Kamis, 23 Juli 2015

Jenderal Teheran: Iran 100 Kali Lebih Benci pada AS

Jenderal Iran Mohammad Reza Naqdi. (Foto: Al Arabiya)
Jenderal Iran Mohammad Reza Naqdi. (Foto: Al Arabiya)
TEHERAN (CB) - Seorang jenderal Angkatan Bersenjata Iran, Mohammad Reza Naqdi, mencemooh hasil kesepakatan nuklir antara Iran dan enam negara kekuatan dunia. Menurutnya, rakyat Iran yang melihat teks kesepakatan nuklir itu akan 100 kali lebih membenci Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya.
Komentar jenderal Teheran itu muncul di saat Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, meraih banyak simpati atas perjuangannya dalam perundingan nuklir Iran.
”Setiap (warga) Iran yang membaca dokumen (kesepakatan nuklir) di Wina akan 100 kali lebih membenci AS (dari sebelumnya),” kata Jenderal Naqdi, yang dilansir kantor berita Fars, Rabu (22/7/2015).
“Semua paragraf resolusi yang diusulkan AS ke Dewan Keamanan PBB penuh permusuhan terhadap Iran dan menunjukkan dendam mendalam AS terhadap bangsa Iran,” ujarnya. ”AS butuh kesepakatan hanya untuk melegalkan sanksi dan melanjutkan tekanan terhadap Iran,” imbuh dia.
Perundingan nuklir Iran secara maraton telah mencapai kesepakatan di Wina beberapa hari lalu. Kesepakatan nuklir antara Iran dan enam negara kekuatan dunia (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China) berhasil mengakhiri kebuntuan antara Iran dan dunia Barat selama 12 tahun.
Dalam kesepakatan nuklir itu, Iran sepakat mengekang program nuklirnya untuk jangka panjang dengan kompensasi sanksi ekonomi AS dan negara-negara Barat terhadap Iran dicabut secara bertahap.
Sementara itu, Menlu Zarif, yang merupakan kepala negosiator nukir Iran berusaha keras membela kesepakatan nuklir di tengah rentetan kritik dari kelompok garis keras Iran yang sejak awal menentang perundingan nuklir.
”Saya menekankan bahwa negosiasi ini pada dasarnya memberikan (sesuatu) dan mengambil (sesuatu sebagai balasannya), dan kecuali pada tingkat signifikan tuntutan kedua belah pihak tidak terpenuhi,” ujar Zarif ketika menjawab pertanyaan anggota parlemen Iran yang disiarkan stasiun televisi Press TV.


Credit  Okezone