Senin, 27 April 2015

Para PM Asia Tenggara Menunda Pembahasan Zona Waktu Kawasan

Para PM Asia Tenggara Menunda Pembahasan Zona Waktu Kawasan
Lee Kuan Yew menjadi perdana menteri selama sekitar 30 tahun, dan mengundurkan diri pada 1990. Ia dianggap sebagai arsitek dalam transformasi Singapura menjadi negara makmur di Asia Tenggara. REUTERS/Jason Reed

CB, Jakarta - Para menteri luar negeri Asia Tenggara pada Minggu mengesampingkan proposal soal pembentukan zona waktu bersama untuk kawasan, dengan mengatakan bahwa mereka tidak bisa mencapai kesepakatan soal itu.

Malaysia, yang tahun ini menjadi ketua Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN), telah berupaya menghidupkan lagi ide --yang pada masa lalu pernah diperdebatkan-- agar negara-negara anggota perhimpunan menyerempakkan waktu mereka, lapor AFP.

Saat ini, kesepuluh anggota ASEAN tersebar di empat zona waktu berbeda.

Usulan itu akan membuat kawasan berada delapan jam di depan Greenwich Mean Time, zona waktu yang sama dengan raksasa kawasan, Tiongkok, kata sumber-sumber diplomatik.

Langkah itu diyakini akan membawa keuntungan-keuntungan bisnis karena adanya kesejajaran perdagangan pasar saham dengan jam-jam bank beroperasi.

Namun setelah pertemuan tahunan dengan mitra-mitranya dari ASEAN di Kuala Lumpur, Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman mengatakan bahwa para anggota "memiliki pandangan berbeda soal masalah ini dan pertemuan memutuskan untuk menunda topik ini".

Menteri Luar Negeri Singapura K. Shanmugam mengatakan kepada para wartawan bahwa beberapa anggota ASEAN perlu waktu untuk mencerna ide tersebut dan bahwa penyesuaian-penyesuaian perlu dilakukan.




Credit  TEMPO.CO