Senin, 22 April 2019

LNA: Kelompok al-Nusra Dikirim dari Turki Gabung Perang di Tripoli


LNA: Kelompok al-Nusra Dikirim dari Turki Gabung Perang di Tripoli
Para demonstran Libya beraksi mengecam serangan LNA loyalis Jenderal Khalfa Haftar di Tripoli. Foto/REUTERS/Ahmed Jadallah

TRIPOLI - Tentara Nasional Libya (LNA) loyalis Jenderal Khalifa Haftar mengungkap keterlibatan kelompok militan al-Nusra dalam pertempuran di Tripoli. Padahal, kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda itu selama ini dikenal bertempur di Suriah.

LNA, yang berbasis di wilayah timur Libya, sedang berupaya menaklukkan wilayah Tripoli yang dikendalikan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB. GNA disokong sejumlah kelompok militan di sekitar Tripoli yang oleh LNA dianggap sebagai kelompok teroris.

Juru bicara LNA, Brigadir Ahmed al-Mesmari, mengatakan bahwa anggota front al-Nusra dikirim dari Turki ke Libya untuk bergabung dalam pertempuran di Tripoli. Pernyataan itu muncul dalam konferensi pada hari Jumat.

"LNA memerangi negara-negara yang mendukung para teroris," kata al-Mesmari. "Dan Pemerintah Kesepakatan Nasional mengancam para diplomat dan duta besar untuk kudeta terhadap LNA," ujarnya.

Al-Mesmari juga mengatakan sebanyak 14 teroris bersenjata telah tewas ketika melakukan serangan di pangkalan Tamanhant. Menurutnya, para penyerang gagal mencapai jantung pangkalan, yang sebenarnya tidak lagi digunakan untuk tujuan militer.

"Kami berkomitmen pada aturan konflik dan hukum humaniter," kata al-Mesmari, yang menambahkan bahwa prioritas mereka terletak pada menjaga kehidupan warga sipil dan properti mereka.

Pihak GNA belum berkomentar terkait klaim keterlibatan kelompok al-Nusra dalam konflik di Ibu Kota Libya tersebut.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah berbicara melalui telepon dengan Jenderal Haftar di tengah serangan militer LNA untuk merebut Tripoli dari GNA.

"Trump dan Haftar berbicara untuk membahas upaya kontraterorisme yang sedang berlangsung untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di Libya," kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Reuters, Sabtu (20/4/2019).

Percakapan telepon itu diketahui berlangsung pada hari Senin lalu. "Trump mengakui peran penting Field Marshal Haftar dalam memerangi terorisme dan mengamankan sumber daya minyak Libya, dan keduanya membahas visi bersama untuk transisi Libya ke sistem politik demokratis yang stabil," lanjut Gedung Putih.

Tidak jelas mengapa Gedung Putih menunggu beberapa hari untuk mengumumkan adanya percakapan telepon tersebut. 




Credit  sindonews.com