Kamis, 23 Juli 2015

Kompleks Pertahanan Pesisir Bastion Akan Jadi Markas Tentara Rusia

Rusia merupakan negara pertama yang menggunakan sistem misil berbasis darat untuk melindungi wilayah pesisir. Kompleks pertahanan pertama yang dijuluki 'bom terbang' ini terdiri dari sejumlah rudal jelajah yang muncul pada masa Uni Soviet sekitar paruh kedua 1950-an.
Misil memiliki jangkauan 15 – 95 kilometer. Pada tahun 1972, pangkalan militer Krimea mulai menggunakan kompleks misil baru, Utes (Tebing Batu), dengan rudal jelajah antikapal P-35B yang mampu menjangkau target sejauh 300 kilometer, dan versi modifikasi dari sistem pertahanan Progres dengan jangkauan 460 kilometer. Kompleks pertahanan bergerak yang terdiri dari misil-misil tersebut diberi nama Redut (Benteng).
Sistem stasioner ini telah dinonaktifkan sejak lama, namun perubahan situasi politik dan militer saat ini membuat tentara dan pengembang senjata Rusia kembali membahas topik ini.

Tangkis Serangan Nuklir

Kompleks ini juga mampu bertahan dari serangan udara masif, dan bahkan dalam kondisi tertentu bisa bertahan dari serangan nuklir. Hal tersebut karena semua komponen kompleks terlindungi dengan baik di bawah tanah. Kompleks pertahanan ini dapat digunakan dengan segera, tanpa butuh persiapan panjang. Misil bisa disusun pada peluncur yang terletak di silo-silo (bangunan di bawah tanah tempat peluru kendali) yang terlindungi secara maksimal, yang bahkan dapat dibangun di atas tanah berbatu. Selain itu, misil dapat digunakan tanpa perlu diganti atau diservis setidaknya sepuluh tahun.
Bastion-S dapat menyerang target di darat dan tepi laut yang terletak pada jarak setidaknya 300 kilometer. Selain itu, misil ini juga dapat mengarah ke dua lintasan yang berbeda. Lintasan kombinasi (rudal jelajah terbang tinggi kemudian menurun saat mendekati target) membuat misil ini dapat digunakan untuk menyerang target jarak jauh. Pada lintasan berketinggian rendah, jangkauan misil menurun namun kemampuan 'siluman'-nya meningkat secara signifikan. Hal tersebut membuat roket dapat menghindari serangan misil pertahanan musuh. Ia juga dapat melakukan manuver efektif guna menghindari sistem pertahanan udara musuh.
Kompleks Bastion-S biasanya memiliki 36 misil pada satu peluncur. Kompleks ini dapat melindungi garis pantai setidaknya sepanjang 600 kilometer dan menghancurkan segala jenis target musuh di atas air. Bastion-S juga dapat menembak target radio yang berbasis di darat. Itu semua bisa dilakukan oleh Bastion-S, sambil meletuskan tembakan secara intens dan membalas serangan musuh secara elektronik

Bastion = Kematian
Konsep stasioner ini diajukan beberapa tahun lalu oleh perusahaan Rusia-India BrahMos Aerospace yang memproduksi kompleks misil BrahMos, yang dibuat berdasarkan konsep misil Rusia Yakhont. Versi pesisir dan berbasis kapal buatan BrahMos banyak digunakan oleh tentara dan marinir India, sementara Bastion-P milik Rusia bertugas melindungi Krimea, ditempatkan di Laut Hitam, serta telah menjamah Vietnam dan Suriah. Alasan pilihan tersebut jelas, kini misil supersonik kompleks Bastion mampu menghancurkan segala jenis kapal musuh yang berada dalam jarak jangkauan mereka.
Musuh tak dapat kabur, karena setelah misil diluncurkan program serangan kelompok yang unik akan teraktivasi. Misil itu sendiri akan mengalokasikan dan mengklasifikasikan target yang perlu diserang berdasarkan level kepentingannya, termasuk memilih cara penyerangan dan rencana implementasi. Hasilnya, segerombolan misil menyerang dari berbagai arah, dan setelah menghancurkan target utama, roket akan segera melakukan reorientasi ke kapal yang tersisa, tak meninggalkan ruang sedikit pun bagi musuh untuk bertahan.



Credit  RBTH Indonesia