berusaha meninggalkan Kathmandu baik lewat darat maupun mengantri di bandara udara yang masih tutup, karena takut akan kekurangan makanan dan air bersih.

Situasi dilaporkan lebih buruk di wilayah terpencil di luar Kathmandu. Jalan utama tertutup longsor, akses lain terbatas dan warga hanya bertahan dengan makanan yang bisa mereka temukan tanpa bantuan dari luar.

Credit  CNN Indonesia