Senin, 22 April 2019

Lubang Hitam Supermasif Sebabkan Bumi Kiamat? Ini Kata Pakar ITB



Ilmuwan ungkap foto lubang hitam pertama dalam sejarah. Kredit: Harvard Gazette
Ilmuwan ungkap foto lubang hitam pertama dalam sejarah. Kredit: Harvard Gazette

CB, Jakarta - Citra perdana lubang hitam atau black hole di pusat galaksi Messier 87 (M87) baru-baru ini menunjukkan besaran massanya hingga 6,5 miliar kali massa matahari.
Lubang hitam misterius itu diketahui bisa menyedot benda apa pun seperti gas, cahaya, hingga planet. Apakah bumi juga bisa terhisap dan terjadi kiamat?

Lubang hitam di pusat galaksi M87 berjarak 55 juta tahun cahaya. Astrofisikawan Institut Teknologi Bandung Premana W. Premadi mengatakan, black hole punya keterbatasan impak. “Semakin jauh suatu benda dari black hole semakin kecil pengaruhnya,” kata dosen ITB ini, Senin, 15 April 2019.

Galaksi Bima Sakti tempat bumi berputar juga punya lubang hitam di inti galaksinya. Tapi menurut Premana tidak secara aktif menarik massa di sekitarnya. “Black hole itu fenomena yang sangat lokal, jadi dia bukan sesuatu yang menarik massa sampai jauh tak terbatas,” ujarnya.
Buktinya bisa disaksikan dari citra perdana black hole di pusat galaksi M87. Di sekitar lubang hitam terpancar cahaya yang menunjukkan cahaya itu tidak jatuh terhisap ke dalam lubang hitam.
”Jadi itu menunjukkan bahwa black hole tak sanggup menarik semuanya. Ada jangkauan gaya gravitasi itu,” kata Premana.
Sebenarnya matahari dan planet-planet yang mengorbit ikut mengitari black hole di pusat galaksi. “Tapi tenang-tenang saja karena jangkauan gravitasi itu ada batasnya,” ujarnya.

Hal sama diungkapkan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin. Ia mengatakan, lubang hitam ada banyak di luar angkasa. Termasuk di pusat galaksi Bima Sakti. Namun daya sedot black hole itu terbatas sehingga obyek yang jauh tidak mungkin terhisap lubang hitam.
“Jadi lubang hitam tidak terkait dengan mekanisme kiamat yang menghancurkan seluruh alam,” ujar profesor riset astronomi dan astrofisika itu. 





Credit  tempo.co