Rabu, 29 Juli 2015

Taksonomi Berubah, Harimau Sumatera jadi Harimau Sunda


Taksonomi Berubah, Harimau Sumatera jadi Harimau Sunda  
 Ilustrasi harimau (Thinkstock/MaZiKab)
 
 
Jakarta, CB -- Dunia sains digegerkan oleh penelitian Andreas Wilting dan koleganya dari beberapa lembaga riset di Eropa. Riset mereka menyederhanakan taksonomi harimau, dari sembilan subspesies hanya menjadi dua subspesies di seluruh dunia.

Subspesies harimau yang diakui selama ini adalah: Bali, Jawa, Sumatera, Malaya, Indochina, China Selatan, Benggala, Kaspia, dan Amur. Oleh Wilting dan tim, dalam tulisan ilmiah pada akhir Juni lalu, harimau hanya dibagi ke dalam dua subspesies, yaitu: harimau kontinental dan harimau sunda.

Menurut Wilting, seluruh subspesies harimau yang tersebar di daratan Asia mulai dari Rusia, Timur Tengah, India, China, Indochina, hingga semenanjung Malaysia termasuk harimau kontinental. Sedangkan harimau sunda terdiri dari: harimau sumatera, harimau jawa, dan harimau bali.


Nama ilmiah Panthera tigris tigris, yang selama ini dipakai untuk harimau benggala, diusulkan menjadi nama latin harimau kontinental. Sedangkan harimau sunda diberi nama latin Panthera tigris sondaica. “Sunda di sini bukan mengacu pada wilayah adat di Jawa Barat, melainkan pada kawasan biogeografi mencakup Pulau Sumatera, Jawa, dan Bali,” kata Sunarto, spesialis harimau di WWF Indonesia, rabu (29/7).

Sunarto menilai, studi yang dilakukan Wilting dan timnya tergolong lengkap karena menggabungkan aspek morfologi, genetika, dan ekologi, dalam melakukan klasifikasi. Ketiganya juga dianalisa dengan pendekatan statistik supaya penggolongannya lebih obyektif dan akurat.

Kelebihan lain, kata Sunarto, sampel individu yang dipakai lebih banyak ketimbang model taksonomi sebelumnya.

Hasilnya, selain menyederhanakan taksonomi harimau, studi itu juga mendapati keragaman genetik harimau tergolong rendah dibandingkan satwa lain dalam subfamilia Pantherinae. Subspesies-subspesies yang selama ini dianggap berbeda ternyata memiliki banyak kemiripan karakter, khususnya secara genetika.

“Hal ini diduga, disebabkan oleh adanya fenomena penurunan populasi satwa tersebut secara drastis yang terjadi di akhir era Pleistocene,” ujar Sunarto.

Tapi kontroversi jelas mengikuti. Di antaranya berhubungan dengan kebanggaan suatu wilayah dengan keberadaan harimau di sana. Contohnya, Malaysia yang membanggakan harimau malaya. Belum diketahui apakah Malaysia akan menerima perubahan itu.

Untungnya Indonesia masih memiliki ‘harimau sendiri’ dengan subspesies harimau sunda. Meski ini akan bikin canggung sebab harimau jawa dan bali sendiri sudah punah. “Tapi ini jelas membuat Indonesia harus mengembang amanahnya sendiri,” kata Sunarto. “Kebanggaan harus dibarengi tanggung jawab yang berat.”

Harimau sumatera adalah satu-satunya subspesies yang hidup di Indonesia dan berada dalam kondisi kritis. Harimau bali dan jawa sudah lama disebut punah. Populasi harimau sumatera alias Panthera tigris sumatrae, berdasarkan data 2004, tinggal 400 ekor di alam liar.

Credit  CNN Indonesia