Selasa, 23 April 2019

Meraba Jejak NTJ di Balik Teror Bom Sri Lanka


Meraba Jejak NTJ di Balik Teror Bom Sri Lanka
Gereja yang menjadi sasaran serangan bom di Negombo, Sri Lanka. (REUTERS/Stringer)



Jakarta, CB -- Kelompok Jemaah Tauhid Nasional (NTJ) mencuat dalam rangkaian serangan teror bom di Sri Lanka, yang merenggut hampir 300 orang. Namun, banyak orang yang meragukan kemampuan organisasi ini menggelar aksi teror.

Dikutip CNNIndonesia.com dari berbagai sumber, Selasa (23/4), pemerintah Sri Lanka yang pertama kali menyatakan NTJ sebagai dalang di balik aksi teror yang melukai hampir 500 orang itu pada perayaan Paskah. Bahkan, salah satu pentolan organisasi itu, Zahran Hashim, disebut sebagai salah satu pelaku bom bunuh diri.

Tidak banyak yang diketahui dari NTJ, baik dari struktur lembaga hingga jumlah anggotanya. Laporan intelijen Sri Lanka menyatakan mereka mulai tumbuh sejak 2016, dipimpin ustaz Muhammad Zaharan. Maka wajar jika banyak pihak curiga mereka dibantu oleh pihak lain untuk beraksi.


Mereka diduga adalah pecahan dari kelompok Jemaah Tauhid Sri Lanka (SLTJ), yang bercorak garis keras dan berbasis di wilayah Kattakundy, di pesisir timur. Namun, mereka menyangkal terlibat dalam aksi teror itu, dan justru menentang sepak terjang NTJ.


Akan tetapi, Sekretaris SLTJ, Abdul Razik, bolak-balik masuk penjara. Penyebabnya adalah ceramahnya dianggap memicu kebencian. Di sisi lain, sejumlah warga Muslim Sri Lanka disebut menjadi pengikut kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Kelompok NTJ diduga kuat adalah dalang perusakan patung-patung Buddha di kuil di distrik Kegalle, tiga tahun lalu. Setelah itu mereka seolah hilang ditelan bumi.

Di awal 2019, aparat Sri Lanka mencium benih-benih radikalisme mulai bergeliat. Hal itu terbukti setelah mereka menangkap empat warga Muslim karena menyimpan 100 kilogram bahan peledak berdaya tinggi dan 100 alat picu (detonator).

Pakar ekstremisme pada Institute for Strategic Dialogue bermarkas di London, Inggris, Amarnath Amarasingam, masih ragu dengan kemampuan kelompok setempat menggelar serangan teror. Sebab, peristiwa kemarin menurut dia sangat terukur. Apalagi ketika menyinggung soal kemampuan mereka merakit bom.


"Dari pemilihan sasaran dan gaya serangan saya tidak yakin mereka melakukannya tanpa bantuan pihak luar. Tidak ada alasan kelompok ekstremis setempat menyerang gereja, apalagi turis," ujar Amarasingam.

Menurut analis kontra terorisme asal Texas, Amerika Serikat, Scott Stewart, serangan teror pada akhir pekan lalu bisa dianggap sebagai pekerjaan profesional. Sebab menurut dia, aksi teror yang dilakukan kelompok radikal yang tumbuh tanpa bantuan asing biasanya punya tingkat kegagalan tertentu. Entah bomnya tidak meledak atau daya ledaknya tidak sebesar yang diharapkan.

Bara Terpendam

Penduduk Sri Lanka yang mayoritas etnis Sinhala memeluk Buddha dan Nasrani. Sedangkan masyarakat Tamil yang minoritas memeluk Islam, Hindu dan Nasrani.

Bara perselisihan di antara mereka memang terjadi. Salah satu persoalan utamanya adalah dugaan ketidakadilan dan pemaksaan kelompok mayoritas terhadap minoritas. Pemerintah yang didominasi etnis Sinhala ingin menjadikan Sri Lanka negara bercorak Buddha. Namun, hal itu ditentang oleh kelompok minoritas.

Masing-masing dari mereka mempunyai kelompok garis keras, yang membuat pertikaian semakin meruncing. Di sisi lain, Sri Lanka baru satu dasawarsa mengakhiri perang sipil antara pemerintah dan pemberontak Pembebasan Macan Tamil (LTTE).

LTTE ingin mendirikan negara khusus etnis Tamil yang mayoritas memeluk Hindu. Konflik berakhir ketika pemimpin LTTE, Vellupillai Prabhakaran, meninggal dalam pertempuran pada 2009.

Meski dikoyak konflik, jejak kekerasan kelompok radikal dengan simbol agama nyaris tidak pernah terdengar dari sana. Serangan-serangan bom di masa perang sipil pun tidak pernah menargetkan tempat ibadah.





Credit  cnnindonesia.com