Senin, 02 November 2015

Pesawat Rusia Diduga Terbelah di Udara Mesir


Pesawat Rusia Diduga Terbelah di Udara Mesir Citra satelit lokasi puing pesawat Rusia yang jatuh di Sinai, terserak hingga radius 20 kilometer persegi. (REUTERS/Press Service of Russian Emergencies Ministry/Handout via Reuters)
 
Sinai, CB -- Pesawat Rusia diduga terbelah di udara sebelum jatuh menghantam pegunungan Sinai di Mesir Sabtu lalu. Belum diketahui apa penyebab kecelakaan dan penyelidikan bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan.

Pemerintah Rusia untuk sementara ini memerintahkan maskapai Kogalymavia untuk tidak menerbangkan lagi pesawat Airbus A321 sampai hasil penyelidikan keluar. Insiden ini menewaskan 224 penumpang dan kru, termasuk sekitar 25 anak-anak, penyebabnya belum diketahui.


Pesawat dengan merek dagang Metrojet itu tengah membawa para wisatawan dari penginapan Laut Merah di kota Sham el-Sheikh menuju St Petersburg saat tiba-tiba hilang dari radar setelah menukik jatuh.

Viktor Sorochenko, direktur Komisi Penerbangan Antarpemerintah menduga pesawat terbelah di udara karena puing-puingnya tersebar hingga radius yang luas. "Bencana terjadi di udara dan pecahan pesawat tersebar di wilayah seluas 20 kilometer persegi," kata Sorochenko.

Namun dia mewanti-wanti untuk tidak mengambil kesimpulan terlalu cepat karena penyelidikan masih dilakukan. Klaim ISIS yang mengaku menjatuhkan pesawat tersebut dibantah pemerintah Rusia.

Ahli dari Mesir tengah menyelidiki isi dari dua rekaman kotak hitam yang ditemukan di antara puing-puing. Penyelidikan kotak hitam diperkirakan akan memakan waktu hingga berhari-hari.

Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengatakan butuh berbulan-bulan untuk menemukan penyebab pasti kecelakaan. Mesir dan Rusia saat ini bergabung dalam penyelidikan tersebut.

"Ini adalah masalah yang rumit dan membutuhkan teknologi canggih dan penyelidikan yang luas, bisa memakan waktu berbulan-bulan," kata Sisi dalam wawancara televisi.

Sementara itu di Bandara Pulkovo, St Peterburg, keluarga korban meletakkan karangan bunga. Lilin-lilin dinyalakan, membentuk tulisan 7K-9268, nomor penerbangan pesawat nahas tersebut.

Maskapai dari Uni United Arab , Qatar, Bahrain dan Kuwait mengatakan mereka akan menghindari rute Sinai demi keamanan sampai ada keterangan jelas penyebab kecelakaan. Maskapai Etihad Airways dari Abu Dhabi masih akan mengambil rute tersebut, namun menghindari beberapa wilayah yang disarankan pemerintah Mesir.

Pesawat A321 dalam kecelakaan itu telah beroperasi sejak tahun 1994 dan memiliki catatan keamanan yang baik. Pesawat jenis yang digunakan dalam 1.100 operasi penerbangan di seluruh dunia ini memiliki sistem komputer otomatis yang memudahkan pilot berada di batas aman penerbangan.

Pihak Airbus mengatakan pesawat naas tersebut dibangun tahun 1997 dan dioperasikan oleh Metrojet sejak 2012. Pesawat itu telah memiliki 56 ribu jam terbang dalam 21 ribu penerbangan.

Pesawat berangkat dari Kairo pukul 5.51 waktu setempat dan hilang dari radar 23 menit kemudian. Pesawat berada dalam ketinggian 31 ribu kaki saat tidak lagi terdeteksi menara pengawas.

Situs penerbangan FlightRadar24 mengutip otoritas pelacakan penerbangan Swedia mengatakan, 7K-9268 menukik tajam dengan kecepatan 1.800 meter per menit dengan sinyal yang sudah mati ke menara pengawas.

Credit  CNN Indonesia


Penyelidik Pesawat Rusia: Masalah Bermula dari Bahan Bakar


Penyelidik Pesawat Rusia: Masalah Bermula dari Bahan Bakar  
Ilustrasi pesawat. (Thinkstock/cookelma) 
 
Jakarta, CB -- Kantor berita RIA melaporkan Komite Investigasi Rusia, Sabtu (31/11) menyatakan jatuhnya pesawat Rusia di Mesir berawal dari penghentian terakhir saat  pengecekan sampel dan  pengisian bahan bakar.


Seperti diberitakan sebelumya pesawat KGL-9268 dari maskapai Kogalymavia yang berbasis di Siberia hilang kontak dengan menara pengawas saat terbang menuju St Petersburg, Rusia, dari Sharm El-Sheikh, Mesir.

Mengutip Reuters, sebelum terbang pesawat itu melakukan pengecekan dan pengisian bahan bakar di kota Samara, Rusia.

Juru bicara komite investigasi Vladimir Markin juga mengatakan sedang menginterogasi beberapa orang yang terlibat persiapan pesawat. Markin dan krunya membawa penyelidikan ini ke bandaa Moscow Domodedovo, basis pesawat tersebut.

Sebelumnya komite tersebut sudah menyatakan akan mempidanakan maskapai pemilik pesawat itu dengan tuduhan pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam penerbangan.

Sebelumny penyelidikan awal dari kasus pesawat jatuh ini menunjukkan ada kesalahan teknis, demikian pernyataan sumber di Sinai Utara.

Sekitar  150 jenazah dalam kondisi hangus ditemukan sekitar 5 kilometer dari tubuh pesawat. Pesawat yang membawa 224 penumpang itu sempat terbang vertikal, yang menyebabkan sebagian besar bagian pesawat terbakar.


Credit  CNN Indonesia