Senin, 22 April 2019

Serangan Udara Kembali Guncang Tripoli, Situasi Memanas


Serangan Udara Kembali Guncang Tripoli, Situasi Memanas
Ilustrasi serangan udara. Serangan udara kembali guncang Tripoli, Libya, yang memicu tensi semakin memanas dan perlawanan balasan. (AFP PHOTO / MAHMUD HAMS)




Jakarta, CB -- Sejumlah serangan udara dan ledakan mengguncang ibu kota Libya, Tripoli, pada Sabtu (20/4) malam. Hal ini meningkatkan tensi perang saudara yang terjadi selama dua minggu terakhir di kota tersebut.

Seorang jurnalis Reuters dan sejumlah warga Tripoli mengatakan mereka melihat sebuah pesawat berputar-putar selama lebih dari 10 menit di atas kota tersebut pada Sabtu tengah malam.

Pesawat itu pula membuat suara berdengung sebelum menembaki sejumlah wilayah di Tripoli.


Sebuah pesawat kembali terdengar di langit Tripoli lewat tengah malam, berputar selama lebih dari sepuluh menit sebelum kemudian ledakan besar terjadi di darat.


Tidak jelas serangan tersebut disebabkan oleh pesawat berawak atau bukan. Namun hal tersebut menyebabkan serangan balasan.

Warga melaporkan serangan drone telah terjadi selama beberapa hari terakhir, namun belum ada konfirmasi soal hal itu sedangkan kini beberapa ledakan terdengar lebih keras terjadi di pusat kota.

Masyarakat juga menghitung telah terjadi beberapa kali serangan rudal. Salah satunya serangan tersebut diduga mengenai pasukan yang setia kepada pemerintah di distrik Sabaa, selatan dari Tripoli.

Pihak berwenang juga menutup satu-satunya bandara yang berfungsi sehingga memutus jalur udara ke kota berpenduduk 2,5 juta tersebut. Namun bandara di Misrata, 200 kilometer dari Tripoli, masih dibuka.


Tentara Nasional Libya (LNA) yang berpihak kepada Khalifa Haftar dikabarkan saat ini belum dapat menembus pertahanan selatan milik pemerintah.

Bila sebuah serangan drone benar terkonfirmasi, maka konflik ini masuk ke perang yang lebih canggih. LNA sebagian besar saat ini menggunakan jet tua buatan Uni Soviet.

Menurut warga dan sejumlah sumber militer, pesawat tua tersebut berasal dari angkatan udara Muammar Gaddafi yang tumbang pada 2011. Alat tempur itu pun tak memiliki daya tembak yang presisi.

Serangan ini menjadi insiden selanjutnya setelah tindakan serupa terjadi pada Selasa (16/4) tengah malam.

Sejak dua pekan lalu, dua poros politik di Libya berseteru, yaitu prajurit pro-pemerintah yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa, GNA, dan pasukan Panglima Khalifa Haftar selaku pendukung pemerintahan di Benghazi.

Pertikaian bermula ketika Haftar mengerahkan LNA untuk menguasai Tripoli dengan bantuan pasukan pemerintah Benghazi. Pasukan pro-GNA pun menggelar operasi Gunung Api Amarah untuk melawan.

Haftar selama ini dianggap sebagai sosok diktator baru pengganti mendiang Khadaffi yang meninggal ditembak pemberontak, setelah tertangkap saat melarikan diri di gorong-gorong.

Selama empat dasawarsa, rezim Khadaffi menyiksa, membunuh dan menghilangkan paksa para penentang dan lawan politiknya. Meski demikian, Haftar menyatakan memusuhi kelompok bersenjata dan militan. 




Credit  cnnindonesia.com