Rabu, 29 April 2015

Tiongkok Minta Myanmar Hentikan Perang di Perbatasan


Tiongkok Minta Myanmar Hentikan Perang di Perbatasan 
 Kelompok pemberontak terbesar di Myanmar adalah Tentara Aliansi Nasional Demokrasi Myanmar (MNDAA) yang dipimpin oleh seorang etnis Tiongkok, Peng Jiasheng. (Reuters/Stringer)
 
Jakarta, CB -- Tiongkok meminta Myanmar untuk tidak bertempur dengan kelompok pemberontak di dekat daerah perbatasan pada Selasa (28/4).

"Sekarang ini, beberapa selongsong peluru dari Myanmar jatuh ke Tiongkok dan menyebabkan kerusakan properti. Untungnya, tidak ada yang terluka atau tewas," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hong Lei, seperti dikutip Reuters.

Hal ini diserukan oleh Tiongkok setelah menahan kegeraman lantaran lima orang tewas akibat bom liar yang jatuh ke Provinsi Yunnan di barat daya Tiongkok saat Myanmar sedang menggempur kelompok pemberontak.

"Tiongkok sudah mengajukan imbauan keras kepada Myanmar dan meminta mereka mengambil langkah efektif untuk mencegah hal ini terulang kembali. Myanmar akan mencoba menahan personel mereka untuk mencegah hal ini terulang lagi," tutur Hong.

Sementara itu, puluhan ribu orang mulai melarikan diri dari Myanmar ke Tiongkok untuk menghindari konflik yang kian memanas di daerah Kokang.

Demi keselamatan bersama, Hong mengatakan bahwa Presiden Xi Jinping telah bertemu dengan Ketua Partai Pembangunan dan Persatuan Solidaritas Myanmar, Shwe Mann, di Beijing pada Senin (27/4).

"Tiongkok berharap partai-partai dapat meredakan suasana secepatnya agar situasi di perbatasan kembali normal," kata Hong.

Kelompok pemberontak terbesar di Myanmar adalah Tentara Aliansi Nasional Demokrasi Myanmar (MNDAA) yang dipimpin oleh seorang etnis Tiongkok, Peng Jiasheng. Juru Bicara MDAA, Tun Myat Lin, mengatakan bahwa mereka akan mengirimkan perwakilan untuk berdiskusi dengan kelompok-kelompok pemberontak kecil lainnya pada Mei mendatang di Pangsan.

Beberapa kelompok etnis bersenjata akan membahas persetujuan gencatan senjata dengan pihak militer pemerintah yang sudah tertunda selama satu tahun. Pemerintah tidak ingin MNDAA terlibat dalam negosiasi tersebut.

MNDAA terbentuk dari sisa Partai Komunis Burma, pasukan pemberontak yang didukung oleh Tiongkok untuk menyerang Myanmar sebelum akhirnya dibubarkan pada 1989. Kelompok ini sempat melakukan gencatan senjata dengan pemerintah pada 2009 lalu, ketika pasukan pemerintah mengambil alih wilayah mereka dalam konflik yang menyebabkan ribuan pengungsi bergeser ke Provinsi Yunnan.


Credit  CNN Indonesia