Kamis, 30 April 2015

Filipina euforia oleh "mukjizat" sementara Mary Jane


Filipina euforia oleh
Dua saudara perempuan terpidana mati Mary Jane Veloso berpelukan saat mengetahui saudaranya itu urung dieksekusi mati Rabu dini hari lalu (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria) 
 
 
 
Manila (CB) - Penangguhan eksekusi hukuman mati pada menit-menit terakhir untuk terpidana narkotika Mary Jane Veloso telah memicu curahan euforia sekaligus ketidakpercayaan di Filipina.

Gerombolan manusia menangis bahagia, sedangkan anak-anak Mary Jane menangis lalu  berseru "Mama akan hidup!"

Keluarga Mary Jane Veloso mengatakan doa mereka telah dijawab Tuhan setelah mengetahui ibu berstatus orang tua tunggal berusia 30 tahun itu tidak termasuk daftar orang asing tervonis hukuman mati karena kasus narkoba yang ditembak mati regu tembak tengah malam lalu.

"Mukjizat telah tiba," kata ibunya, Celia, kepada radio Manila dari Indonesia melalui telepon.

Dua anak Mary Jane Veloso yang masing-masing berusia enam dan 12 tahun, yang juga ada di Indonesia dan tadinya hendak menyampaikan perpisahan terakhir kepada ibu mereka, berteriak, "Yes, yes! Mama akan hidup!". Kesaksian ini diutarakan nenek kedua bocah itu.

Pemerintah Presiden Filipina Benigno Aquino mengaku telah membujuk Indonesia bahwa mereka memiliki informasi baru yang diharapkan bisa membuktikan bahwa Mary Jane telah diperalat dan akan digunakan untuk menjerat geng narkotika yang memanfaatkan Mary Jane sebagai kurir narkoba.

"Sebagai bangsa, kita merayakan fakta bahwa Mary Jane hidup," kata sekretaris kabinet Rene Almendras kepada wartawan.

Di luar kedutaan besar Indonesia di Manila, para pendukung larut dalam air mata bahagia dengan saling berpelukan dan mengacungkan tangan terkepal ke udara.

Di kota asal Mary Jane di Cabanatuan, dua jam berkendara dari arah utara Manila, sanak keluarga bernafas lega.

"Ini seperti mukjizat. Kami sangat bergembira. Terpujilah Tuhan," kata bibi Mary Jane, Imelda Magday, kepada televisi lokal.

Pendeta Katolik Filipina Harold Toledano, yang terus mendampingi keluarga, mengatakan bahwa Mary Jane yang bersikukuh dia bukanlah bandar narkoba, tidak pernah kelihatan harapan.

"Ini bagaikan kebangkitan bagi kami. Dia hidup. Ini bagaikan pengalaman mengenal orang yang sudah meninggal dunia dan kemudian bangkit lagi," kata dia kepada AFP di Cilacap, Indonesia, di mana keluarga Mary Jane tetap terjaga.

Menit-menit terakhir

Mary Jane bersikukuh bahwa sebuah geng penyelundup manusia dan narkotika internasional telah memperdayainya dengan mengisikan 2,6 kg heroin ke Indonesia dari Malaysia lima tahun lalu.

Mary Jane selamat dari eksekusi mati setelah orang yang diduga memintanya membawa narkotika tiba-tiba menyerahkan diri ke pihak berwenang di Filipina Selasa kemarin.

Penangguhan sementara membuat media massa Filipina terkejut.  Koran-koran sudah menurunkan headline-headline memuat perpisahan terakhir Mary Jane dan tuduhan bahwa pemerintah telah gagal menyelamatkan Mary Jane.

Sekretaris Kabinet Almendras mengungkapkan tukar menukar panggilan telepon yang panik antara para pejabat Filipina dan Indonesia beberapa jam sebelum eksekusi dilaksanakan yang memaksa Aquino melanggar protokol ketika menelepon Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi.

"Prakarsa saat itu menjadi permainan dari menit ke menit," kata Almendras.

Kendati demikian, secara teoritis eksekusi mati Mary Jane tetap akan dijalankan.

"Kini kami harus bertindak dan membuktikan pada kasus yang kami ajukan bahwa dia adalah korban," kata Almendras sembari mengatakan Manila mendapati "beberapa saksi direkrut secara ilegal" dalam kasus Mary Jane.

Menteri Luar Negeri Albert del Rosario mengatakan pemerintah Filipina akan mengadakan investigasi menyeluruh atas siapa yang bertanggung jawab terhadap viktimisasi Mary Jane".

Menteri Kehakiman Leila de Lima berkata kepada wartawan bahwa dia tengah berbicara dengan para pejabat Indonesia dalam membantu Indonesia mengejar para perekrut Mary Jane.

Mary Jane telah menjadi semacam ikon untuk 10 juta warga biasa Filipina atau sepersepuluh penduduk negeri itu yang bekerja di luar negeri untuk melawan kemiskinan dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan di dalam negeri.

Terlahir dari orang tua pemungut sampah, Mary Jane putus SMA dan menikah dalam usia remaja sebelum bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Dubai pada 2009.

Keluarganya mengungkapkan bahwa dia terpaksa kembali ke Filipina setelah tuannya di Dubai berusaha memperkosa dia.

Dia kemudian direkrut untuk bekerja sebagai pembantu di Indonesia oleh warga Filipina Cristina Sergio, yang dituduh keluarga Mary Jane bekerja untuk geng narkotika untuk menyembunyikan heroin di dalam koper Mary Jane.

Cristina Sergio (47), yang berusaha mencari perlindungan di sebuah kantor polisi di Cabanatuan, mengaku menerima ancaman mati berkaitan dengan tuduhan keluarga Mary Jane, kata Inspektur Polisi Rey de la Cruz.

Dia tidak memiiki catatan kriminal apa pun dan tidak pernah ditahan, kata dia kepada AFP.

Para penyelidik kejahatan terorganisasi telah mengajukan tuduhan perdagangan manusia dan penipuan kepada Cristina Sergio.  Departemen kehakiman diperkirakan akan segera memutuskan akan mengajukan dakwaan di pengadilan.

Credit    ANTARA News